Oleh Muhammad Subhan
MENJADI tahanan itu tidak enak. Ruangnya terbatas pada penjara, bui, atau tangsi. Di sisi kanan dan kiri hanya ada tembok batu. Di depan dan belakang, jeruji besi mengunci ruang gerak.
Sempit, lembap, dan pengap. Tak ada kasur empuk, hanya MCK seadanya dan menu makanan yang sekadar penyambung nyawa.
Dalam kondisi itu, tidur pun tak pernah nyenyak. Saban hari, pikiran para penghuninya berkelindan pada satu pertanyaan: kapan kebebasan itu datang?
Tahanan biasanya diidentikkan dengan pelanggar hukum seperti pencuri, perampok, koruptor, hingga pelaku kejahatan berat lainnya. Setelah vonis hakim dijatuhkan, mereka menyandang status narapidana.
Durasi penahanan bervariasi, dari hitungan bulan hingga seumur hidup. Tak ada manusia yang bersorak saat kebebasannya direnggut. Hati resah, jiwa gelisah.
Secara filosofis, penjara dirancang sebagai instrumen efek jera. Sebuah ruang perenungan agar manusia sadar dan tak mengulangi noktah hitam yang sama. Namun, realitas bicara lain. Ada yang benar-benar bertobat, namun tak sedikit yang justru memupuk kejahatan baru selepas menghirup udara luar.
Dalam konteks spiritual, puasa sejatinya adalah “penjara” yang sengaja kita masuki. Di sana, manusia dilatih menahan diri. Bukan sekadar dari lapar dan dahaga, melainkan dari segala hal yang membatalkan esensi kemanusiaan. Dosa-dosa, baik yang kasatmata maupun yang tersembunyi, coba dikikis.
Lisan dikekang agar tak menghamburkan fitnah. Mata dijaga dari pandangan yang tak semestinya. Telinga disaring agar tak menyerap kesia-siaan. Tangan dilarang merampas hak orang lain. Puasa adalah masa penahanan spiritual; saat jiwa ditundukkan, ego dikendalikan, dan nafsu diredam.
Selama Ramadan, tubuh dilatih dan hati dibasuh. Kedermawanan tumbuh karena manusia merasakan langsung getirnya lapar. Sayangnya, tak semua “tahanan puasa” ini lulus ujian. Pascaramadan, banyak yang kembali ke tabiat lama: lisan kembali tajam, mata kembali liar, dan kaki kembali melangkah ke arah kegelapan. Puasa pun terjebak menjadi ritus belaka, sekadar menahan haus tanpa menyentuh kedalaman jiwa.
Ada fragmen menarik yang dicatat Ali Hasjmy dalam bukunya, “Surat-Surat dari Penjara”. Suatu malam di tahun 1953, di Penjara Pancurbatu, Sumatera Timur, seorang pemuda bernama Bangun menangis tersedu. Ia ditahan karena perampokan. Usianya baru dua puluh lima tahun, seorang ateis yang tak mengenal Tuhan.
Ali Hasjmy, sastrawan sekaligus tahanan politik saat itu, menghampirinya. “Ada apa, Bangun?”
“Dua malam ini saya merasa dikejar oleh sesuatu. Saya tidak tahu apa itu, tapi sangat menakutkan,” jawab Bangun dengan suara serak.
Hasjmy lantas berbisik, “Mungkin itu suara hati kecilmu?”
Bangun mengangguk. Ia menyadari tumpukan dosa yang selama ini disembunyikannya kini terasa disingkap oleh kekuatan gaib. Ia merasa ditagih pertanggungjawaban. Hasjmy menjelaskan bahwa kegelisahan itu adalah cara Tuhan mengetuk pintu hati melalui keheningan batin.
Pertemuan itu menjadi titik balik bagi Bangun. Di dalam penjara, ia justru menemukan jalan lepas. Suatu malam, dengan wajah yang lebih tenang, ia berkata pada Hasjmy, “Sore tadi saya merenungi diri. Saya yakin, di balik alam ini ada kekuatan besar. Mungkin itu Tuhan. Saya percaya… Tuhan itu ada.”
Bangun menjadi manusia baru. Ia menemukan kebahagiaan sejati justru di balik jeruji. Begitulah, penjara bisa menjelma tempat tobat, ruang bagi jiwa untuk mengembara lalu “pulang” ke dalam diri.
Sejatinya, kita tidak selalu butuh jeruji besi untuk menjadi tahanan. Kerap kali, hidup itu sendiri menjadi penjara bagi mereka yang terbelenggu kesibukan, ambisi, dan keangkuhan. Namun, sebagaimana puasa, selalu ada masa jeda yang disediakan agar kita kembali menemukan cahaya.
Tujuannya jelas, agar manusia tidak jemawa. Sebab, dalam hidup ini, tak ada yang layak disombongkan. Harta dan kekuasaan hanyalah titipan yang pada masanya akan diambil kembali oleh Sang Mahapemilik.
Buya Hamka dalam bukunya, “Dari Lembah Cita-Cita”, menegaskan, “Besar manusia dengan akal dan budinya memang. Tetapi Allah lebih besar.” Beliau mengingatkan tentang hancurnya imperium Namrud hingga Fir’aun. Semuanya musnah, menyisakan sebutan semata.
Semoga kita semua, baik yang sedang berada di dalam penjara fisik maupun penjara ambisi di luar sana, mampu menemukan titik balik itu. Menjadi manusia yang merdeka hatinya, hingga saat tiba waktu untuk “pulang”, kita kembali sebagai jiwa yang utuh dan tenang.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis





















