MAJENE, INSERTRAKYAT.COM, – Di Desa Lombong, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), budidaya tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak petani, termasuk Sajidul. Kata dia kepada TIm Insertrakyat.com, Rabu, (2/4/2025), tanaman yang menghasilkan minyak atsiri untuk industri kosmetik, parfum, dan aromaterapi ini seharusnya membuka jalan bagi peningkatan perekonomian di pelosok. Hanya saja di tengah upaya keras di sektor pertanian, banyak petani yang merasa terabaikan oleh pemerintah. Kini Presiden RI, Prabowo Subianto sangat diharapkan agar dapat melihat apa yang sedang dihadapi rakyat di Sulbar, khususnya sektor pertanian Nilam.
Nilam, dengan manfaatnya yang luas, memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan Indonesia. Negara ini dikenal sebagai salah satu penghasil utama minyak nilam, yang dipergunakan di pasar internasional. Namun, meskipun potensi pasar terbuka lebar, petani lokal masih terjebak dalam kondisi yang kurang menguntungkan, dengan minimnya dukungan dari pemerintah yang adil.
Padahal jika berkaca pada realita, tanaman Nilam ini sebenarnya sudah menjadi ujung tombak ekonomi masyarakat di seantero negeri, baik di Aceh, Sultra, Sulteng dan termasuk upaya yang dilakukan Sajidul seorang petani di Majene, ia terus menumbuhkan semangat dalam budidaya Nilam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dirasakan bagi Sajidul, menanam nilam memberikan peluang ekonomi yang sangat potensial. Ia berhasil membayar pajak kepada pemerintah sekaligus berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga ke bangku kuliah, meskipun demikian ia masih mengakui; perekonomian keluarga terbilang terbatas. Salah satu anaknya kuliah di jurusan apoteker, sementara yang lain menunggu kelulusan untuk melanjutkan studi di universitas lain. Tanaman nilam menjadi sumber penghidupan yang cukup bagi ekonomi rakyat, meskipun banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Ditambah situasi; sunyi nya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian tersebut, pasca tahun politik era pesta demokrasi 2024.
Ditelisik lebih dalam, di balik budidaya tanaman Nilam terdapat masalah besar yang dihadapi Petani. Modal menjadi salah satu kendala utama. Koperasi, yang seharusnya memberikan solusi, justru memperburuk keadaan dengan sistem yang sangat membebani petani. Di sana, terkuak dugaan pinjaman dengan bunga tinggi menjebak petani dalam siklus utang yang sulit keluar. Selain itu, kata Sajidul, pupuk yang diperlukan untuk budidaya nilam tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah, membuat biaya produksi semakin membengkak.
Sajidul menjelaskan, untuk meningkatkan usaha budidaya nilam dan memastikan keberlanjutannya, permodalan yang lebih mudah diakses dan dukungan berupa pabrik pengolahan mandiri sangat dibutuhkan. Menurut dia, selama ini, petani bergantung pada pihak luar untuk pengolahan hasil nilam, namun harganya yang fluktuatif sering kali menjadi tetek bengek. “Ini juga masalahnya, tidak ada pabrik/Penyulingan mandiri,” jelasnya.
Sajidul mengklaim, jika harga nilam turun, akan sangat sulit untuk menutup biaya yang sudah dikeluarkan. Untuk itu bantuan dari pemerintah untuk membangun fasilitas pengolahan secara mandiri, sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Sajidul berharap, Presiden Prabowo bersama Menteri Pertanian dapat mendengarkan keluhan tersebut, dan memberi perhatian khusus kepada petani nilam di daerah-daerah seperti Majene.
Dirinya (petani,-red) menyinggung kebijakan pemerintah yang digaungkan dengan asta cita. Ia juga berharap agar kebijakan pemerintah tersebut dapat membawa angin segar di tanah air, sehingga petani bisa berkembang dan diperhatikan tanpa harus berteriak.
Bagi petani nilam di Majene, harapan akan kebijakan yang berpihak adalah pucuk berlian di ladang pertanian mereka, untuk masa depan petani.
Kendati demikian, sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia, nilam bisa memberikan kontribusi besar terhadap laju pertumbuhan perekonomian, jika mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk orang nomor satu di Indonesia, Prabowo Subianto diharapkan buka mata dan melihat Potensial Majene, Sulawesi Barat (Sulbar). Kendati demikian, BPMI Setpres dan Presiden Prabowo Subianto belum memberikan tanggapan terkait hal ihwal petani Nilam tersebut.
Penulis : DZ/Rahmat
Editor : Supriadi Buraerah