Identitas Budaya dan Nilai Luhur
JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM, – Tradisi adalah wujud identitas suatu masyarakat. Disini memuat nilai, keyakinan, dan falsafah hidup yang diwariskan turun-temurun. Tradisi juga menjadi pondasi pembentuk identitas nasional, karena keberagaman lokal inilah yang menyatukan Indonesia.
Berkaca pada satu pemusatan (misalnya) di Sulawesi Tenggara, masyarakat Muna dan Buton memelihara sebuah tradisi bernama Haroa. Bagi mereka, Haroa adalah ritual, sekaligus sarana silaturahmi, doa, dan dakwah yang menyatukan keluarga maupun komunitas. Nilai-nilai spiritual dan sosial yang melekat menjadikan Haroa terus bertahan dari masa ke masa. Kini pun masih awet dan dijaga kearifannya.
Secara etimologis, kata Haroa memiliki arti berbeda di dua bahasa lokal. Dalam bahasa Muna, haro berarti “sapu” atau “membersihkan”, menandakan upaya pensucian diri. Sementara dalam bahasa Wolio (Buton), Haroa dimaknai sebagai “perayaan” atau “syukuran”.
Makna tersebut menggambarkan dua dimensi utama tradisi ini: spiritualitas (pembersihan hati) dan kebersamaan (perayaan syukur). Inilah yang membuat Haroa istimewa: ia menyatukan aspek religius, budaya, sekaligus sosial.
Haroa biasanya digelar pada momen-momen seperti berikut.
- Menyambut bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
- Merayakan keberhasilan anggota keluarga, seperti kelulusan atau pencapaian lainnya.
- Sebagai doa keselamatan agar terhindar dari bencana.
Tradisi ini menegaskan bahwa doa dan syukur tidak hanya diwujudkan secara individual, melainkan melalui kebersamaan keluarga dan masyarakat.
Di Muna, Haroa dikenal dengan istilah “baca-baca”, yang dihubungkan dengan masa Kerajaan Wuna ketika dipimpin La Ode Abdul Rahman (Sangia Latugho). Di Buton, dikenal pula Haroa Qunut atau malona qunua yang telah hadir sejak masuknya Islam di Kesultanan Buton abad ke-16.
Haroa dipimpin oleh tokoh agama yang disebut Modhi atau Lebe. Kedudukan mereka sangat sakral, sehingga pengangkatannya melalui musyawarah tokoh adat dan pemerintahan. Jumlahnya pun terbatas, biasanya hanya satu atau dua orang tiap kampung.
Keberadaan Modhi begitu penting hingga masyarakat sering “berebut” jadwalnya saat musim Haroa. Fenomena ini dikenal dengan istilah “menculik Modhi”, menggambarkan betapa besar kepercayaan masyarakat terhadap peran pemimpin doa tersebut.
Salah satu ciri khas Haroa adalah dulang, yaitu wadah besar berkaki (tala) yang ditutup dengan tudung saji (katu bangko). Sajian makanan dalam dulang disusun secara estetis, mengikuti aturan tertentu agar tampak rapi.
Makanan tradisional yang dihidangkan antara lain:
- Lapa-lapa (nasi ketan khas Sultra).
- Ayam parende dan manu nasu wolio (ayam masak khas Wolio).
- Pisang raja, telur rebus, ubi goreng (ngkaowi-owi).
- Aneka kue tradisional seperti onde-onde, wajik, cucur, baruasa, sanggara (pisang goreng khas), epu-epu, dan bolu.
Penataan makanan secara estetis, bahkan juga sarat filosofis. Misalnya, jumlah piring ganjil dipakai untuk Haroa bulan baik, sementara jumlah genap dipakai untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. (Alfatihah,-red).
Ada lima kue tradisional yang selalu hadir dalam dulang Haroa:
- Cucur (Susuru/Cucuru) – berbahan beras ketan, gula merah, santan.
- Waje (Wajik) – ketan putih dan gula merah, simbol keteguhan.
- Ngkea-ngkea – pisang, tepung, dan gula merah, digoreng renyah.
- Srikaya – puding tradisional berbahan telur dan gula merah, khusus untuk Haroa.
- Sanggara – pisang goreng khas, tanpa balutan tepung.
Kelima sajian ini merepresentasikan rasa syukur sekaligus identitas kuliner masyarakat Muna dan Buton.
Haroa bukan hanya tradisi kuliner namun juga gawang nilai-nilai kebermanfaatan.
- Spiritual: doa bersama agar diberi keselamatan.
- Sosial: mempererat hubungan keluarga, tetangga, dan komunitas.
- Budaya: menjaga warisan leluhur dari kepunahan.
- Estetika: menekankan kerapian dan keindahan dalam penyajian makanan.
Nilai-nilai tersebut meneguhkan bahwa Haroa adalah simbol dakwah yang dikemas dengan budaya lokal.
Meski zaman terus berubah, Haroa tetap lestari. Bukan hanya di Muna dan Buton, melainkan juga diadopsi oleh komunitas lain di Sultra dan masyarakat asal Sultra yang kini berada di rantaun misalnya Jakarta, Madura, Kalimantan, dan Singapura.
Pemerintah daerah bersama komunitas lokal kini menjadikan Haroa sebagai bagian dari promosi budaya. Tradisi ini menjadi kebanggaan masyarakat, sekaligus bukti kekayaan warisan Nusantara. Patut bersyukur, karena ada-Nya.
Bagi perantau asal Muna dan Buton, Haroa memiliki potret nostalgia. Mereka menjadi momen untuk berkumpul, saling memaafkan, dan memperkuat ikatan kekeluargaan.
Tradisi Haroa adalah gambaran bagaimana budaya, agama, dan kebersamaan berkelindan menjadi satu. Gabungnya melampaui sekadar ritual adat, menjelma sebagai perekat sosial yang terus hidup di tengah modernitas.
Sebagaimana dikatakan penulis dan pegiat budaya, Haroa adalah tradisi penuh makna yang mencerminkan keindahan, kerapian, dan persaudaraan masyarakat Muna dan Buton.
Haroa bukan hanya tradisi syukuran. Namun juga adalah simbol dan warisan budaya yang meneguhkan identitas masyarakat Muna dan Buton. Dengan nilai-nilai yang diwariskan leluhur, Haroa terus bertahan sebagai wujud kearifan lokal dan bagian dari kekayaan budaya bangsa. Semoga artikel ini memberikan manfaat bagi masyarakat Nasional.
JAKARTA, 1 September 2025.
Penulis: Sultan Musa – Traveller & Penulis Buku.
Editor: Supriadi Buraerah, Penulis Novel Cinta dalam genggaman Anak Pungut: menceritakan ketimpangan sosial pada era modern.
BACA SELENGKAPNYA >> klk oke: Pohon Jiwa Jiwa Kehidupan, Sultan Musa























