BANDA ACEH, INSERTRAKYAT.COM — Pemerintah Aceh resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana selama 14 hari ke depan menyusul meluasnya dampak bencana hidrometeorologi yang melanda hampir seluruh wilayah provinsi. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi bersama Gubernur Aceh dan jajaran terkait, dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan serta akses wilayah yang belum sepenuhnya pulih.
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, menyebutkan bencana kali ini memiliki cakupan sangat luas, menjangkau 18 kabupaten/kota. “Skala bencana ini besar dan merata. Karena itu, pemerintah sepakat memperpanjang status tanggap darurat selama empat belas hari,” ujar Nasir.
Perpanjangan status darurat berlaku hingga 25 Desember 2025. Dalam periode tersebut, pemerintah memfokuskan langkah pada penanganan darurat, sebelum beralih ke tahap pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana. Nasir menambahkan, Pemerintah Aceh juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan seluruh prosedur administratif penetapan darurat berjalan sesuai ketentuan.
Meski sebagian wilayah terdampak kini mulai dapat diakses, kawasan tengah Aceh masih menjadi tantangan terbesar bagi tim penanganan bencana. Daerah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues dilaporkan masih sulit dijangkau akibat medan berat, kerusakan jembatan, serta cuaca yang belum bersahabat.
“Wilayah tengah itu yang paling berat. Akses terbatas, jembatan terputus, dan cuaca tidak menentu. Namun upaya terus dilakukan agar bantuan bisa menembus daerah-daerah tersebut,” kata Nasir.
Ia memastikan Basarnas, TNI/Polri, BNPB, relawan, serta berbagai lembaga kemanusiaan tetap bergerak menuju lokasi-lokasi terisolir. Selain jalur darat, distribusi logistik juga diperkuat melalui operasi udara untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi.
“Memang ada kendala di lapangan, tetapi secara umum logistik masih bisa kita sampaikan. Bantuan sudah masuk ke pos-pos kabupaten/kota dan langsung ke kantong pengungsian,” ujarnya.
Nasir menekankan bahwa koordinasi lintas lembaga menjadi kunci utama agar distribusi bantuan tidak terhenti. Pemerintah Aceh, kata dia, terus memperkuat stok logistik dan memastikan masyarakat di wilayah terisolir tetap terlayani.
Dengan potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlanjut, Pemerintah Aceh mengandalkan kerja terpadu seluruh instansi untuk menjaga keselamatan warga serta memastikan penanganan bencana berjalan konsisten hingga masa tanggap darurat berakhir.






















