Oleh: Supriadi Buraerah
(Jurnalis, Penulis Buku “Hijrah”)
Di negeri– Indonesia bersatu, doa tidak hanya bermuara dari mimbar masjid atau ruang pengajian serta ibu yang penuh kasih. Kadang doa juga hadir dari ruang-ruang birokrasi, dari layar ponsel, dari pesan-pesan singkat yang sederhana, namun esensinya tetap mengandung getar makna yang dalam. Begitulah rangkaian pesan pagi yang berulang kali telah disampaikan oleh Irjen Pol (Purn), Sang Made Mahendra, Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Itjen Kemendagri) melalui rangkaian singkat. Beliau juga adalah Mantan Gubernur Bali –Pati Polri terbaik.
“Semoga hal-hal baik datang dari segala arah, aktivitas lancar, membahagiakan dan sukses.”
Kalimat yang diutarakan oleh Sang Made ini, jika dibaca sepintas, tampak biasa. Namun jika direnungkan, sebenarnya adalah doa universal. Doa untuk semua manusia, tanpa sekat jabatan, tanpa dinding kekuasaan. Ia tidak memilih siapa yang kaya atau miskin, siapa pejabat atau rakyat kecil. Ia mengalir untuk siapa pun yang bernapas hari ini.
Hidup bukan soal siapa yang paling tinggi berdiri, tetapi siapa yang paling mampu menghidupkan kebermanfaatan. Pesan-pesan pagi tadi, tidak memerintah, tidak menggurui, tidak menekan bahkan tidak memukul Nurani, justru sebaliknya menumbuhkan rasa syukur dan kebeningan hati. Ia mengingatkan bahwa hidup harus dimulai dari syukur yang tinggi tanpa mematikan kerendahan hati, dilanjutkan dengan ikhtiar.
“Hari ini dan seterusnya kita bersyukur dan optimis meraih lebih banyak kebermanfaatan untuk diri dan sesama.”
Lebih dalam lagi,
“Setiap amanah adalah kesempatan, setiap ujian adalah jalan naik kelas.”
Inilah tangga kehidupan yang luhur. Bahwa hidup bukan tentang nyaman atau tidak nyaman, melainkan tentang bertumbuh atau tidak bertumbuh. Dan setiap ujian hidup, idealnya dipandang sebagai sebagai proses pematangan jiwa. Demikian pula “Amanah” sebaiknya tidak dianggap beban, tetapi sebagai kehormatan dalam proses bertumbuh.
Di tengah bangsa yang sering gaduh oleh konflik, hoaks, dan pertarungan kepentingan, pesan-pesan semacam ini menjadi pembilas kesadaran publik.Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus keras, tidak selalu harus berjarak, tidak selalu harus dingin. Kekuasaan juga bisa berwajah hangat, berbahasa doa, dan bernapas kemanusiaan. Prinsip Indonesia merangkul bukan menunggu dipukul lalu memukul balik adalah wajah yang menjadi impian banyak negeri.
Sebagai jurnalis, saya memahami bahwa ini bukan sekadar pesan pribadi. Ini adalah simbol. Simbol bahwa birokrasi pun bisa menjadi ruang spiritual. Bahwa negara pun bisa menghadirkan keteduhan, bukan hanya regulasi. Bahwa pejabat pun bisa menjadi sumber energi batin, bukan sekadar pusat kekuasaan.
Dalam kehidupan manusia, yang paling kita butuhkan bukan hanya hukum yang tegas, tetapi juga hati yang hidup. Bukan hanya sistem yang kuat, tetapi juga nilai yang menyejukkan. Karena bangsa besar tidak hanya dibangun oleh aturan, tetapi oleh kesadaran moral dan demokrasi.
Semoga hal-hal baik benar-benar datang dari segala arah.
Untuk negeri ini.
Untuk rakyatnya.
Untuk kemanusiaannya –(Sang Made Mahendra – Maret 2026).
Ikuti Saluran WhatsApp Insertrakyat.com melalui ChannelWA





















