Dialog mengusung tema “Bersama Bangkit Meraih Asa di Tahun 2026”, diikuti 30 peserta dari berbagai unsur masyarakat, termasuk perwakilan Kejaksaan Negeri, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, LSM, kaum difabel, tukang becak, juru parkir, dan awak media.
Berbagai isu strategis dibahas, seperti perhatian kepada kaum marjinal dan penyandang disabilitas, profesionalisme juru parkir, penertiban gelandangan dan pengemis, kesiapsiagaan bencana, serta peningkatan citra aparat penegak hukum.
Kompol Saharuddin menegaskan pelayanan Polri humanis dan responsif, mengajak warga memanfaatkan Bhabinkamtibmas di kelurahan masing-masing. “Jangan takut lapor polisi. Gunakan Call Center 110, setiap aduan akan kami respon cepat. Personel kami juga patroli malam hingga pagi untuk menjaga rasa aman,” tegasnya.
Wakapolres menghimbau masyarakat menjadi “polisi bagi diri sendiri dan keluarga”, menjauhi minuman keras, dan menekankan hak setara seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas, untuk mengakses bantuan kepolisian.
Ketua LSM FPU Kota Parepare, H. Abdul Rahman Saleh, menegaskan polisi harus menjadi pihak pertama yang dihubungi masyarakat saat masalah muncul, mencontoh praktik di Irlandia dan Jepang. Ia berharap Polri terus memberikan pelayanan cepat sesuai Tribrata dan Catur Prasetya.
Dialog diakhiri doa sekitar pukul 11.40 Wita, dengan situasi aman dan kondusif sepanjang kegiatan.






















