Data Pemerintah mencatat sebanyak 6.000 warga korban bencana Sumatera masih tinggal di tenda pengungsian hingga Sabtu, (7/3/2026).

Jumlah tersebut telah menurun sedikit dari 11.000 orang pada pekan sebelumnya.

Sebagian besar warga masih mengunsi di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, [daerah] seperti Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

Di sana warga masih melantai saat berbuka puasa dan sahur di dalam tenda – tenda lapuk setiap hari.

Sebenarnya warga mengungsi sudah cukup lama, dari tahun lalu, sejak bencana melanda Sumatera.

Bencana melanda Sumatera ini berlangsung pada November – Desember 2025. Pemerintah mengklaim penyebab bencana dipicu oleh faktor cuaca ekstrem, salah satunya.

Saat ini pemerintah menargetkan, semua pengungsi akan dipindahkan dari tenda ke Huntara.

BACA JUGA :  Pemerintah Pacu Pembangunan Hunian Tetap Untuk Korban Bencana Sumatera

Pemindahan dipusatkan rampung sebelum hari raya Indul Fitri 1447 Hijriah.

Muhammad Tito Karnavian, Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, mengungkapkan target ini terus diupayakan terealisasi.

Tito menjelaskan, untuk mencapai target tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan huntara dan distribusi bantuan sosial.

“Target kami, sebelum Lebaran, pengungsi harus sudah tidak lagi di tenda,” tegas Tito saat meninjau huntara di Pidie Jaya, Aceh, pada Jumat (6/3/2026) siang hari.

Di Sumatera Barat, sebut Tito (menyatakan, -red), seluruh pengungsi sudah dipindahkan ke huntara.

“Di Sumbar, pengungsi sudah tidak ada lagi yang tinggal di tenda,” ulang Tito.

BACA JUGA :  Tito Karnavian Sebut Pembangunan Sumur Bor dan MCK Pascabencana Sumatera Masih Tertinggal

 

Menurutnya, jumlah pengungsi yang tinggal di tenda saat ini mengalami penurunan signifikan.

“Dari 11.000 orang pada minggu lalu, kini angka tersebut sudah turun dengan tersisa menjadi 6.000 (menyusut 5000 orang), ” Klaim Tito.

Pemerintah tetap fokus pada percepatan pemindahan pengungsi ke tempat tinggal yang lebih layak.

Semua pengungsi akan mendapatkan hunian sementara (huntara) atau dana tunggu hunian (DTH) jelang lebaran.

Selain mempercepat pembangunan huntara, pemerintah juga menyediakan dukungan logistik untuk pengungsi.

Kebutuhan makanan pengungsi akan ditanggung oleh BNPB selama 10 hari ke depan.

Setelah itu, bantuan makanan akan beralih ke uang lauk pauk atau jadup dari Kementerian Sosial.

BACA JUGA :  Mendagri Dorong Optimalisasi Fungsi Keuchik sebagai Basis Akselerasi Pendataan Hunian Pascabencana di Aceh

Skema bantuan tersebut akan diberlakukan setelah masa transisi selesai (tenda ke Huntara).

Tito juga meninjau berbagai model huntara yang dibangun pemerintah untuk warga terdampak bencana.

Huntara yang dibangun oleh BNPB misalnya, tidak dilengkapi ranjang, namun memiliki dapur dan toilet pribadi.

Sebaliknya Huntara yang dibangun oleh Danantara dan Kementerian Pekerjaan Umum dilengkapi ranjang, kipas angin, namun dapur dan kamar mandinya bersifat komunal.

Tito didampingi oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Aceh Fadlullah, dan Direktur Jenderal Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Safrizal ZA dalam kunjungan tersebut.

“Kunjungan ini bertujuan memastikan kelancaran distribusi bantuan dan pemindahan pengungsi ke tempat tinggal yang layak,” tandasnya.

 Ikuti Berita Insertrakyat.com