LAUT tampak biru, tapi biru itu seperti menyimpan sesuatu. Sembilan kapal datang dari arah berbeda, membawa raja-raja dengan maksud yang tidak sepenuhnya jujur. Mereka bilang mencari “berita cinta,” tapi cara mereka mencarinya terasa seperti ada yang ingin ditukar.
Abunawas berdiri di perahu kecil, memperhatikan.
Raja pertama membawa emas. Ia yakin angin bisa dibeli. Laut tidak menolak, tapi kapalnya tenggelam pelan oleh beratnya sendiri.
Raja kedua membawa suara. Ia berteriak meminta jawaban, lalu percaya pada gema yang kembali. Padahal ia hanya mendengar dirinya sendiri.
Raja ketiga membawa kekuatan. Ia siap menaklukkan apa pun. Namun kapalnya saling menghancurkan tanpa musuh.
Raja keempat membawa cermin. Ia ingin melihat cinta, tapi hanya menemukan wajahnya sendiri. Ia marah, lalu melempar cermin itu.
Raja kelima membawa telur—empat puluh jumlahnya. Ia ingin semuanya tetap utuh. Tapi satu retak, dan dari retakan itu lahir kehidupan. Ia terdiam.
Raja keenam membawa aturan. Ia ingin mengatur angin. Lembarannya justru hilang ke laut.
Raja ketujuh memilih keteguhan. Kapal batunya tenggelam cepat.
Raja kedelapan datang dengan kosong. Ia mencicipi air laut, menerima rasanya tanpa protes.
Raja kesembilan hanya diam. Ia mendengar. Dan kapalnya berhenti tanpa dipaksa.
Abunawas berkata pelan, “Yang kalian cari bukan untuk ditukar.”
Angin lewat. Laut tetap diam. Namun di dalam diam itu, ada sesuatu yang terasa—seperti kebenaran yang enggan disebut, tapi tak bisa disembunyikan. “Tunggu KPK”.


















