Oleh Muhammad Subhan
SALAH satu sumber kebahagiaan adalah melihat orang lain menemukan kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan yang lahir dari jerih payah, dari keringat yang tak selalu terlihat, dan dari pintu-pintu yang sebelumnya tertutup rapat.
Itulah yang saya rasakan ketika sebuah video tentang dua perempuan kembar Tuli melintas di lini masa media sosial. Mereka adalah Hasna Alifah Salsabila dan Hasni Alifah Salsabila.
Dalam video yang viral itu, keduanya membagikan kabar bahwa mereka diterima bekerja di Matahari Department Store, salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia. Hasni ditempatkan di gerai Festival Citylink, sementara Hasna bekerja di Bandung Indah Plaza (BIP).
Dua lokasi berbeda, satu komitmen yang sama, membuktikan bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk berkarya.
Kisah keduanya segera mengundang simpati dan rasa haru publik.
Namun, jika ditarik lebih dalam, ini bukan sekadar cerita mengharukan. Ini adalah narasi tentang keadilan sosial yang mulai menemukan bentuknya; tentang bagaimana dunia kerja, perlahan tetapi pasti, belajar membuka ruang bagi mereka yang selama ini berada di tepi.
Selama bertahun-tahun, sektor ritel kerap dianggap sulit diakses oleh rekan Tuli. Intensitas komunikasi dengan pelanggan dinilai menuntut kemampuan verbal yang tinggi. Namun, Hasna dan Hasni mematahkan asumsi itu.
Melalui bahasa isyarat, kemampuan membaca gerak bibir, bantuan teknologi, serta keramahan yang tulus, mereka menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu harus berbunyi. Kadang, ia cukup dipahami.
Keberhasilan mereka tentu bukan hadiah belas kasihan. Di balik penerimaan kerja itu, ada proses panjang: pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), latihan wawancara kerja, membangun kepercayaan diri, dan keberanian menghadapi kemungkinan ditolak.
Mereka mempersiapkan diri seperti pelamar lainnya, dengan tekad yang mungkin justru lebih kuat karena harus melawan stigma.
Di sinilah letak pesan kemanusiaannya. Keterbatasan fisik bukan akhir dari segalanya. Yang sering kali membatasi bukan tubuh, melainkan cara pandang masyarakat. Kita terlalu lama memosisikan penyandang disabilitas sebagai objek simpati, bukan subjek yang memiliki hak, kompetensi, dan martabat yang setara.
Sejak 2023, Matahari menghadirkan program “Teman Difabel” yang membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Dalam program tersebut, karyawan difabel mendapatkan pelatihan, seragam, kartu identitas, serta pendampingan dari rekan kerja (buddy). Kebijakan berbasis empati ini bukan sekadar formalitas administrasi. Ia adalah pernyataan sikap bahwa bakat tidak dibatasi oleh kondisi fisik.
Dalam pernyataan resminya seperti yang beredar di media massa, manajemen perusahaan menegaskan bahwa Hasna dan Hasni lolos karena kualifikasi dan semangat mereka selama proses seleksi. Kalimat itu penting: diterima karena layak, bukan karena dikasihani.
Di tengah budaya kerja yang masih sering meminggirkan kelompok rentan, pengakuan semacam ini memiliki bobot moral yang besar.
Langkah menempatkan keduanya di lokasi berbeda juga menarik dicermati. Di satu sisi, mereka tetap berada dalam payung perusahaan yang sama. Di sisi lain, mereka dilatih untuk mandiri sebagai individu, bukan hanya sebagai “si kembar Tuli” yang selalu bersama. Ini strategi yang bukan saja inklusif, tetapi juga memberdayakan.
Kisah ini menyimpan setidaknya tiga pelajaran penting. Pertama, kesetaraan kesempatan itu nyata ketika ada kemauan dari pemangku kebijakan. Dunia usaha memiliki peran strategis dalam menciptakan pasar kerja yang adil. Tanpa keberanian perusahaan membuka ruang, talenta-talenta seperti Hasna dan Hasni mungkin tetap tersembunyi.
Kedua, dukungan lingkungan sangat menentukan. Tidak ada keberhasilan yang benar-benar berdiri sendiri. Di belakang mereka, tentu ada keluarga, guru, dan komunitas yang sejak awal menanamkan keyakinan bahwa mereka mampu. Keyakinan itulah yang sering kali menjadi fondasi paling kokoh.
Ketiga, masyarakat perlu bergeser dari rasa iba menuju rasa hormat. Disabilitas bukan tragedi pribadi, melainkan bagian dari keragaman manusia. Yang perlu disesuaikan bukan manusianya, melainkan sistem sosial dan dunia kerja agar lebih ramah dan aksesibel.
Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam hal inklusivitas. Banyak penyandang disabilitas yang berpendidikan dan kompeten masih kesulitan memperoleh pekerjaan layak. Stigma, kurangnya akses, serta minimnya adaptasi di tempat kerja menjadi penghalang yang tidak kasatmata, tetapi nyata dampaknya.
Karena itu, kisah Hasna dan Hasni tidak boleh berhenti sebagai konten viral yang menghangatkan hati selama beberapa hari. Ia harus menjadi momentum refleksi: sudahkah kita, sebagai masyarakat, benar-benar memberi ruang? Sudahkah institusi pendidikan menyiapkan kurikulum yang ramah difabel? Sudahkah perusahaan-perusahaan lain berani mengikuti jejak inklusif ini?
Dalam salah satu video, keduanya berharap kisah mereka dapat menjadi motivasi bagi seluruh sahabat Tuli di Indonesia untuk tetap semangat. Harapan itu sederhana, tetapi mengandung pesan yang dalam.
Mereka tidak hanya bekerja untuk diri sendiri, tetapi juga sedang membuka pintu bagi orang lain yang memiliki kondisi serupa.
Kehadiran Hasna dan Hasni di koridor ritel yang sibuk adalah tamparan lembut bagi prasangka kita selama ini. Mereka mengingatkan bahwa keadilan bukan berarti memberikan bantuan karena rasa kasihan, melainkan merubuhkan tembok penghalang agar setiap orang bisa berdiri di garis start yang sama. Dan, Hasna-Hasni telah membuktikan itu.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, Insertrakyat.com






















