Oleh Muhammad Subhan

SEORANG tentara Amerika perempuan, barangkali berusia 30-an, menangis tersedu-sedu dalam sebuah video pendek yang beredar luas di media sosial. Ia memanggil ayah dan ibunya. Suaranya pecah. Ia ingin pulang. Tampak ketakutan di wajahnya.

Hujan rudal yang diluncurkan Iran ke pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah bukan hanya mengguncang beton dan baja, tetapi juga menggoyahkan batin tentara berseragam loreng itu.

Di video lain, di Tel Aviv, para rabi, perempuan, dan anak-anak berlarian histeris ketika jantung kota dihujani rudal. Langit memerah seperti bara. Di jalanan, orang-orang meringkuk di trotoar. Malam berubah menjadi ruang tunggu yang mencekam. Teriakan “Iran please stop!” terdengar seperti doa yang kehilangan arah.

Serangan balasan Iran yang semula diremehkan, perlahan menembus rasa percaya diri. Ketika sebagian rudal disebut-sebut mampu melewati perisai Iron Dome, kecemasan tak lagi bisa disembunyikan.

Bunker-bunker bawah tanah penuh sesak. Anak-anak memeluk ibunya. Para rabi berdoa dengan suara gemetar. Dalam perang, iman pun bisa bergetar.

Namun, di sisi lain, di Iran, suasana duka lebih membatu. Sebuah sekolah dasar dihantam serangan. Sebanyak 168 anak usia 7 hingga 12 tahun, bersama guru dan staf, tewas seketika. Mereka dimakamkan secara massal. Tangis orang tua pecah. Tak lagi berupa suara, melainkan luka yang tidak akan menutup sepanjang usia.

Tak ada ideologi yang mampu menjelaskan mengapa tubuh-tubuh kecil itu harus terkubur bersamaan.

Perang selalu berbicara tentang strategi, tentang peta, dan tentang kekuatan militer. Tapi yang jarang disorot adalah luka psikologis yang tertinggal.

Tentara yang selamat membawa pulang trauma. Rakyat sipil yang bersembunyi di bunker membawa pulang kecemasan. Anak-anak yang selamat dari reruntuhan membawa pulang mimpi buruk.

BACA JUGA :  Indonesia Sesalkan Gagalnya Perundingan AS-Iran, Kemenlu Klaim Presiden Siap Fasilitasi Mediasi

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim, dalam dua hari pertama perang, 650 tentara Amerika tewas dan terluka. Sekitar 160 korban disebut jatuh saat pangkalan militer Amerika di Bahrain diserang, termasuk Armada Kelima Angkatan Laut AS yang beberapa kali menjadi sasaran rudal dan drone. Di pihak Iran, jumlah korban tewas tak sedikit pula.

Kapal pendukung tempur Amerika dilaporkan dihantam hebat. Empat rudal jelajah ditembakkan ke kapal induk USS Abraham Lincoln yang kemudian ‘ngacir’ menjauh ke Samudra Hindia bagian tenggara.

Di atas kertas, angka-angka itu adalah statistik. Namun, di balik setiap angka, ada ibu yang kehilangan anak, ada istri yang menunggu kabar, dan ada anak kecil yang tak lagi mengenal suara ayahnya.

Di Amerika, mungkin ada keluarga yang menatap televisi dengan cemas, menunggu konfirmasi yang tak kunjung datang. Di Iran, ada keluarga yang memeluk foto anaknya yang masih berseragam sekolah.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kampanye militer bertajuk “Epic Fury” dapat berlangsung lebih lama dari rencana awal. Ia menegaskan tidak akan “bosan” dengan operasi tersebut. Target melumpuhkan kepemimpinan militer Iran, katanya, semula diproyeksikan empat pekan, namun bisa dicapai jauh lebih cepat. Ia menyebut militer Amerika sebagai yang terkuat di dunia dan akan dengan mudah meraih kemenangan.

Kemenangan. Kata itu terdengar gagah di mimbar. Namun, di medan perang, kemenangan sering kali hanya berarti arang dan abu. Ya, menang jadi arang, kalah jadi abu. Tak ada yang benar-benar utuh.

BACA JUGA :  Indonesia Berpikir Keras, Imbas Konflik Internasional

Trump mungkin mengira Iran akan hancur seperti Irak pasca-Saddam. Bahkan, ia menyerukan rakyat Iran untuk turun ke jalan dan merebut pemerintahan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sentimen nasionalisme dan solidaritas menguat. Serangan terhadap simbol dan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut-sebut turut menjadi sasaran, justru membakar harga diri kolektif.

Iran membalas dengan intensitas yang tak terduga. Rudal-rudal diluncurkan dari berbagai arah. Warga Israel di sejumlah kota dilaporkan meninggalkan rumah mereka. Di Bnei Brak, kemarahan terhadap kepemimpinan politik meledak. Tong sampah dibakar, kembang api dilemparkan ke kendaraan.

Ketika perang berkepanjangan, rakyat bukan hanya takut pada musuh, tetapi juga kecewa pada pemimpinnya.

Eropa pun tampak menjaga jarak. Inggris menegaskan tidak terlibat dalam serangan awal dan tidak akan bergabung dalam aksi ofensif, meski memberi izin terbatas penggunaan pangkalan untuk pertahanan.

Prancis, Jerman, dan Spanyol mendorong pengekangan serta diplomasi. Madrid menyatakan pangkalannya tidak digunakan untuk operasi ke Iran. Washington menyebutnya sebagai “Barat”, tetapi Eropa memperlakukannya sebagai pertaruhan sepihak yang berisiko.

Di Dubai, suasana berbeda tetapi tetap sama: cemas. Seorang tamu hotel menceritakan bagaimana ratusan orang tidur di tempat parkir bawah tanah setelah beberapa target dihantam rudal. Tas-tas mahal, Hermes dan Chanel, digendong tergesa-gesa.

Dalam situasi genting, status sosial tak lagi berarti. Semua orang kembali pada naluri paling dasar: bertahan hidup.

Perang memukul sisi psikologis dengan cara yang tak terlihat kamera. Tentara yang menangis memanggil ibunya mungkin akan selamat secara fisik, tetapi tidak mudah memulihkan jiwanya. Anak-anak yang berlari ke bunker mungkin tumbuh dewasa dengan kecemasan laten. Orang tua yang menguburkan seratusan anak sekolah itu akan hidup dengan pertanyaan yang tak pernah selesai: mengapa?

BACA JUGA :  Kiai Noor Tak Main - Main Soal Kesiapan BAZNAS Evakuasi Korban Perang di Gaza Ke Indonesia

Kita sering terjebak pada narasi siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih canggih persenjataannya. Padahal, yang paling rapuh adalah manusia itu sendiri. Ketika rudal meluncur, yang hancur bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman. Ketika pemimpin berbicara tentang operasi militer, yang bergetar adalah dada rakyat biasa.

Kadang manusia terlalu yakin pada kekuatannya sendiri, sampai lupa bahwa lawan juga memiliki kekuatan untuk melawan. Dan ketika dua kekuatan saling bertumbuk, yang tercecer adalah anak-anak, para ibu, dan para prajurit muda yang sebenarnya hanya ingin pulang.

Perang ini, seperti perang-perang sebelumnya, mungkin akan dicatat dalam buku sejarah sebagai konflik strategis antara negara-negara besar. Akan ada analisis tentang geopolitik, tentang aliansi, dan tentang kalkulasi militer.

Tetapi di balik semua itu, ada generasi yang tumbuh dengan trauma, ada keluarga yang kehilangan arah, dan ada bangsa-bangsa yang menanggung luka batin berkepanjangan.

Demikianlah, perang selalu menyisakan paradoks. Mereka yang merasa menang, perlahan menjadi arang, hangus oleh kebencian dan kehilangan. Mereka yang kalah menjadi abu, tersebar, tak lagi utuh. Dan di antara arang dan abu itu, kemanusiaan kerap tak menemukan tempat berpijak.

Barangkali yang paling waras untuk diingat adalah ini: tak ada kemenangan yang sepadan dengan tangis seorang anak atau isak seorang prajurit yang ingin pulang. Dalam perang, semua pihak sesungguhnya kalah.

 

 

(Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis).