Oleh Muhammad Subhan

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump akhirnya melunak. Setelah berminggu-minggu mengumbar ancaman keras terhadap Iran, ia justru menerima gencatan senjata dua pekan dan bersedia masuk ke meja perundingan di Islamabad, Pakistan.

Bagi Iran, ini kemenangan diplomatik. Bukan sekadar jeda perang.

Pakistan, melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif, tampil sebagai mediator penting yang menjembatani Washington dan Teheran. Perundingan dijadwalkan berlangsung 10 April 2026 di Islamabad, dengan agenda utama membahas proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar perdamaian.

Fakta bahwa Amerika bersedia berunding berdasarkan syarat yang diajukan Iran sudah cukup menjelaskan siapa yang kini memegang posisi tawar.

Trump boleh menyebut keputusan itu sebagai “kemenangan total”, tapi retorika tidak selalu sejalan dengan realitas geopolitik. Jika seorang presiden yang beberapa jam sebelumnya mengancam akan “menghancurkan Iran” kemudian menunda serangan dan memilih negosiasi, itu bukan tanda dominasi, tapi kalkulasi ulang, atau lebih jujur lagi: “keterpaksaan”.

Ada satu alasan paling nyata mengapa Washington mundur selangkah. Tak lain karena Selat Hormuz. Ya, AS punya kepentingan krusial terhadap selat itu.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Begitu Iran mengisyaratkan kemampuan menutup atau membatasi akses terhadap Hormuz, pasar energi global langsung terguncang. Harga minyak terancam melonjak, inflasi global bisa meledak, dan ekonomi dunia masuk zona bahaya.

Dalam konteks itulah, ancaman Iran jauh lebih efektif daripada rudal.

Iran tidak perlu menghancurkan Amerika yang secara geografis jauh jaraknya. Cukup membuat dunia percaya mereka mampu mengganggu jalur energi global. Maka, mau tidak mau Washington dipaksa berpikir ulang.

BACA JUGA :  DPR Dorong UU Hukum Perdata Internasional di Tengah Kenaikan Harga Minyak akibat Konflik Timur Tengah

Karena itu, gencatan senjata ini bukan semata buah diplomasi Pakistan. Mediasi itu lahir dari kenyataan strategis bahwa Amerika tidak bisa menanggung biaya perang regional yang lebih luas. Harganya sangat mahal. Kalau terus berperang, ekonomi AS bisa hancur. Ketakutan itu membuat jutaan rakyat AS di berbagai kota berunjuk rasa. Sebagian di antara mereka juga menolak perang.

Lebih menarik lagi adalah isi proposal 10 poin Iran yang kini menjadi dasar negosiasi.

Iran menuntut jaminan non-agresi dari Amerika Serikat. Ini berarti Teheran ingin Washington mengakui bahwa serangan militer terhadap Iran tidak lagi bisa menjadi instrumen kebijakan rutin.

Iran juga meminta pengakuan atas kontrolnya terhadap Selat Hormuz dengan skema navigasi bersama. Artinya, Iran tidak sekadar membuka jalur pelayaran, tapi ingin diakui sebagai pengendali utama kawasan vital itu.

Berikutnya, Iran menuntut pengakuan hak pengayaan uranium. Ini poin paling sensitif. Jika diterima, maka Amerika secara de facto mengakui hak nuklir sipil Iran. Uranium ini menjadi inti pertikaian.

Iran juga meminta pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder AS. Ini bukan tuntutan kecil. Itu berarti Teheran hendak membongkar seluruh rezim tekanan ekonomi Washington.

Yang lebih penting lagi, Iran menuntut penghentian resolusi Dewan Keamanan PBB serta Dewan Gubernur IAEA terkait program nuklirnya sebagai upaya membersihkan stigma internasional.

BACA JUGA :  Indonesia Berpikir Keras, Imbas Konflik Internasional

Selain itu, Iran meminta kompensasi penuh atas kerusakan akibat perang. Poin ini menarik karena jarang ada negara yang baru saja dibombardir lalu menuntut lawannya membayar ganti rugi. Kalau AS menyetujuinya, Iran beruntung.

Iran pun menuntut penarikan pasukan tempur AS dari Timur Tengah. Jika itu terwujud, lanskap geopolitik kawasan akan berubah drastis. Dan terakhir, Iran meminta penghentian perang di seluruh front regional, termasuk Irak, Lebanon, dan Yaman—wilayah-wilayah yang selama ini menjadi arena perang proksi.

Dari sepuluh poin itu, terlihat jelas bahwa Iran tidak datang sebagai pihak kalah yang meminta belas kasihan. Iran datang sebagai pihak yang merasa berhasil memaksa lawannya bernegosiasi.

Tentu, bukan berarti semua tuntutan itu akan dikabulkan. Sebagian besar justru tampak maksimalis dan kemungkinan diajukan sebagai posisi tawar awal. Namun dalam diplomasi, siapa yang menentukan kerangka negosiasi sering kali lebih penting daripada siapa yang menembakkan peluru terakhir.

Amerika kini bernegosiasi dalam kerangka yang ditetapkan Iran.

Di sisi lain, Pakistan patut dicatat sebagai pemenang lain dalam episode ini. Munculnya Pakistan sebagai penengah mengejutkan banyak pihak. Islamabad berhasil memosisikan diri sebagai mediator kredibel di tengah konflik paling berbahaya di Timur Tengah. Peran itu mengangkat kembali profil diplomatik Pakistan di panggung internasional.

Namun, jangan lekas puas dulu. “Kemenangan” Iran ini belum final.

Israel tetap menjadi variabel pengganggu terbesar. Tel Aviv telah menegaskan bahwa mereka tidak terikat sepenuhnya pada dinamika negosiasi AS-Iran dan tetap menganggap program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial. Selama Israel merasa Teheran masih memperkuat posisi strategisnya, kemungkinan sabotase terhadap proses damai tetap terbuka. Israel semacam bisul di dalam daging bagi kedua negara yang tengah menempuh jalan runding.

BACA JUGA :  Informasi Resmi Dari Kemenlu Terkait Kondisi WNI Saat Aksi Demonstran Berlangsung di Negara Iran

Selain itu, ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika juga sangat dalam. Pejabat Iran secara terbuka menyebut mereka memiliki “zero trust” terhadap Washington. Bagi Iran, pengalaman pahit masa lalu menunjukkan bahwa perjanjian dengan Amerika dapat berubah secepat pergantian suasana politik di Gedung Putih.

Karena itu, gencatan senjata ini lebih tepat dibaca sebagai jeda bersenjata daripada perdamaian sejati.

Tapi satu hal tak terbantahkan. Dalam episode ini, Iran berhasil mengubah tekanan militer menjadi leverage diplomatik. Negara yang semula dibidik untuk dipaksa tunduk justru mampu menyeret lawannya ke meja perundingan dengan syarat-syaratnya sendiri.

Trump mungkin akan terus mengklaim kemenangan di depan publik Amerika dengan suara kerasnya. Seperti menghidupkan lampu sen kiri tapi berbelok ke kanan.

Namun, dalam politik internasional, kemenangan tidak diukur dari siapa yang paling keras berteriak. Yang menentukan adalah siapa yang berhasil memaksa lawan menyesuaikan diri.

Dan kali ini, yang menyesuaikan diri adalah Washington.

Iran menang. Setidaknya untuk putaran ini. Setelah dua pekan ke depan, tak seorang pun tahu apa lagi yang akan terjadi.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis. (Follow whatsapp channel). 

💬 Laporkan ke Redaksi