“Sawahlunto bertransformasi dari kota tambang menjadi destinasi literasi sejarah UNESCO melalui narasi warga dan kegiatan Forum Pegiat Literasi menjaga ingatan kota tetap hidup.”


SEINGAT saya, pertama kali saya menjejakkan kaki di kota tambang Sawahlunto sekitar tahun 2002. Kala itu saya masih wartawan muda.

Saat itu saya bekerja di sebuah koran mingguan di Padang. Pemrednya wartawan senior Sumatra Barat, Asroel BB.

Pak Asroel—demikian saya akrab menyapanya—menunjukkan kepada saya bagaimana cara mewawancarai narasumber. Saya perhatikan caranya berpakaian, berjalan, bersalaman, duduk, hingga mengajukan pertanyaan.

Pak Asroel selalu membawa buku catatan di sakunya, lengkap dengan pena, alat perekam, lalu berbincang santai dengan narasumber yang didatangi, layaknya dua kawan yang asyik ngobrol.

Saya masih sangat “mentah” saat itu. Saya baru belajar memahami bagaimana wartawan berburu berita, menulisnya, lalu membaca hasilnya keesokan hari setelah disentuh tangan dingin redaktur.

Kesan pertama saya terhadap Sawahlunto kala itu adalah kota yang beraroma mistis. Bangunan-bangunan tuanya menyimpan misteri dan kisah getir. Tidak sedikit cerita horor yang saya dengar dari orang-orang yang saya temui.

Itulah memori saya, jauh sebelum Sawahlunto ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada 6 Juli 2019 dengan nama Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto.

Kini, puluhan tahun berlalu. Pada Rabu malam, 1 April 2026, saya memenuhi undangan Forum Pegiat Literasi Sawahlunto bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Sumatra Barat, via Zoom Meetings. Dalam diskusi tersebut, turut menjadi narasumber jurnalis senior Yurnaldi Paduka Raja dan peneliti Prof. Dr. Erwiza Erman. Hadir pula Jumaidi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Sumbar) sebagai pembicara kunci, dengan Indra Yosef D. moderator yang juga Ketua Forum Pegiat Literasi Sawahlunto.

BACA JUGA :  Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Diskusi diikuti lebih seratus penulis dari berbagai daerah. Saya memantik diskusi dengan memaparkan tema “Narasi Kota: Bagaimana Sebuah Kota Diceritakan.”

Sebenarnya, dalam perjalanan pulang puluhan tahun silam, saya sudah merasa bahwa kota “seperti kuali” ini suatu hari akan menjadi magnet pariwisata yang kuat. Potensi sejarahnya terlalu besar untuk diabaikan.

Dugaan itu kini menemukan bentuknya.

Sawahlunto yang pernah dijuluki “kota mati” telah bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah yang diperhitungkan. Ia memayungi lebih dari seratus cagar budaya, termasuk Lubang Mbah Suro sebagai bagian dari tambang batu bara tertua di Asia Tenggara.

Namun, muncul sebuah pertanyaan krusial, apakah Sawahlunto hanya akan dikenang sebagai objek wisata, atau juga sebagai ruang ingatan?

Di sinilah pentingnya sebuah “narasi kota”.

Kota bukan sekadar kumpulan bangunan, jalan, dan lampu lalu lintas. Ia adalah ruang pengalaman. Di atas trotoar yang sama, seorang pedagang mengais rezeki, pelajar mengejar mimpi, gelandangan menahan lapar, dan pejabat melintas tanpa menoleh.

Satu ruang fisik memuat berlapis-lapis pergulatan hidup.

Tanpa cerita, kota hanyalah sebuah peta. Dengan cerita, kota menjadi kehidupan.

Setiap kota menyimpan ingatan. Bangunan tua menyimpan sejarah kolonial, pasar merekam denyut ekonomi rakyat, dan taman kota menjadi saksi pertemuan sekaligus perpisahan.

Jika tidak diceritakan, semua itu perlahan akan lekang. Sejarah dilupakan, identitas memudar, dan generasi baru kehilangan akar. Karena itu, menceritakan kota adalah cara merawat ingatan sekaligus upaya melawan lupa.

BACA JUGA :  Ondeh Mandeh, Asyiknya Mengunjungi Destinasi Wisata Literasi di Perpustakaan

Namun, narasi kota tidak pernah netral. Ia sangat ditentukan oleh siapa yang bercerita.

Jika hanya penguasa yang berbicara, kota akan tampak selalu tertib dan maju. Jika hanya investor yang bersuara, kota semata-mata menjadi peluang ekonomi.

Namun, jika warga, mulai dari kaum perempuan, pekerja informal, hingga anak-anak pinggiran, ikut bersuara, wajah kota akan menjadi lebih utuh dan jujur. Terlebih jika narasi itu lahir dari tangan para penulis yang terbiasa mengabadikan peristiwa.

Dalam konteks Sawahlunto, narasi menjadi semakin vital karena kota ini lahir dari sejarah yang kompleks. Ia bukan sekadar kota tambang, melainkan ruang produksi kolonial, laboratorium sosial, sekaligus saksi bisu penderitaan manusia.

Kita tidak boleh mengabaikan kisah “orang rantai”. Orang rantai adalah pekerja paksa yang didatangkan dari berbagai daerah oleh kolonial Belanda, kaki mereka dirantai, dan dipaksa bekerja dalam kondisi ekstrem.

Kemajuan industri masa itu dibangun di atas keringat dan penderitaan mereka. Jika narasi ini dihapus demi kepentingan estetika semata, Sawahlunto hanya akan tampil sebagai kota eksotis tanpa kesadaran sejarah.

Di sisi lain, Sawahlunto adalah kota perjumpaan. Para pekerja datang dari Jawa, Bali, Batak, Minangkabau, hingga etnis Tionghoa. Dari pertemuan itulah lahir identitas yang beragam.

Kota ini adalah bukti bahwa peradaban dibangun dari persilangan budaya, bukan keseragaman.

Hari ini, pengakuan UNESCO menegaskan posisi penting Sawahlunto dalam sejarah industri global. Namun, pengakuan itu membawa tantangan, apakah sejarah akan dijaga sebagai ruang refleksi, atau sekadar dijual sebagai komoditas wisata?

Di sinilah literasi memainkan peran kunci.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kecakapan memahami, menafsirkan, dan mengungkapkan kembali realitas.

BACA JUGA :  Rayakan 29 Tahun Berkarya, Kuflet Gelar “Tur Literasi Sumatera” ke Provinsi Jambi

Ia adalah mesin pembentuk narasi kota. Pengalaman diolah menjadi cerita, peristiwa menjadi ingatan, dan perubahan menjadi sejarah.

Tanpa literasi, kota menjadi bisu. Ia tetap ada secara fisik, tetapi tanpa jiwa dan ruh. Sebaliknya, dengan literasi, kota “berbicara”. Jalan-jalan memiliki kisah, bangunan memiliki sejarah, dan masyarakat memiliki suara.

Peran ini tidak hanya diemban oleh individu, tetapi juga oleh komunitas.

Forum Pegiat Literasi Sawahlunto, misalnya, menjadi ruang di mana warga diajak menulis dan mendokumentasikan kotanya. Dari kegiatan kolektif inilah lahir narasi yang menjaga kota tetap hidup.

Tentu tantangan tetap ada.

Narasi kota kerap didominasi oleh kepentingan branding pariwisata. Akibatnya, banyak cerita lokal tidak terdokumentasi dan generasi muda semakin berjarak dari akarnya.

Jika ini dibiarkan, kota akan tampak indah di permukaan, namun keropos di kedalaman.

Kejujuran dalam menceritakan kota menjadi harga mati. Sejarah tidak boleh hanya dipoles agar tampak indah. Luka harus tetap diingat, bukan untuk mengais penderitaan lama, melainkan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan kita di masa depan.

Kota bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan kisah bagi anak cucu. Sawahlunto mengajarkan satu hal berharga, sebuah kota bisa bertransformasi dari jantung ekonomi menjadi jantung ingatan. Dulu ia hidup dari batu bara; kini ia hidup dari cerita.

Masa depan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita bangun di atas tanahnya, tetapi oleh apa yang kita ingat dan bagaimana kita menceritakannya kembali.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

⚡ WhatsApp Insertrakyat

Informasi, komunitas & layanan pembaca

GRUP WHATSAPP
▶ Gabung Grup Diskusi
SALURAN WHATSAPP
▶ Ikuti Saluran Resmi
KONTAK ADMIN
▶ Hubungi Admin
● ONLINE • 0813-5481-214