Oleh Muhammad Subhan

SETIAP kali bertemu orang baru saya sering ditanya: “Kerja di mana?” Saya katakan tidak bekerja di mana-mana, hanya penulis. Ketika saya sebut kata “penulis”, air mukanya agak berubah.

Barangkali, profesi penulis belum cukup populer sebagai sebuah pekerjaan, sehingga sebagian orang mengira penulis hanya sekadar menyalurkan hobi.

Kawan saya yang juga seorang dosen terbang di sebuah perguruan tinggi ternama di Malaysia suatu hari bertanya dengan penuh selidik, “Memang bisa hidup dari menulis?”

Saya jawab dengan lemah lembut: “Bisa, sebab sampai saat ini saya masih hidup.” Sambil ngopi bareng kawan itu, kami bergelak tawa.

Pertanyaannya, bagaimana seorang penulis hidup dan bertahan di dunia antah-berantah kepenulisan yang hari ini sedang tidak baik-baik saja?

Ini pertanyaan yang membutuhkan jawaban serius, tentunya. Mari kita bahas pelan-pelan.

Hari ini, menjadi penulis bukan lagi sekadar urusan bakat dan idealisme, melainkan soal ketahanan hidup di tengah perubahan ekosistem yang bergerak cepat dan sering kali tak ramah.

Dunia perbukuan mengalami pergeseran besar. Cara orang membaca berubah, cara buku diproduksi berubah, dan cara penulis bertahan pun mau tak mau ikut berubah.

Jika tidak, penulis akan tertinggal, atau memilih berhenti diam-diam, kemudian terlupakan, atau dilupakan.

BACA JUGA :  "Padangpanjang 999", Membaca Tubuh Ingatan Penyair Sulaiman Juned

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang. Penulis tidak bisa lagi memosisikan diri semata-mata sebagai “penulis buku”, melainkan sebagai pekerja gagasan. Di era digital, buku bukan satu-satunya produk; ia hanya salah satu wahana.

Gagasan dapat hidup dalam berbagai bentuk tulisan (esai, puisi, cerpen, novel yang dipublikasikan secara digital selain buku cetak), modul pelatihan, naskah diskusi, kurasi, hingga konten media sosial. Medium boleh berubah, tetapi suara dan integritas harus tetap dijaga.

Penulis yang bertahan adalah mereka yang lentur berpindah medium tanpa kehilangan nilai.

Namun, kelenturan saja tidak cukup. Penulis juga harus berani menerima kenyataan pahit bahwa royalti buku hari ini tak lagi bisa diandalkan. Cetakan sedikit, distribusi timpang, dan buku cepat tenggelam adalah fakta yang tak perlu diratapi berlebihan.

Justru dari sini penulis perlu menyusun strategi: menjadikan buku sebagai modal reputasi, bukan satu-satunya sumber nafkah.

Buku membuka jalan ke peluang-peluang lain: undangan diskusi, pelatihan, kurasi, residensi, proyek penulisan khusus, hingga hibah kebudayaan dan literasi. Dalam konteks ini, buku adalah “kartu nama intelektual”. Ia bekerja pelan, tetapi berdampak panjang.

Selanjutnya, penulis perlu membangun ekosistem pribadi. Bukan sekadar menumpuk karya, melainkan merawat hubungan dengan pembaca. Penulis yang bertahan biasanya memiliki pembaca setia, meski tidak banyak; jejak digital yang konsisten; serta topik khas yang mudah dikenali.

BACA JUGA :  Istilah Penting dalam Jurnalistik

Tidak perlu hadir di semua platform. Cukup satu atau dua kanal utama, lalu diisi secara teratur dengan tulisan pendek, refleksi, atau potongan proses kreatif.

Di zaman serba viral, konsistensi dan kedalaman jauh lebih berharga daripada sorak sesaat.

Lebih baik lima ratus pembaca setia daripada seratus ribu orang yang hanya lewat.

Di tengah pasar buku yang sesak, suara khas menjadi penentu. Yang dicari bukan lagi siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling jujur, punya pengalaman konkret, dan berani mengambil posisi.

Penulis perlu bertanya pada dirinya sendiri: isu apa yang paling ia kuasai secara batin, dari sudut mana ia berbicara, dan apa yang hanya bisa ia tulis—bukan orang lain.

Penulis tanpa posisi akan tenggelam. Penulis dengan suara akan dicari, meski pelan.

Bertahan juga menuntut keterbukaan pada kerja kolaboratif dan lintas disiplin. Penulis hari ini tak bisa terus menyendiri. Ia perlu bekerja dengan komunitas, masuk ke proyek kolektif, terlibat dalam pendidikan, kebudayaan, pariwisata, arsip, dan sejarah lokal. Dari sana lahir buku berbasis komunitas, antologi tematik, kerja editor, kurator, mentor, hingga pengolahan cerita lokal menjadi naskah, pameran, atau pertunjukan.

BACA JUGA :  "Padangpanjang 999", Membaca Tubuh Ingatan Penyair Sulaiman Juned

Penulis yang menyendiri akan cepat lelah; penulis yang berjejaring akan lebih panjang napasnya.

Tentu saja, semua itu menuntut keberanian belajar hal baru. Memahami dasar promosi, algoritma secukupnya, dan cara mengemas karya bukanlah bentuk menjual diri, melainkan ikhtiar agar gagasan tidak mati sia-sia.

Martabat penulis bukan terletak pada sikap anti-teknologi, melainkan pada kesetiaan pada nilai, meski medium berubah.

Bertahan sebagai penulis juga soal mental dan etika. Penulis harus siap hidup sederhana, siap kurang diapresiasi, dan siap dilupakan sementara.

Membandingkan diri dengan penulis viral hanya akan melelahkan.

Ukuran sukses perlu diubah: dari sorak sesaat menjadi keberlanjutan. Tetap membaca, menulis, dan berpikir jernih, itulah maraton panjang yang harus dijalani.

Di era ini, yang bertahan bukan yang paling hebat, melainkan yang paling tekun, paling lentur, dan paling setia pada panggilan batinnya.

Jika Anda masih menulis meski tulisan tidak laku, tidak viral, dan tidak dipuji, itu pertanda Anda bukan sekadar ingin menjadi penulis. Anda memang penulis.