Oleh Muhammad Subhan

SAYA tersentuh dan terenyuh menyaksikan rentetan video pendek yang berseliweran di lini masa media sosial belakangan ini. Video itu memotret fragmen kehidupan seekor bayi monyet yang ditolak oleh induk kandungnya sendiri.

Bayi sekecil itu, di usia yang seharusnya masih meringkuk dalam dekapan hangat, terpaksa menelan pahitnya penolakan dan memilih “ibu buatan” berupa boneka orang utan sebagai sandaran hidup.

Punch, nama bayi monyet makaka Jepang itu. Ia lahir pada 26 Juli 2025. Konon, di tengah musim panas yang terik ekstrem, sang induk mengalami trauma persalinan pertama sehingga ia enggan, bahkan menolak untuk menyentuh darah dagingnya sendiri.

Di titik inilah, takdir Punch berubah.

Tanpa air susu dan kehangatan pelukan alami, nyawanya berada di ujung tanduk. Petugas Kebun Binatang Ichikawa Jepang akhirnya mengambil langkah darurat memisahkan Punch dari kelompoknya untuk dirawat secara intensif oleh tangan-tangan manusia.

Namun, primata bukan sekadar makhluk biologis yang butuh makan. Naluri alami bayi monyet adalah mencengkeram bulu induknya untuk melatih otot dan mencari ketenangan batin. Kehilangan sosok ibu membuat Punch gelisah luar biasa. Hingga akhirnya, sebuah boneka orang utan menjadi pilihan hatinya.

Mengapa boneka itu? Menurut petugas kebun binatang di sana, tekstur bulu boneka memudahkan Punch untuk berpegangan dan memberinya rasa aman semu yang sangat ia dambakan.

Pemandangan Punch membawa “ibunya” ke mana pun ia pergi, memeluknya saat berjalan, bahkan meringkuk erat di atas bulu sintetis itu hingga tertidur lelap, adalah sebuah pemandangan yang menyayat hati. Namun, kisah ini melampaui batas-batas dunia fauna.

Saat menatap mata Punch yang nanar, pikiran saya terbang jauh melampaui pagar kebun binatang di Jepang itu. Saya teringat pada anak-anak manusia yang bernasib serupa.

Kisah Punch adalah metafora yang benderang bagi realitas sosial di sekitar kita. Di jalanan kota-kota besar, di panti asuhan yang sesak, hingga di sudut-sudut kumuh yang terabaikan, ada ribuan “Punch” dalam wujud manusia. Mereka adalah anak-anak yatim, piatu, atau mereka yang secara biologis memiliki orang tua namun secara emosional “terlantar” atau “ditelantarkan”.

Sama seperti Punch yang mencari kenyamanan pada boneka, anak-anak yang kehilangan kasih sayang orang tua sering kali harus mencari “pegangan” pada apa pun yang tersedia di hadapan mereka. Jika tak mendapat “orang tua pengganti” yang tepat, ada yang mencari pelarian pada pergaulan bebas, ada yang terjerembap dalam kerasnya kehidupan jalanan, dan ada pula yang tumbuh dengan lubang di hati yang tak pernah benar-benar tertutup.

Seorang ahli primata mengatakan bahwa pada akhirnya, Punch tetap membutuhkan sosok ibu yang hidup dan penuh kasih sayang. Begitu pun anak manusia.

Boneka atau fasilitas materi mungkin bisa memberikan keamanan fisik sementara, namun ia tidak bisa memberikan pertukaran energi kasih sayang, nasihat, dan bimbingan moral yang dibutuhkan untuk tumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Kisah Punch menjadi kian tragis saat ia mulai dikenalkan kembali ke kelompoknya. Sebuah video menunjukkan Punch diseret dengan kasar oleh monyet dewasa lainnya. Ia menjerit ketakutan, lalu berlari sekencang mungkin lalu bersembunyi di balik bebatuan hanya untuk kembali memeluk bonekanya, satu-satunya “benteng” yang ia miliki di dunia yang keras dan asing ini.

Bukankah ini serupa dengan nasib anak-anak terlantar di masyarakat kita? Mereka yang tumbuh tanpa perlindungan orang tua sering kali menjadi sasaran empuk perundungan (bullying) dan diskriminasi sosial. Mereka dipaksa menjadi tangguh sebelum waktunya.

Pihak kebun binatang menyebut Punch sebagai sosok yang “positif dan cepat bangkit”, namun kita tahu, ketangguhan itu lahir dari ketiadaan pilihan. Seorang anak yang tidak memiliki sandaran rumah akan dipaksa oleh keadaan untuk mengeraskan hatinya agar bisa bertahan hidup.

Melihat Punch adalah melihat kewajiban kita sebagai manusia.

Kepedulian kepada sesama makhluk, baik itu hewan apalagi sesama manusia, adalah inti dari keberadaban. Jika dunia bisa menangis melihat seekor monyet kecil memeluk boneka, seharusnya dunia juga bisa lebih peduli pada nasib anak-anak yang kehilangan haknya untuk dicintai.

Tolehkanlah mata kita sejenak ke G4za, Palestin4, misalnya. Betapa di sana banyak anak-anak yang kehilangan orang tua, membutuhkan kasih sayang tetapi kehidupan mereka direnggut perang yang kejam.

Tentu, anak-anak yatim, piatu, dan mereka yang terlantar tidak butuh sekadar “boneka” berupa bantuan uang sesaat. Mereka butuh ekosistem yang aman, nyaman, peduli, lingkungan yang tidak merundung, dan tangan-tangan yang bersedia menjadi “ibu” bagi masa depan mereka.

Kepedulian atas nama kemanusiaan menuntut kita untuk tidak membiarkan satu pun anak manusia merasa sendirian di tengah keramaian dunia.

Punch telah memberi tahu kita satu hal bahwa rasa aman adalah kebutuhan dasar setiap makhluk.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk kembali menengok ke dalam rumah, ke samping tetangga, ke jalanan, dan ke negeri-negeri yang belum sepenuhnya merdeka. Masih adakah “anak-anak” manusia yang sedang menjerit mencari pelukan, namun hanya menemukan dinginnya aspal, reruntuhan gedung, atau bisunya dinding kota?

Jangan sampai kita hanya mampu bersimpati pada video viral di layar ponsel, namun abai pada tangis nyata di depan mata.

Kemanusiaan sejati tidak diuji dari seberapa banyak kita menonton video sedih, tetapi dari seberapa besar tindakan nyata kita untuk merangkul mereka yang kehilangan pegangan.

Kita harus sadar bahwa setiap anak adalah titipan yang menagih tanggung jawab, bukan beban yang bisa dilepaskan begitu saja. Jika kita membiarkan mereka tumbuh hanya dengan memeluk “boneka-boneka” hampa kehidupan, maka kita sedang mempersiapkan masa depan yang kering akan empati dan penuh dengan luka yang terpendam.

Mari jadikan kisah Punch sebagai tamparan bagi nurani. Kepedulian kita adalah satu-satunya jembatan yang mampu menghubungkan anak-anak yang terasing ini kembali ke pelukan hangat kemanusiaan. Sebab, tidak ada satu pun makhluk yang layak dihukum dengan kesepian, apalagi mereka yang baru saja mulai mengeja arti kehidupan.

 

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis