PIDIE JAYA, INSERTRAKYAT.com– Komando pemulihan Pascabencana Sumatera adalah Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian. Ia juga menjabat Mendagri. Dalam pemulihan pascabencana, Tito senantiasa merawat kearifan lokal “Gotong Royong dan Tenggang Rasa.”
Kiprah Tito menarik perhatian publik, sebab, esensial ” Kearifan lokal yang diimplementasikan, menyusul juga capaian signifikan, baik itu pembersihan Lumpur dan Transformasi Kayu Hanyutan jadi hunian Masyarakat Sumatera meliputi Aceh, Sumut dan Sumbar.
Ada pula khusus Warga Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, bersama Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, melakukan gotong royong dengan membersihkan lingkungan terdampak bencana.
Kegiatan yang berlangsung Kamis (2/4) ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan memasuki fase rehabilitasi. Warga dan pemerintah bekerja bersama melalui program kerja bakti yang difasilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta didukung kontribusi warga perantauan.
Ahlul Fikri, warga setempat, mengatakan kolaborasi ini membantu mempercepat proses pemulihan. “Ada dukungan dari pemerintah melalui kerja bakti, dan juga dari perantau yang ikut membantu, termasuk untuk armada pengangkutan,” ujarnya.
Selain membersihkan lingkungan, kegiatan ini juga memberi manfaat ekonomi bagi warga. Mereka yang terlibat mendapatkan upah harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama masa pemulihan.
Halimah, salah satu warga, mengaku terbantu dengan kegiatan tersebut. “Selain ikut membersihkan, kami juga mendapat penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari dan anak-anak yang masih sekolah,” katanya menandaskan gambar sumber ekonomi “glowing.”
Puluhan warga terlibat secara bergilir dalam kerja bakti ini. Kegiatan dilakukan di sejumlah titik, termasuk fasilitas umum seperti musala dan lingkungan permukiman.
Lantas, apa saja capaian Muhammad Tito Karnavian sejak Satgas PRR terbentu.
InsertRakyat.com kali ini secara khusus akan mereview dua poin capaian Satgas PRR. Masing-masing pada pembersihan lumpur dan entitas pemanfaatan kayu hanyutan. Tentu informasi berbasis fakta dan data terpercaya dari Pemerintah secara langsung, baik itu melalui Kemendagri, Kapuspen, Benni Irwan dan Satgas PRR itu sendiri.
Pembersihan 455 Lokasi Lumpur Bencana Sumatera

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) pascabencana Sumatera merilis capaian pembersihan lumpur di sekitar 445 titik terdampak banjir dan longsor dengan progres mencapai 84 persen hingga 28 Maret 2026. Rilis resmi disampaikan oleh Kapuspen Kemendagri, Benni Irwan kepada Insertrakyat.com secara faktual dan Komprehensif.
Pembersihan lumpur tersebar di tiga provinsi, mulai Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Satgas menargetkan percepatan pemulihan fasilitas publik dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Satgas mencatat di Provinsi Aceh sebanyak 396 dari 476 lokasi telah dibersihkan, sementara 80 lokasi masih dalam proses. Satgas juga mencatat di Sumatera Utara sebanyak 20 dari 24 lokasi telah tuntas dibersihkan.
Satgas memastikan pembersihan lumpur di Sumatera Barat telah selesai 100 persen dengan total 29 lokasi terdampak telah ditangani.
Untuk progres rehabilitasi lahan sawah di tiga provinsi mencapai 991 hektare dari total 42.702 hektare yang menjadi target. Satgas menyebut sebanyak 5.333 hektare lahan masih dalam proses penanganan.
Satgas merinci rehabilitasi sawah di Aceh mencapai 42 hektare dari target 31.464 hektare. Satgas juga mencatat di Sumatera Utara telah terehabilitasi 170 hektare dari target 7.336 hektare.
Khusus di Sumatera Barat capaian rehabilitasi sawah mencapai 779 hektare dari target 3.902 hektare.
Kendati demikian, Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan pembersihan lumpur menjadi fokus utama pemerintah dalam percepatan pemulihan pascabencana. Menurut Mendagri Tito yang sudah diselesaikan di Sumatera total capaian sekitar 84 persen.
“Target pembersihan tersisa 16 persen lagi,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden. “Percepatan pembersihan lumpur dan rehabilitasi sawah menjadi prioritas untuk menjaga ketahanan pangan serta mempercepat pemulihan ekonomi warga terdampak bencana,” ulang Tito.
“Normalisasi sungai juga terus dilakukan di wilayah terdampak, untuk mencegah banjir susulan serta mendukung sistem irigasi bagi lahan pertanian dan tambak masyarakat,” imbuhnya.
Transformasi Kayu Hanyutan, Bukti Kreativisme

Sebanyak 5.103,72 meter kubik kayu hanyut akibat bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini dimanfaatkan untuk membangun hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak, fasilitas sosial, dan kebutuhan industri. Kamis (2/4/2026).
Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan pihaknya telah merancang skema pemanfaatan kayu hanyutan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pemanfaatan ini sejalan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 191 Tahun 2026, yang mengatur kayu hanyut sebagai sumber daya material untuk mendukung penanganan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.
Tito memastikan percepatan pemanfaatan kayu akan terus dilakukan hingga seluruh tumpukan di tiga daerah terdampak bersih. Ia mengungkap kondisi terkini: di Aceh 70 persen kayu telah ditangani, 30 persen masih di pedalaman; di Sumbar 99 persen tertangani; dan di Sumut 90 persen di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
Ia juga menekankan agar kayu berukuran kecil dan kurang ekonomis dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), misalnya untuk bahan pembuatan bata atau bahan bakar pembangkit listrik. “Masyarakat juga bisa menggunakan kayu untuk membangun hunian sendiri,” kata Tito dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Presiden, Jakarta.
Data Satgas PRR per 2 April 2026 mencatat rincian pemanfaatan kayu hanyut: di Aceh Utara 2.112,11 meter kubik digunakan untuk huntara, Aceh Tamiang 572,4 meter kubik menunggu kebijakan pemda, Tapanuli Selatan 329,24 meter kubik untuk huntara dan fasilitas umum, Tapanuli Tengah 93,39 meter kubik untuk pemulihan rumah warga, serta Kota Padang, Sumbar, 1.996,58 meter kubik telah diserahkan ke pemerintah daerah.
Kebersamaan antara warga, pemerintah, dan para donatur menjadi catatan sejarah baru dalam proses pemulihan. Warga berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut hingga kondisi desa kembali normal secara utuh. Sementara Satgas PRR tak lelah memberi panduan dan kerja secara aktif, tujuan utama demi memuliakan sendi kehidupan masyarakat.
InsertRakyat.com mengajak masyarakat berkontribusi melalui laporan informasi penting, dan karya literasi yang bermanfaat serta mengikuti berita terbaru secara mudah diakses tombol WhatsApp.


















