Oleh: Afri Juang, Mahasiswa

LIBURAN tiga tahun yang lalu saya mengikuti satu upacara adat di Kampung Mondo, Kelurahan Ulung Baras, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Kampung Mondo ini terdiri dari 20-an kepala keluarga, jumlah warga yang tinggal tetap sekitar 100 orang saja, sedangkan yang lain berada di tempat sekolah, tanah perantauan, dan lain-lain. Kampung ini hanya memiliki satu mata air yaitu Wae Rii (Air alang-alang). Setiap bulan Juni–Desember masyarakat Kampung Mondo mengalami kekurangan air bersih. Pada situasi ini, mereka harus membeli air dengan harga Rp 200.000,00 per fiber atau mereka merelakan waktu untuk menunggu air di Wae Rii karena debitnya yang sangat kecil. Biasanya satu hari hanya bisa menghasilkan sekitar 50 liter saja. Bahkan pada bulan Oktober–Desember kadang kering sama sekali.

Saya mengikuti upacara rinang wae bersama warga sekampung. Upacara rinang wae sendiri adalah upacara syukur atas air yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia, terkhusus bagi warga Kampung Mondo. Upacara ini diyakini oleh masyarakat Kampung Mondo dapat menjaga keharmonisan dengan pemilik sekaligus penjaga mata air yang biasa disebut darat. Upacara rinang wae adalah upacara rutin yang dilakukan oleh warga Kampung Mondo setiap tahunnya di satu-satunya sumber air kampung, yaitu Wae Rii (Air alang-alang). Biasanya upacara ini dibuat pada bulan Juni atau Juli saat hujan mulai jarang turun. Tujuan dilaksanakan pada bulan ini adalah agar air tetap mengalir saat musim kemarau tiba nanti. Upacara ini dimulai dengan memberi sesajian kepada nenek moyang di mata air, kemudian dilanjutkan membersihkan bak penampung air yang digali secara swadaya oleh masyarakat setempat, lalu biasanya diakhiri dengan menanam pohon di dekat mata air.

Saya sangat tertarik dengan aksi menanam pohon yang biasanya dilakukan di akhir upacara. Bagi saya, ini adalah bentuk kesadaran dari masyarakat setempat akan pentingnya lingkungan hidup. Tindakan mereka tidak hanya sebatas pada upacara adat, melainkan dilanjutkan dengan aksi nyata. Rupanya mereka paham bahwa upacara tanpa aksi nyata tidak akan berarti apa-apa. Pohon yang ditanam diharapkan tumbuh dan membuat debit air semakin besar dari hari ke hari. Biasanya pohon yang ditanam adalah pohon yang berpotensi menampung air saat musim hujan, seperti beringin dan beberapa jenis pohon lainnya. Tindakan menanam pohon ini juga merupakan bentuk harapan masyarakat setempat akan keberlanjutan hidup manusia, terlebih generasi muda Kampung Mondo. Bagi saya, masyarakat Mondo telah melaksanakan prinsip “teori tanpa praktik adalah sia-sia”.

Upacara ini biasanya menghabiskan waktu seharian. Ibu-ibu menyiapkan makanan untuk dimakan bersama, sedangkan bapak-bapak sibuk membersihkan bak air, dan anak muda bertugas untuk membuat kolo (nasi bambu) serta kesibukan lainnya. Upacara ini harus dilaksanakan secara bersama-sama, paling tidak setiap kepala keluarga mengutus satu orang atau lebih bila berhalangan. Tujuannya agar kekompakan di Kampung Mondo selalu terjaga.

Inti dari upacara ini adalah untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta atas rahmat kehidupan yang diberikan melalui air yang terpancar dari mata air Wae Rii. Kepada warga setempat, Bapa Frans Ropas (63) sebagai tetua di Kampung Mondo selalu mengingatkan generasi muda untuk terus melanjutkan hal ini dari generasi ke generasi. Sebab upacara ini adalah bentuk kepedulian yang nyata terhadap lingkungan. Alam telah memberi kita kehidupan, maka kita patut menghargai alam dan merawatnya dengan cara-cara yang sederhana.

Follow Berita Insert Rakyat di whatsapp channel