JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM, — Keluarga adalah poin utama dalam membangun sumber daya manusia di Indonesia. Jum’at, (5/9/2025). Berangkat dari sana, Keluarga juga merupakan rumah utama sekaligus sekolah pertama bagi anak, tempat anak mengenal kasih sayang, budaya luhur, dan budi pekerti.

Namun, saat ini, di Indonesia [keluarga] sedang menghadapi ujian Nasional terkait dengan teknologi digital seperti Handphone (gadget) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ironisnya, Layar gadget lebih sering menatap anak-anak daripada mata orang tuanya. Suara notifikasi HP jauh lebih nyaring dari suara tawa keluarga.

Hal demikian diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno saat membuka kegiatan Aksi Keluarga Indonesia di Kantor Kemenko PMK, pada Kamis baru – baru ini.

Pratikno bilang, dunia maya lebih menarik dibandingkan dunia nyata di sekitar generasi.

“Ini adalah tantangan yang belum pernah ada sebelumnya,” imbuh Pratikno dalam kegiatan tersebut yang juga dirangkaikan dengan akselerasi Kolaborasi Keluarga Indonesia dalam Rangka Mewujudkan SDM Unggul dan Berakhlak.

“Kita tidak boleh membiarkan teknologi merenggut kehangatan keluarga kita. Kita tidak boleh membiarkan AI menggantikan kasih sayang orang tua. Ini harus kita sikapi bersama dengan komitmen kuat,” tegas Pratikno.

Pratikno lalu menawarkan delapan panduan yang disebutnya “Asta Mantra” guna membangun keluarga berkualitas di era digital.

Pertama, Kurangi Screen Time, Perbanyak Green Time. Dengan mengajak anak berinteraksi dengan alam;

Kedua, Bangun Kota dan Desa yang Liveable dan Lovable, kota desa ramah keluarga melalui ruang publik, taman, dan trotoar yang aman.

Ketiga, Orang Tua Harus Menjadi Pengasuh Efektif, hadir sebagai pengasuh utama, bukan gadget;

Keempat, Hidupkan Nilai Agama dan Akhlak Mulia, sebagai benteng moral keluarga.

Kelima, Lestarikan Budaya Luhur Bangsa, agar budi pekerti jadi kebiasaan, bukan sekadar pelajaran;

Keenam, Aktifkan Solidaritas ke tetanggaan, gotong royong sebagai benteng sosial.

Ketujuh, Kolaborasi Lintas Sektor, antara pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat, ulama, dan tokoh adat.

Kedelapan, Manfaatkan Digital Untuk Koordinasi, Bukan Memecah Belah, teknologi digital untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi.

Pratikno menyampaikan bahwa Asta Mantra ini tidak mudah untuk dijalankan, tetapi harus dilakukan.

Kendati demikian, Forum ini menjadi wadah untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun SDM Indonesia yang berangkat dari dalam diri masing-masing Keluarga.

Turut hadir pula JPT Madya dan Pratama Kemenko PMK, para peserta dari kalangan mahasiswi IIQ Jakarta, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenko PMK.

Hadir pula Generasi Berencana (Genre) serta perwakilan dari kementerian/ lembaga, pemerintah daerah, akademisi, mitra pembangunan serta peserta lain yang mengikuti secara luring maupun daring.****