BANDA ACEH, INSERTRAKYAT.com — Anggota DPR RI asal Aceh, Muslim Ayub, turun langsung ke wilayah terdampak banjir selama hampir 30 hari. Beliau memastikan distribusi bantuan darurat, pemulihan infrastruktur, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga berjalan efektif. Senin, (5/12/2025).
Sebelumnya, pada 29 November, Muslim Ayub memasuki Aceh Barat dan Nagan Raya. Di sana beliau melihat langsung permukiman terendam lumpur setinggi betis, listrik padam, dan jalan putus. .
Sehari kemudian, legislator ini meninjau Trumon, Aceh Selatan, di mana beberapa titik hanya dapat dilalui kendaraan khusus dan logistik harus dipikul manual. “Banjir tidak sekadar merendam rumah, tetapi memutus jalur kehidupan warga,” ujarnya.
2 Desember, Muslim Ayub meninjau Aceh Singkil, mendapati desa-desa terisolasi oleh genangan. Anak-anak bermain di genangan air, sedangkan orang tua berjibaku menyelamatkan harta benda. Seorang warga mengeluh, “Sudah berminggu-minggu begini, Pak.” 4–5 Desember, ia menyisir Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, dan meninjau 23 pengungsi di Rumah Bundar, Desa Mbarung, yang hidup dengan fasilitas terbatas setelah banjir bandang menghancurkan dua desa.
24–28 Desember, ia mengunjungi Desa Uyem Beriring dan Kampung Pasir (Gayo Lues), Desa Bandar Khalifah (Aceh Tamiang), serta Desa Rumoh Rayeuk dan Menasah Mancang (Aceh Utara & Pidie Jaya). Ia melihat listrik dan fasilitas publik sebagian besar belum pulih; ribuan warga masih bergantung pada bantuan darurat. “Sebulan lebih, masih ada desa yang listriknya mati, akses sangat sulit, dan warganya hidup dalam keterbatasan,” katanya.
Muslim Ayub menyatakan bencana Aceh memutus rantai sosial, pendidikan, dan ekonomi. Ia bergerak bersama TNI, Polri, dan elemen partai politik, untuk mempercepat distribusi logistik, menanggulangi pengungsi, serta memulihkan fasilitas publik. “Di tengah kepungan air yang tak kenal belas kasihan, saya hadir langsung, menyapa warga satu per satu, menggenggam tangan mereka, dan memastikan mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian,” ujarnya.
“Tidak boleh ada yang berpangku tangan. Kita harus bersatu, bahu-membahu, dan memperkuat solidaritas. Aceh harus bangkit. Dan kita akan bangkit bersama,” kunci Muslim Ayub.






















