“Ada seorang guru dari Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, yang merupakan penulis buku dan saya kenal baik adalah Rospiadi. Saya akrab menyapanya Ustaz Adi. Beliau Kepala SMP IT Cahaya Makkah, sekolah umum semi-pesantren dengan sistem boarding school.”
SAYA senang kalau ada guru yang menulis. Apalagi menulis buku.
Kalau bertemu guru seperti itu, saya teringat pada guru saya sewaktu SMP dan SMA. Mereka bukan saja pembaca buku, tetapi juga penulis buku.
Gara-gara merekalah sampai sekarang saya menjadi penulis.
Banyak teman saya guru. Sebagian kecil dari mereka penulis. Lebih kecil lagi, mereka yang sangat konsisten menulis. Setiap tahun, ada saja buku yang diterbitkan, diluncurkan, dan didiskusikan.
Guru-guru penulis buku itu bagi saya keren sekali.
Kenapa keren? Karena selain sebagai pendidik, mereka mencontohkan bahwa keilmuan dan pengalaman yang mereka bagikan di depan kelas itu bukan sekadar menyalin-tempel (copy-paste) apa yang mereka baca di buku teks. Buku teks itu orang lain pula yang menulis. Namun, mereka membuktikan bahwa kepakaran mereka tertuang pula dalam sebuah buku yang dapat menjadi rujukan. Apa pun jenis buku itu.
Buku-buku itu, setelah terbit, tidak diam. Tetapi dibicarakan terus melalui diskusi di kelas, percakapan di media massa, maupun media sosial. Sekali lagi, guru-guru penulis buku itu keren sekali.
Ada seorang guru dari Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, yang merupakan penulis buku dan saya kenal baik adalah Rospiadi. Saya akrab menyapanya Ustaz Adi. Beliau Kepala SMP IT Cahaya Makkah, sekolah umum semi-pesantren dengan sistem boarding school.
Karena kepala sekolahnya menulis buku dan memberi keteladanan, guru-guru dan siswanya juga menulis buku. Hampir setiap tahun sekolah ini menerbitkan buku, khususnya antologi cerpen dan puisi.
Beberapa kali saya diundang ke sekolah ini untuk memberikan workshop kepenulisan kreatif, guna membakar semangat menulis para guru dan siswanya.
Di sinilah letak pentingnya keteladanan.
Seorang guru yang menulis bukan hanya sedang menghasilkan buku, tetapi sedang membangun ekosistem literasi. Ia tidak sekadar menyuruh murid membaca atau menulis, tetapi memperlihatkan bahwa menulis adalah laku hidup. Ia hadir sebagai contoh nyata bahwa pengetahuan tidak berhenti di kepala, tetapi harus diolah, dirumuskan, dan dibagikan.
Seorang guru penulis buku sejatinya sedang meninggalkan jejak. Jejak itu bukan hanya pada halaman-halaman kertas, tetapi juga pada ingatan murid-muridnya. Murid akan lebih percaya pada guru yang menulis, karena ia melihat langsung proses berpikir itu bekerja. Ia tahu bahwa gurunya tidak hanya “pandai bicara”, tetapi juga mampu merumuskan gagasan secara utuh.
Lebih dari itu, guru yang menulis juga sedang mengajarkan keberanian. Keberanian untuk menuangkan pikiran, untuk diuji, bahkan untuk dikritik. Itu adalah pelajaran penting yang sering tidak tertulis dalam kurikulum mana pun.
Dan tahun ini, Ustaz Rospiadi menyiapkan buku terbarunya, setelah beberapa buku pada tahun-tahun sebelumnya terbit. Buku yang sedang dalam proses itu berupa kumpulan puisi berjudul “Serenada di Haramain”.
Haramain adalah sebutan dalam bahasa Arab untuk dua kota suci umat Islam, yaitu Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Kedua kota ini menjadi pusat ibadah utama umat Islam, tempat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi berada.
Ada seratus puisi dalam buku ini yang ditulis Ustaz Rospiadi. Meski tidak semuanya bertema Haramain, sebagian besar puisi-puisi itu mengandung muatan spiritualitas, keilahian, juga nostalgia kampung halaman, kerinduan, pengabdian, dan pendidikan.
Saya tertarik pada lima puisi di buku itu, dan sedikit saya ulas.
Ada puisi “Air Mata di Haramain 1”. Puisi ini menghadirkan pengalaman spiritual yang intens. Perjalanan fisik yang digambarkan—melintasi benua dan menjejak angkasa—bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan simbol kesungguhan seorang hamba dalam mencari kedekatan dengan Tuhan.
Kalau dibaca lebih dalam, inti puisi itu terletak pada kesadaran eksistensial. Rasa hina diri di hadapan sang Ilahi. Pengakuan “tak pantas aku rasanya” menjadi titik paling jujur, menghadirkan kontras antara manusia yang penuh dosa dengan kesucian Rasul dan para hamba pilihan. Air mata menjadi bahasa spiritual yang melampaui kata-kata. Sebuah katarsis sekaligus penyerahan total.
Ada juga puisi “Ingin Mengalir”, memusatkan diri pada metafora air sebagai simbol kebebasan dan pencarian makna hidup. Keinginan “mengalir bagai air” menandakan hasrat untuk lepas dari sekat-sekat diri. Di sini, air bukan sekadar elemen alam, melainkan representasi jiwa yang dinamis; menembus ruang, mengisi kekosongan, dan terus bergerak. Ada refleksi batin yang kuat, terutama ketika penulis berbicara tentang “melenyapkan sekat diri” dan “buta mata hati” sebagai kritik terhadap keterasingan manusia modern.
Berikutnya puisi “Aku dan Laut”. Puisi ini menggambarkan relasi manusia dan alam yang dihadirkan secara intim. Laut menjadi ruang kenangan, pembentukan diri, sekaligus metafora kehidupan. Ombak yang memecah bukan hanya gambaran alam, tetapi juga cerminan gejolak batin. Kehadiran sosok ibu melalui “cubitan penuh kasih” memperkaya dimensi emosional puisi ini. Sebuah tarik-menarik antara kebebasan dan perlindungan. Laut menjadi arena perjuangan hidup, tempat manusia “mengayuh mimpi” dengan segala risikonya.
Puisi selanjutnya, “Lenguh Lara Ombak”, menghadirkan potret kehidupan nelayan dengan nada getir sekaligus heroik. Dari citraan jaring yang terbentang hingga ombak yang melenguh, puisi ini memperlihatkan kerasnya realitas hidup. Namun, di balik itu, ada kekuatan cinta keluarga yang menjadi energi bertahan. Dapur yang harus tetap berasap menjadi simbol sederhana, tetapi sangat kuat, tentang alasan manusia terus berjuang.
Sementara puisi “Sajak Botak Muridku” memperlihatkan kegelisahan seorang guru dalam menghadapi muridnya. Ada ketegangan antara disiplin dan empati. Tindakan menghukum diakui bukan sepenuhnya suara nurani, tetapi bagian dari pergulatan batin seorang pendidik. Kritik terhadap pengaruh zaman, terutama anak-anak yang akrab dengan gawai, menjadi konteks penting yang memperkuat relevansi puisi ini. Guru dalam puisi ini tidak digambarkan sebagai sosok sempurna, tetapi manusia yang terus belajar memahami muridnya.
Keseluruhan puisi dalam buku karya Ustaz Rospiadi ini menunjukkan bahwa seorang guru tidak hanya mengajar dengan suara, tetapi juga dengan tulisan. Ia tidak hanya hadir di kelas, tetapi juga dalam lembar-lembar halaman yang bisa dibaca ulang, direnungi, dan diwariskan.
Di titik inilah, saya kembali percaya bahwa guru yang menulis adalah guru yang memberi teladan paling konkret. Ia tidak sekadar menyuruh, tetapi melakukan. Tidak hanya mengajar, tetapi juga berkarya.
Dan dari sanalah, api literasi itu menyala. Pelan, tetapi pasti, di dalam diri murid-muridnya.
Saya yakin dan percaya, suatu hari nanti, di antara murid-muridnya yang membaca sastra dan melihat keteladanan dari gurunya itu, satu-dua orang akan ada yang menjadi penulis juga. Kalaupun tidak, profesi lainnya yang mereka tekuni akan diiringi dengan keahlian menulis. Kalau itu terjadi, betapa hebatnya generasi yang lahir dari rahim sekolah itu.
Oleh Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

















