Oleh Muhammad Subhan
PERUT saya tiba-tiba terasa kembung. Sejak beberapa hari terakhir, setelah bekerja membantu di warung Nek Ani di simpang jalan menuju rumah di tengah sawah dengan imbalan uang receh dan sate kerang, ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perut saya.
Rasanya geli, mendesak-desak ingin keluar, tetapi bukan dorongan buang air besar.
Tubuh kecil saya yang terbiasa bermain tanah di halaman dan pematang sawah di rumah di tengah sawah itu seolah menyimpan rahasia yang tak nyaman.
Kawan saya yang rumahnya bertetangga dengan rumah saya, Bondan, anak berbadan bongsor yang dikenal cekatan dan sok tahu itu, menyebut keadaan saya sebagai cacingan. Dari ibunya ia mendapat pengetahuan tentang tumbuhan yang berkhasiat terutama menyembuhkan cacingan.
Saya pulang dengan perasaan tidak tenang. Ibu menguatkan dugaan itu. Anak-anak yang suka bermain tanah memang mudah cacingan.
Di Tembung, obat cacing bukan hanya pil dari puskesmas, melainkan juga tanaman yang tumbuh di sekitar, disebut lamtoro, kemlandingan, petai selong, atau yang lebih dikenal sebagai petai cina.
Kawan saya sering menyebutnya sebagai obat cacing paling mujarab.
Biji petai cina yang hijau, sedikit pahit, dan aromanya tajam dipercaya mampu melumpuhkan cacing di perut, sebagaimana biji lamtoro atau kemlandingan yang digunakan orang tua sebagai ramuan tradisional.
Hari itu, saya diajak Bondan berjalan melintasi pematang sawah, menuju sebuah bukit kecil di tengah hamparan sawah tempat biasa kami bermain. Di bukit itu ada sebatang pohon petai cina tumbuh.
Perjalanan itu melewati kuburan umum yang luas, dan jalan sepi yang terpanggang matahari. Ketakutan masa kanak-kanak membuat langkah saya goyah, tetapi keyakinan akan kesembuhan mendorong saya terus melangkah.
Di ujung perjalanan, saya melihat pohon petai cina dengan buah menggantung lebat, hijau muda dan ranum, seolah menunggu untuk dipetik.
Kawan saya mengajarkan cara mengenali petai cina yang siap dimakan: polongnya panjang, bijinya keras tetapi masih muda, aromanya khas.
Ia menjelaskan bahwa petai cina sering tumbuh di tepi sawah dan kebun, dan sejak dulu dikenal sebagai penawar cacingan. Ah, entahlah. Rasanya, pandai-pandai dia saja.
Biji-biji petai itu disebut Bondan mengandung zat pahit yang tidak disukai cacing, sehingga setelah dimakan, cacing akan keluar bersama kotoran.
Bondan memanjat pohon itu, mematahkan ranting-rantingnya dan menjatuhkan petai-petai itu ke tanah. Dari atas pohon dia berteriak agar saya mengumpulkan buah-buah petai itu dan memasukkan ke dalam kantong plastik yang telah kami siapkan sebelumnya.
Setelah dia turun, Bondan menyuruh saya memakan biji petai cina yang masih segar.
“Benar ini obat cacing?” tanya saya tak yakin.
“Ya, benarlah. Kaucoba saja,” ujarnya. Agak sombong dia.
Spontan, saya makan buah petai itu. Rasanya pahit, tetapi ada getir yang membuat saya yakin sedang menelan obat. Di bawah terik matahari, perut saya yang keroncongan menerima biji-biji itu sebagai penawar menjadi agak kenyang karena lapar. Ya, saya sedang lapar sebab sejak pagi belum sarapan.
Dalam perjalanan pulang, bau khas petai cina menempel di mulut saya. Napas saya jadi terasa tak enak. Saya menahan rasa tidak nyaman dan terus melangkah, membayangkan cacing-cacing di perut yang mulai melemah.
“Besok lihatlah apa yang terjadi,” kata Bondan sebelum ia berlari masuk ke dalam rumahnya karena hari sudah senja.
Benarlah, pagi hari di kakus di belakang rumah, di saat membuang hajat, saya menyaksikan hasilnya. Cacing-cacing keluar, membuktikan bahwa obat kampung itu bekerja. Geli juga saya lihat, cacing-cacing menggeliat sebesar itu.
Zaman itu, obat cacing yang langsung hancur di perut belum ada.
“Main tanah juga kau lagi. Nanti habis usus kau dikunyah cacing,” hardik Emak.
Editor: Zamroni






















