SURABAYA, Insertrakyat.com – Ustadz Abdul Somad meneguhkan pondasi ikhlas dalam dakwah Nafi Unnas di Masjid Al Akbar Surabaya, Jawa Timur, akhir pekan baru – baru ini.  Lebih jelasnya pesan tersebut ia sampaikan dalam forum keilmuan yang menitikberatkan pada keteguhan niat, konsistensi pengabdian, serta kemurnian tujuan dalam aktivitas dakwah dan pendidikan Islam di lingkungan akademik dan sosial.

Dalam penyampaiannya, Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan konsep ketahanan spiritual dengan pendekatan analogi bangunan. Ia menguraikan bahwa setiap bangunan memiliki lapisan yang berbeda, namun tidak semua lapisan memiliki peran yang sama dalam menjaga kekokohan struktur.

UAS menyampaikan bahwa elemen visual seperti cat dan ornamen hanya menampilkan sisi luar bangunan. Ia kemudian menjelaskan bahwa kekuatan utama justru bertumpu pada pondasi yang tertanam di dalam tanah dan tidak terlihat secara langsung oleh mata manusia.

Melalui penjelasan tersebut, UAS mengaitkan konsep pondasi dengan keikhlasan dalam dakwah. Ia menggambarkan bahwa seorang dai perlu membangun keteguhan batin yang tidak bergantung pada pujian maupun pengakuan sosial, tetapi berlandaskan tanggung jawab spiritual.

Ustadz Nafi’ Unnas, yang berperan sebagai akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya dan pembimbing ibadah umroh di Jawa Timur, menerima pesan tersebut dalam konteks penguatan peran profesionalnya. Aktivitasnya di bidang pendidikan dan pelayanan jamaah menjadi ruang implementasi nilai-nilai yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Dalam penjelasannya, UAS mengurai dinamika dakwah modern yang sering bersinggungan dengan tuntutan eksistensi publik. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku dakwah untuk beradaptasi dengan ruang sosial digital yang serba terbuka.

UAS kemudian mengarahkan pemahaman pada pentingnya menjaga orientasi pengabdian agar tetap berpusat pada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa setiap amal dakwah harus dijalankan dengan kesadaran spiritual yang tidak bergantung pada penilaian manusia.

Menanggapi hal itu, Ustadz Nafi’ Unnas menyatakan bahwa pesan tersebut memperkuat landasan etis dalam menjalankan tugas akademik dan dakwah. Ia menyebut bahwa prinsip kerja dalam ketenangan dan tanpa orientasi popularitas menjadi bagian dari proses pembentukan integritas seorang pendidik dan dai.

Secara kelembagaan, pertemuan tersebut memperlihatkan interaksi antara otoritas keilmuan Islam dan praktisi pendidikan dalam satu ruang dialog keagamaan. Interaksi ini memperkuat kesinambungan nilai pesantren, perguruan tinggi, dan pelayanan umat di Jawa Timur.

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Akbar Surabaya tersebut ditutup dengan refleksi bersama mengenai pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap aktivitas pengabdian. Nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman moral bagi para pendidik, dai, serta pelayan jamaah umroh di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Hingga berita ini online pada Rabu (22/4) perkembangan informasi terkait kegiatan tersebut masih menjadi perhatian kalangan akademisi dan penggiat dakwah di Surabaya dan sekitarnya.

(Refit). Follow Berita InsertRakyat di facebook