“Perpustakaan perlu bertransformasi menjadi wisata literasi interaktif, menghadirkan pengalaman belajar menarik, peran aktif pustakawan, serta ruang kreatif agar tetap relevan di era digital.
Oleh Muhammad Subhan
SAYA membayangkan perpustakaan itu semacam objek wisata. Ya, wisata literasi.
Ada pustakawan sebagai pemandu wisata, menyambut dengan senyum mengembang di pintu masuk, wajahnya ceria, tidak merengut, dan menyahut, “Selamat datang di Perpustakaan… (menyebut nama perpustakaan itu).”
Jika saya datang sendirian atau membawa rombongan, pustakawan pemandu wisata tadi memberi arahan, menceritakan sejarah perpustakaan itu, kapan mulai berdiri, apa saja yang ada di dalamnya, dan siapa orang-orang yang mengurusnya.
Setelah itu, ia mengajak saya ke objek wisata pertama yang harus dilihat, yaitu depo arsip. Di sana ia menjelaskan foto-foto bersejarah tentang kota yang terpajang di dinding, maupun manuskrip-manuskrip kuno yang tersimpan di lemari kaca. Ia begitu fasih berkata-kata, menerangkan kisah di balik setiap foto, dan sejarah bagaimana naskah kuno yang tersimpan itu didapatkan, serta secara ringkas menceritakan tentang apa saja isinya.
Sehabis dari depo arsip, saya diajak melihat sebuah ruang tempat buku-buku disortir. Ia bercerita tentang proses pelabelan buku, menerangkan kode nomor (call number) yang tertempel di punggung buku sesuai klasifikasi, dan berkisah begitu asyiknya pekerjaan demikian; berdekat-dekat dengan buku yang tentu juga dibaca.
Sehabis dari ruangan itu, saya diajak ke sebuah spot semacam majalah dinding (mading), dan ia meminta saya menuliskan sepotong puisi, pantun, atau kata-kata motivasi yang dapat ditempelkan di sana. Saya diberi sebuah pena, kertas, dan ia memberi waktu kepada saya untuk asyik-masyuk menulis. Sementara rombongan anak-anak dibawa ke ruangan khusus anak, diperkenalkan dengan sejumlah alat permainan tradisional, dan pustakawan pemandu itu juga tampil mendongeng, atau storytelling, yang disambut tepuk tangan riuh dan tawa gembira anak-anak di hadapannya.
Saya juga diajak ke pojok baca digital, diperkenalkan dengan konsep perpustakaan digital, cara membaca buku-buku digital, dan kemudahan mengakses jutaan literatur hanya melalui satu sentuhan layar, membuktikan bahwa teknologi dan buku konvensional bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.
Dan tentu, sehabis itu, ia membawa saya ke rak-rak yang berisi ribuan buku dan menerangkan bagaimana buku-buku itu berada di sana.
Ia juga menunjuk sebuah rak berisi buku-buku karya penulis-penulis lokal di kota itu. Ia mengutip beberapa profil penulis di sana, menceritakan penggalan kisah di antara karya mereka.
Tentu, saya takjub dan makin penasaran dengan karya-karya itu, selain karya dari penulis lainnya yang buku-buku mereka banyak tersimpan di sana.
Sehabis dari rak buku penulis lokal, saya beranjak memasuki sebuah ruangan studio mini. Saya dipersilakan duduk, dan ia menjelaskan fungsi ruangan itu sebagai tempat diskusi sekaligus ruang nonton bareng. Ia memutarkan sebuah film pendek tentang sejarah kota, atau film-film inspiratif lainnya yang telah menjadi koleksi perpustakaan tersebut.
Sungguh, saya puas dan senang sekali.
Saya benar-benar menikmati wisata literasi di perpustakaan itu. Saya juga ditunjukkan ruang baca yang nyaman, dengan tempat duduk santai, berpendingin ruangan, dan jendela kaca yang lepas pandang ke luar. Di sana saya membaca buku-buku yang saya suka sebelum kemudian saya pinjam jika belum khatam.
Dan sebelum pulang, saya diminta mengisi buku tamu, baik manual maupun digital. Sekaligus saya bertanya bagaimana cara mendapatkan kartu keanggotaan di perpustakaan itu. Prosesnya ternyata tidak sulit. Tak ada birokrasi berbelit. Singkatnya, setelah mengisi lembar pendaftaran dan berfoto, saya langsung menerima kartu keanggotaan.
Tapi sayang, itu hanya imajinasi saya saja. Kenyataannya, sebagian perpustakaan kita masih bertahan dengan kekakuannya dan minim inovasi. Tak jarang pula saya bertemu satu-dua pustakawan yang enggan tersenyum ketika pengunjung datang. Kalau konsepnya wisata, maka senyum menjadi pembuka pintu agar orang terkesan untuk datang dan datang lagi.
Senyum itu tampak sederhana, tetapi memberi ingatan yang dalam. Layaknya ke sebuah toko, membeli sesuatu, kalau karyawan toko atau pemiliknya menyambut dengan senyum bahagia, senang pula orang datang lagi berbelanja. Kalau bawaannya masam saja itu muka, di hati orang terpatri, sekali itu saja ke sana.
Perpustakaan juga harus demikian. Sifatnya juga tidak harus selalu menunggu, tetapi banyak-banyak menjemput bola.
Tak dipungkiri bahwa perpustakaan selama ini terlalu lama berada dalam citra yang hening, kaku, dan cenderung pasif; menunggu orang datang, bukan mengundang. Di era digital yang serba cepat sekarang ini, ketika informasi bisa diakses dari genggaman tangan, perpustakaan tidak cukup hanya menjadi tempat menyimpan buku. Ia harus bertransformasi menjadi ruang pengalaman yang menarik, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Konsep wisata literasi menjadi salah satu jalan keluar yang menarik. Perpustakaan dapat diposisikan sebagai destinasi, bukan sekadar fasilitas. Orang datang bukan hanya untuk mencari buku, tetapi juga untuk merasakan pengalaman apa yang ingin didapatkan: belajar, berinteraksi, berekreasi, sekaligus menemukan inspirasi.
Di sinilah peran pustakawan mengalami pergeseran penting.
Perpustakaan bukan lagi ruang pengelola katalog buku, melainkan pemandu pengalaman. Pustakawan menjadi narator yang menghidupkan isi perpustakaan, menjembatani antara koleksi dan pengunjung. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, pustakawan dapat mengubah rak-rak buku yang diam menjadi kisah-kisah yang bergerak dan hidup.
Bayangkan jika setiap perpustakaan memiliki program tur literasi yang terjadwal. Sekolah-sekolah dapat membawa siswa mereka bukan hanya untuk membaca, tetapi untuk “berwisata pengetahuan.” Komunitas dapat mengadakan kunjungan tematik. Bahkan keluarga dapat menjadikan perpustakaan sebagai pilihan rekreasi edukatif di akhir pekan untuk anak-anaknya.
Lebih jauh lagi, perpustakaan modern perlu menghadirkan ruang-ruang yang mendukung kenyamanan dan kreativitas. Salah satunya adalah kafe literasi. Sebuah ruang di mana pengunjung dapat membaca buku sambil menikmati secangkir kopi, berdiskusi santai, atau bahkan menulis.
Kafe literasi bukan sekadar pelengkap, melainkan jembatan yang menghubungkan budaya membaca dengan gaya hidup masa kini. Kafe literasi dapat dikerjasamakan dengan pihak swasta.
Selain itu, ruang-ruang kreatif seperti studio mini, ruang diskusi, ruang pertunjukan, hingga area bermain edukatif untuk anak-anak dapat memperkaya fungsi perpustakaan. Dengan demikian, perpustakaan menjadi ruang hidup, ruang tumbuh, tempat orang datang, tinggal, berinteraksi, dan kembali lagi.
Namun, fasilitas fisik tersebut (kafe, studio) tidak akan hidup tanpa adanya perubahan paradigma manajemen. Transformasi ini tentu tidak mudah. Ia membutuhkan perubahan cara pandang, dukungan kebijakan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Namun, jika langkah ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, perpustakaan akan menemukan kembali relevansinya di tengah arus digital yang kian deras.
Perpustakaan tidak lagi menjadi tempat yang hanya dikunjungi karena kebutuhan, tetapi karena keinginan. Ia tidak lagi identik dengan kesepian yang menekan, melainkan dengan kehangatan yang mengundang.
Perpustakaan yang hidup adalah perpustakaan yang diceritakan, dikunjungi, dan dirindukan. Sebuah ruang di mana buku tidak hanya dibaca, tetapi dialami. Sebuah tempat di mana pengetahuan tidak hanya disimpan, tetapi dibagikan dengan cara yang menyenangkan.
Jika suatu hari nanti orang berkata, “Mari kita ke perpustakaan,” dengan nada yang sama seperti mereka mengajak berwisata, maka di situlah kita tahu bahwa perpustakaan telah menemukan kembali jiwanya.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
INSERTRAKYAT.COM mengajak masyarakat berkontribusi melalui karya literasi, dan mendapatkan berita terbaru secara mudah, akses tombol WhatsApp.














