Oleh Afrianus Juang, Mahasiswa IFTK Ledalero

MEMBACA merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap manusia agar dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar, baik dengan sesama manusia, maupun dengan berbagai pemikiran yang diwariskan oleh generasi terdahulu melalui tulisan-tulisan yang ada sampai saat ini.

Aktif membaca, seseorang tidak hanya mengenal informasi baru, tetapi juga belajar memahami sudut pandang, nilai, dan pengalaman hidup orang lain.

Membaca memperkaya pengetahuan dan pemahaman kita. Oleh karena itu, membaca bukan sekadar kegiatan melihat huruf dan merangkainya menjadi kata atau kalimat, melainkan proses menginternalisasi makna dari setiap tulisan yang tergores dalam bacaan kita.

Apa yang dibaca seharusnya masuk ke dalam diri, dipahami secara mendalam, direfleksikan, lalu diolah menjadi pengetahuan dan kebijaksanaan yang dapat digunakan untuk kehidupan selanjutnya.

Proses membaca “Buku” menuntut konsentrasi dan kesabaran untuk membuka halaman demi halaman. Setiap kata, kalimat, dan paragraf perlu dicerna dengan teliti agar maknanya tidak terlewatkan. Kadang seseorang perlu membaca ulang sebuah bagian dari satu tulisan agar benar-benar memahami maksud penulis.

Dalam kegiatan membaca seharusnya terjadi dialog batin antara pembaca dan teks, antara pembaca dengan penulis teks dan antara pembaca dengan kebudayaan atau konteks dimana teks itu ditulis.

Pembaca harus mampu menentukan sikap terhadap tulisan yang dibaca menerimanya, mengkritisinya, bahkan kadang tidak setuju dengan gagasan yang ditemuinya.

Di situlah letak kekayaan membaca: ia bukan kegiatan pasif, melainkan aktivitas aktif yang melibatkan pikiran dan perasaan dari pembaca itu sendiri.

Membaca dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Banyak orang beranggapan bahwa membaca hanya dapat dilakukan di perpustakaan atau lingkungan sekolah. Pandangan ini sedikit keliru, membaca dapat dilakukan di rumah, di sekolah, bahkan di kendaraan umum, seseorang dapat meluangkan waktu untuk membaca. Bagi sebagian orang, membaca telah menjadi bagian dari rutinitas harian yang tak terpisahkan. Ada yang merasa ada kekosongan ketika sehari saja tidak menyentuh buku atau bacaan lain. Kebiasaan ini membentuk karakter, memperluas wawasan, dan melatih kemampuan berpikir kritis. Membaca bukan lagi kewajiban, melainkan kebutuhan.

BACA JUGA :  Sinjai Tanpa Master Plan Kota!

Melewatkan satu hari tanpa membaca akan menjadi hari yang tidak lengkap.

Namun, kita hidup di era digital yang serba cepat. Perkembangan teknologi menghadirkan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi dan bacaan-bacaan. Dengan satu sentuhan jari, kita dapat membaca berita dari berbagai belahan dunia, mengunduh buku elektronik, atau mencari penjelasan tentang suatu topik dalam hitungan detik. Media sosial pun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Hampir setiap orang memiliki akun media sosial dan aktif membagikan berbagai aktivitasnya. Ruang digital telah menjadi panggung tempat orang menampilkan diri, membangun citra, dan menunjukkan eksistensi.

Dalam konteks inilah, kegiatan membaca buku atau tulisan lainnya mengalami pergeseran makan. Salah satu fenomena yang muncul adalah kebiasaan “jepret buku”, yaitu memotret halaman atau bagian tertentu dari buku lalu mengunggahnya ke media sosial. Biasanya, bagian yang dipotret adalah kutipan yang dianggap menarik, inspiratif, atau bernilai filosofis. Unggahan tersebut sering kali disertai dengan keterangan singkat atau opini pribadi. Fenomena ini adalah fenomena yang dapat membuat aktivitas membaca mengalami pergeseran makan.

Realitasnya dapat dipandang secara positif.

Unggahan tentang buku dapat menjadi bentuk promosi literasi. Seseorang yang melihat foto kutipan menarik mungkin terdorong untuk mencari dan membaca buku tersebut secara utuh. Media sosial, dalam hal ini, dapat menjadi sarana berbagi inspirasi dan memperluas minat baca. Diskusi tentang buku pun dapat tumbuh di kolom komentar, menciptakan ruang percakapan yang sehat dan membangun.

BACA JUGA :  Camat Herlang Sambangi Kades Desa Pataro, Bahas Dua Isu Strategi

Namun, di sisi lain, fenomena “jepret buku” juga menyimpan persoalan yang harus segera diselsaikan. Tidak jarang, aktivitas tersebut dilakukan semata-mata untuk membangun citra diri. Buku yang difoto menjadi simbol intelektualitas, seolah-olah dengan menampilkan bacaan tertentu seseorang telah menunjukkan kedalaman berpikirnya.

Dalam beberapa kasus, orang hanya membaca sepintas atau bahkan tidak membaca keseluruhan isi buku tersebut. Mereka memilih bagian yang tampak menarik atau terdengar cerdas, lalu membagikannya tanpa benar-benar memahami konteksnya. Tindakan ini dapat mengaburkan makna terdalam dari membaca itu sendiri. Fenomena jepret buku” membuat membaca bukan lagi kegiatan internalisasi melainkan menjadi ajang pamer di media sosial.

Kecenderungan ini mencerminkan budaya instan yang semakin kuat di era digital. Segala sesuatu ingin dilakukan dengan cepat, termasuk dalam hal membaca. Padahal, membaca yang bermakna memerlukan waktu dan ketekunan atau dengan kata lain diperlukan etos akademik yang tinggi. Ketika membaca direduksi menjadi sekadar aktivitas visual untuk dipamerkan, esensinya perlahan memudar. Buku bukan lagi sarana pembelajaran, melainkan properti untuk memperindah tampilan media sosial. Lebih jauh lagi, kebiasaan memotret dan membagikan kutipan tanpa pemahaman yang utuh dapat menimbulkan kesalahpahaman. Sebuah kalimat yang dilepaskan dari konteksnya bisa memiliki arti yang berbeda dari maksud penulis. Tanpa pembacaan menyeluruh, pesan yang disampaikan dapat terdistorsi. Akibatnya, bukan pengetahuan yang diperoleh, melainkan kesan dangkal yang hanya bertahan sesaat.

Pada dasarnya, tujuan membaca adalah untuk dimengerti dan dijadikan sebagai bahan pembelajaran dalam kehidupan. Membaca memperkaya batin, menumbuhkan empati, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Nilai ini tidak dapat digantikan oleh sekadar unggahan foto. Media sosial seharusnya menjadi sarana pendukung, bukan tujuan utama. Jika seseorang membagikan bacaan karena ingin berbagi inspirasi dan berdiskusi, tentu hal itu patut diapresiasi. Namun, jika dilakukan hanya demi pengakuan dan pencitraan, maka makna membaca menjadi tereduksi.

BACA JUGA :  Sudah Tujuh Tahun Kami Bergerak, Tak Ada Sesuatu yang Membuat Kami Kuat

Fenomena “jepret buku” yang marak belakangan ini sudah seharusnya kita hadapi dengan kritis. Kita tidak menolak kecenderungan ini, tetapi sebagai agen perubahan bangsa, kita dituntut untuk tidak hanya menjepret buku lalu diposting melainkan harus lebih daripada itu yaitu memahami maksud dari tulisan yang dibaca. Ketika membaca dilakukan dengan sungguh-sungguh, hasilnya akan terlihat dalam cara seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak—bukan hanya dalam unggahan di layar.

Saya melihat langsung dinamika ini di tengah arus digital yang serba cepat, kita diajak untuk kembali pada hakikat membaca.

Membaca adalah kegiatan intelektual yang memerlukan ketekunan dan etos akademik dalam menjalankannya.

Jika fenomena jepret buku hanya digunakan sebagai bahan konten yang hambar, lebih baik dihentikan.

Saya sepakat dengan organ “Perpustakaan Nasional”, Membaca bukan supaya dilihat orang, tetapi membacalah agar kita memiliki pengetahuan dan pemahaman yang dalam tentang tulisan yang dibaca.

Berkontribusi dalam penulisan artikel ini adalah Afrianus Juang, Kota Maumere, Nusa Tenggara Timur, Selasa 31 Maret 2026.

Punya tulisan menarik, penting dan bermanfaat, silakan kirimkan Tim InsertRakyat.com. 

Dapatkan berita penting dan menarik melalui Platform digital, whatsapp channe , Facebook, Tiktok, YouTube, X & Instagram  “INSERTRAKYAT.com“, apapun beritanya “Fakta Bicara Rakyat Menilai”

 

⚡ WhatsApp Insertrakyat

Informasi, komunitas & layanan pembaca

GRUP WHATSAPP
▶ Gabung Grup Diskusi
SALURAN WHATSAPP
▶ Ikuti Saluran Resmi
KONTAK ADMIN
▶ Hubungi Admin
● ONLINE • 0813-5481-214