Oleh Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

BAGI SAYA perilaku Generasi Z di media sosial itu unik. Mereka punya akun di berbagai platform, khususnya Instagram, tapi sebagian akun itu sepi. Nyaris tanpa unggahan. ‘Zero post’.

Bahkan, tak jarang konten yang sempat dibagikan justru dihapus kembali.

Berbeda dengan Gen Milenial atau X. Media sosial mereka ramai oleh foto, status, dan cerita personal. Perilaku Gen Milenial atau X ingin terlihat, sementara Gen Z ingin melihat tanpa terlihat.

Kalaupun sesekali terlihat, lebih sering unggahan Gen Z tak terlihat.

Sudah pasti, tak terlihat di situ bukan berarti Gen Z tidak aktif. Mereka generasi ‘digital natif’ yang sulit melepaskan ponsel dari genggamannya. Kepala mereka sering menunduk. Jari mereka terus menggulir layar, teliti melihat atau membaca sebuah konten yang ditemukan, menyukai, menyimpan, mengikuti tren, dan lainnya.

Mereka ada, tapi seolah tak ada.

Fenomena ‘zero post’ bukan istilah akademik yang baku, tapi cukup populer dalam membaca perilaku digital Generasi Z, bahkan Generasi Alpha.

Istilah ini merujuk pada akun yang hampir tidak pernah memposting apa pun di ‘feed’ media sosial mereka. Kosong. Atau hanya menyisakan satu-dua unggahan lama sebagai penanda bahwa akun itu pernah membagikan konten.

Gen Z dan Alpha tetap konsumen aktif. Mereka menonton video pendek, membaca komentar, mengikuti isu, bahkan terlibat dalam percakapan, tapi lebih sering melalui ruang privat seperti pesan langsung atau grup kecil sesama mereka.

BACA JUGA :  Sudah Tujuh Tahun Kami Bergerak, Tak Ada Sesuatu yang Membuat Kami Kuat

Ada beberapa lapis alasan yang menjelaskan mengapa generasi ini memilih jalan “tidak terlihat”.

Mereka sadar akan privasi. Generasi Z tumbuh bukan dalam euforia awal media sosial, melainkan dalam fase ketika risiko digital sudah nyata seperti kebocoran data, perundungan daring, hingga jejak digital yang bisa menghantui masa depan.

Mereka belajar dari generasi sebelumnya yang terlalu mudah berbagi. Prinsipnya, apa yang tidak diunggah, tidak bisa disalahgunakan.

Alasan lain adalah tekanan sosial yang kian halus tetapi kuat.

Media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi, tapi juga arena kurasi diri. Hidup terasa seperti panggung yang menuntut kesempurnaan. Harus bahagia, harus produktif, atau harus menarik. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit yang memilih mundur. Bukan keluar dari media sosial, tetapi keluar dari tuntutan untuk tampil.

Selain itu, terjadi kelelahan digital. Arus informasi yang tak pernah berhenti melahirkan kejenuhan. Setiap hari ada tren baru, standar baru, bahkan kecemasan baru. Dalam situasi seperti itu, menjadi penonton terasa lebih ringan daripada menjadi pencipta. Konsumsi lebih nyaman daripada produksi.

Berikutnya, pergeseran ruang ekspresi. Banyak dari mereka sebenarnya tetap aktif, tapi tidak di ruang publik. Mereka memiliki akun kedua, akun privat, atau lingkaran kecil tempat mereka merasa lebih nyaman dan aman.

BACA JUGA :  Narasi Kota: Cara Sebuah Kota “Diceritakan” | Oleh Muhammad Subhan

Di sana, mereka bisa lebih jujur, lebih cair, tanpa tekanan audiens yang luas.

Dengan kata lain, mereka tidak berhenti berekspresi. Mereka hanya memindahkan panggungnya.

Fenomena ini juga bisa dibaca sebagai kritik diam-diam terhadap budaya media sosial itu sendiri. Setelah era ‘over-sharing’, di mana segala hal dibagikan, dari yang remeh hingga yang intim, lahir generasi yang justru memilih menyaring, bahkan menahan diri.

Ada semacam kesadaran baru bahwa eksistensi tidak selalu harus terlihat. Bahwa nilai diri tidak harus ditentukan oleh jumlah unggahan, jumlah suka, atau jumlah pengikut.

Dalam konteks ini, ‘zero post’ bukanlah ketiadaan, melainkan pilihan.

Ya, pilihan untuk mengontrol diri. Pilihan untuk menjaga batas. Pilihan untuk tidak selalu ikut arus.

Menariknya, pilihan ini juga mengubah cara kita memahami kehadiran di ruang digital. Jika dulu kehadiran diukur dari visibilitas, seberapa sering muncul, seberapa ramai interaksi, kini kehadiran bisa bersifat diam. Tidak tampak, tapi tetap ada. Tidak bersuara, tapi tetap menyimak.

Generasi ini mengajarkan bahwa menjadi pengamat juga merupakan posisi yang aktif. Bahkan, dalam banyak hal, lebih reflektif. Mereka melihat lebih banyak, menyerap lebih dalam, dan sering kali lebih kritis terhadap apa yang mereka konsumsi.

BACA JUGA :  Sinjai Tanpa Master Plan Kota!

Dari fenomena ini, ada pelajaran penting yang bisa kita tarik. Tidak semua hal perlu dibagikan. Di tengah budaya yang mendorong keterbukaan tanpa batas, kemampuan untuk menahan diri justru menjadi bentuk kedewasaan.

Dan, generasi ‘zero post’ menunjukkan bahwa kehati-hatian adalah bagian dari kecerdasan.

Relasi sosial tidak selalu harus luas. Ada pergeseran dari kuantitas ke kualitas. Dari ingin dilihat banyak orang menuju ingin dipahami oleh orang yang tepat.

Eksistensi mereka, diam bukan berarti pasif. Dalam dunia yang serba reaktif, memilih tidak bereaksi bisa menjadi bentuk kontrol diri yang kuat.

Barangkali kita memang sedang menyaksikan fase baru dalam budaya digital. Dari yang semula berisik dan penuh pamer, menuju yang lebih sepi dan selektif. Dari yang serba terbuka, menuju yang lebih terjaga.

Jika generasi sebelumnya berlomba untuk terlihat, generasi ini justru belajar untuk tidak selalu terlihat. Dan mungkin, di situlah letak paradoks sekaligus kekuatannya. Mereka tidak ingin dilihat semua orang, tapi ingin dipahami oleh orang yang tepat.

Dalam dunia yang semakin bising, pilihan untuk diam ternyata bukan berarti kehilangan suara, namun cara elegan untuk tetap utuh menjaga privasi dan kewarasan.

(Muhammad Subhan). Dapatkan berita penting dan menarik Follow whatsapp channel)

💬 Laporkan ke Redaksi