ACEH TAMIANG, InsertRakyat.com — Bencana acap kali datang menghantam tanpa aba-aba, lalu menyisakan sunyi yang panjang dibalik lensa air mata anak – anak di negeri ini. Misalnya, realita yang baru saja selesai terjadi di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, banjir bandang dan tanah longsor meninggalkan jejak kehilangan yang sangat dalam.
Rumah-rumah rusak, sekolah lumpuh, dan ketenangan anak-anak ikut terguncang, padahal usia mereka belum cukup untuk memahami mengapa hidup berubah sedemikian cepat.
Dalam laporan pertama Muhammad Iqbal Jurnalis Insertrakyat.com, bencana merenggut suasana hangat masyarakat, Pemukiman dan persawahan tenggelam.
BACA: Cuaca Ekstrem Mengoyak Nusantara: Banjir Menjalar, Aceh Timur Terdampak
Peristiwa bencana terjadi pada akhir November 2025 lalu. Kejadian ini pun sempat membuat Manajemen Insertrakyat.com di balut kekawatiran. Sebab Zamroni editor yang saat itu sedang berada di Aceh Selatan. Meskipun selamat dari peristiwa itu. Ia baru dapat terhubung setelah satu Minggu kemudian. Rupanya ia terjebak bencana bersama dengan anak dan Istrinya di Aceh Selatan.
Kendati demikian, kepedulian pemerintah dan masyarakat luas ikut berkontribusi dalam pemulihan pasca bencana, yang dimulai sejak awal Desember hingga saat ini tahun 2026.
Awal mula puncak perhatian itu tepat 31 Desember lalu. Di bawah tenda darurat yang berdiri sederhana, ratusan anak duduk beralas bumi. Tatapan mereka menyimpan kisah yang tak selalu sanggup diucapkan.
Generasi negeri di sana, mulai (dari;) ada yang kehilangan tempat tinggal, ada yang kehilangan ruang belajar, ada pula yang kehilangan kasih sayang. Sebab. Orang tua mereka ditelan bencana.
Namun pada hari Senin siang itu, mereka menyambut kedatangan orang-orang (warga Bulukumba), dari jauh dengan harap yang diam-diam tumbuh.
Lebih jelasnya, Warga dan Relawan Wahdah Peduli hadir dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, daerah Panrita Lopi yang dikenal sebagai tanah kelahiran pinisi. Dari tempat kapal-kapal kayu dibangun dengan kesabaran dan doa, kepedulian itu berlayar menembus jarak, lalu berlabuh di Aceh Tamiang membawa pesan kemanusiaan yang bersahaja.
Kegiatan pemulihan trauma digelar Wahdah Peduli. Di alam Aceh, anak-anak diajak bermain, bernyanyi, mendengar kisah-kisah teladan, berdoa, serta lantunan nasyid yang menenangkan. Semua berlangsung dalam suasana hening dan akrab. Perlahan, ketegangan yang membebani batin mulai mencair.
Koordinator Tim Trauma Healing Wahdah Peduli asal Bulukumba, Wahidin Nur, memilih lebih banyak menemani daripada menanyakan “Dahsyat bencana”. Ia duduk sejajar dengan anak-anak, mendengar cerita mereka, dan membiarkan waktu bekerja menyembuhkan.
“Kita ingin anak-anak kembali merasa aman dan nyaman,” kata Wahidin saat terhubung dengan kontributor, Ahmad Rabbani, seperti dikutip laporannya hari Ini.
Wahidin menyebut, rasa peduli adalah tempat pertama tumbuhnya harapan. Dari situ semangat anak perlahan dirangkai ulang.
Seiring berjalannya kegiatan, suasana berubah. Tawa kecil terdengar, awalnya ragu, lalu mengalir jujur. Beberapa anak memeluk relawan tanpa kata. Pelukan itu hadir sebagai bahasa paling tulus, seolah meminta diyakinkan bahwa masih ada kehangatan di dunia yang baru saja mereka anggap rapuh.
Bersamaan dengan pendampingan batin, relawan menyalurkan bantuan logistik hasil donasi masyarakat Sulawesi Selatan. Beras, susu, biskuit, makanan siap saji, pakaian layak pakai, karpet, serta santunan tunai dibagikan tertib. Hari itu, perhatian untuk anak lebih hangat daripada jumlah bantuan yang diterima.
Seorang guru setempat, St. Aminah, menyaksikan murid-muridnya dengan mata berkaca-kaca. Di tengah keterbatasan sarana pendidikan pascabencana, ia melihat kembali senyum yang sempat hilang.
“Kami bersyukur. Anak-anak kembali tenang,” ucapnya.
Bagi Wahdah Peduli, pemulihan pascabencana menyentuh bangunan dan jiwa. Luka batin anak-anak dipandang sebagai amanah yang harus dipulihkan. Sebab dari ketenangan merekalah masa depan disiapkan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Didukung Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ), Wahdah Peduli memilih hadir sejenak menemani, lalu pergi meninggalkan jejak yang tak kasat mata, namun menetap di hati. Kisah inspiratif ini kemudian ditulisi Jurnalis media ini, pada Kamis, (15/1/2026).
Lengkapnya, di tenda darurat itu, kata Wahidin, dirinya nyaris tenggelam dalam rasa haru.
Ucapnya, (Wahidin,-red), kepedulian hadir dari tanah Sulawesi Selatan.
Kasih berangkat berlayar jauh lalu mengajarkan satu pelajaran hidup tentang anak – anak.
Menurut beliau, di sana Anak – anak serentak memakai lensa tak kasat mata dengan satu merek yakni “air mata”.
Namun satu hal yang menguatkan bagi anak negeri, sebagai mana dikutip pesan Ibu. [Buku Pesan Ibu. hlm 29] “Bencana boleh menggenggam dan merenggut bumi dan lautan, tapi senyum tak boleh hilang dari rupa pemilik Nurani”.
Kendati demikian, di tengah situasi ini, Institusi Polri tak tinggal diam, dengan tajuk Polri Untuk Masyarakat, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengutus Astamaops, Fadli Imran, untuk menyalurkan 9 jenis bantuan yang semula diberangkatkan dari Jakarta, pada 2 Desember.
Bantuan itu ditujukan kepada warga yang terdampak bencana di Provinsi Aceh. Bantuan tersebut diterbangkan menggunakan Pesawat Poludara CN 295/P-4501. Saat tiba di Aceh, Bantuan langsung disalurkan.
Astamaops Kapolri, Komjen Pol Dr. Mohammad Fadil Imran, hadir mewakili Kapolri untuk menyerahkan langsung bantuan tersebut di lokasi terdampak.

Petinggi polri ini juga memberikan support dan dukungan moril kepada seluruh anggota Polri dan petugas gabungan yang terus berjibaku menanggulangi bencana alam.
Adapun 9 bantuan dari Kapolri untuk masyarakat pada awal Desember.
1. Perahu karet 1 unit
2. Mesin Yamaha 1 unit
3. Alas perahu 1 unit
4. Power station 2 unit
5. Solar panel 4 unit
6. MPT-FT 20 dus
7. Pemanas MTP 10 dus
8. Makanan siap saji 27 dus
9. Tenda 1 unit
Dalam kesempatan tersebut, Astamaops Kapolri Komjen Pol Dr. Mohammad Fadil Imran menyampaikan bahwa kehadirannya merupakan bentuk perhatian langsung dari Kapolri terhadap kondisi masyarakat di Aceh.
“Bapak Kapolri memerintahkan kami untuk memastikan bantuan ini tiba tepat waktu dan langsung diterima masyarakat yang membutuhkan. Bapak Kapolri ingin memastikan seluruh personel yang bertugas tetap bersemangat menjalankan misi kemanusiaan,” tegasnya, Selasa siang hari itu.
Adapun datang dari Jakarta dari lini Birokrasi, adalah Mendagri, Muhammad Tito Karnavian.
Sayup – sayup, ketika ia melihat langsung kondisi Aceh, mantan Kapolri ini tak kuasa menahan air mata dari balik lensa hitam pekat.
BACA SELENGKAPNYA:
Foto: AIR MATA MENDAGRI SAAT MENINJAU WARGA TERDAMPAK BENCANA ACEH
Hingga saat ini (Januari 2026,-red), pemulihan pasca bencana terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan pusat.
(InsertRakyat.com – Zamroni/Ahmad/Supriadi Buraerah)






















