Oleh Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

SEJAK kecil saya mendapat pelajaran afirmasi dari orang tua dan guru mengaji di surau. “Kalau rajin memberi,” kata mereka, “akan banyak mendapat.”

Mendapat tidak selalu dari pintu yang sama saat memberi. Bisa jadi pintu pertama tidak memberikan apa-apa, bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Tapi pintu-pintu lain itu tak jarang memberi kembali, bahkan jumlahnya terkadang lebih banyak daripada yang kita berikan di pintu pertama.

Saya termakan “kaji afirmasi” itu, apalagi yang menyampaikannya adalah orang tua dan guru. Ditambah lagi pengalaman saya makan asam garam kehidupan di rantau yang berat. Kebertahanan saya dari berbagai masalah sering kali karena afirmasi.

Bahkan di saat pada titik tertentu tidak punya apa pun, saya masih berusaha berafirmasi. “Ya sudahlah, sabar. Kalau tidak sabar, mau apa lagi coba?” Itu kata saya menenangkan diri sendiri, pun orang-orang yang saya tenangkan karena hubungan keluarga maupun persaudaraan.

Tapi sabar itu memang tidak mudah. Ujiannya berat. Tidak banyak yang kuat. Pada titik tertentu, terkadang saya juga merasa tidak kuat. Tapi akhirnya dikuat-kuatkan juga.

Jika benar-benar kuat, ujian pada akhirnya selesai. Atau lebih ringan. Atau ada bantuan yang datang dari pintu-pintu di mana saja tadi itu. Buah dari afirmasi.

BACA JUGA :  Mendagri Dorong Pemda Lakukan Analisis dan Simulasi Untuk Percepatan Pengangkatan CASN

Afirmasi, dalam pengalaman saya, bukan sekadar kata-kata manis untuk membohongi diri. Afirmasi adalah cara kita berbicara kepada batin agar tidak layu sebelum waktunya. Afirmasi seperti tali yang mengikat perahu di tengah ombak, agar tidak hanyut terlalu jauh.

Saya pernah berada pada masa ketika usaha yang dirintis tidak menunjukkan hasil. Hari-hari terasa panjang, sementara harapan seolah menipis. Pada masa itu, yang tersisa hanya kalimat-kalimat yang saya ulang-ulang: tetap jalan, tetap berbuat baik meski yang baik tidak selalu baik di mata orang, hasil akan menemukan jalannya sendiri, dan afirmasi lainnya. Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tetapi justru dari yang biasa itu kekuatan perlahan tumbuh.

Afirmasi bekerja pelan. Hampir tak terasa.

Kerjanya tidak langsung mengubah keadaan, tetapi mengubah cara kita memandang keadaan.

Dari situ, langkah lebih baik menjadi mungkin. Dan dari langkah kecil itulah perubahan besar sering bermula.

Ada banyak bentuk afirmasi yang bisa kita lakukan. Tidak selalu harus dalam kalimat yang besar atau puitis. Kadang justru yang sepele lebih mengena. Misalnya, saat menghadapi kegagalan, kita bisa berkata kepada diri sendiri: ini bukan akhir, ini bagian dari proses.

BACA JUGA :  Mendagri Dorong Pemda Lakukan Analisis dan Simulasi Untuk Percepatan Pengangkatan CASN

Sederhana sekali, tapi mampu menahan keinginan menyerah terlalu cepat.

Atau saat merasa tidak dihargai, kita bisa mengingatkan diri pula: saya tetap berharga, meski tidak semua orang melihatnya hari ini. Dengan begitu, kita tidak menggantungkan harga diri pada pengakuan orang lain semata.

Dalam keseharian, afirmasi juga bisa berupa kebiasaan rutin. Bangun pagi dengan niat baik. Mengucapkan terima kasih, meski kepada hal-hal yang tampak sepele. Menahan diri untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan juga adalah afirmasi. Semua itu adalah bentuk motivasi dalam tindakan.

Ada pula afirmasi yang lahir dari memberi. Memberi waktu, tenaga, perhatian, atau sekadar mendengarkan. Kadang kita tidak melihat hasilnya segera. Bahkan bisa jadi tidak pernah tahu hasilnya. Tapi seperti pelajaran di surau dulu, pintu-pintu itu tidak pernah benar-benar tertutup.

Saya pernah melihat seseorang yang tetap ringan tangan membantu meski hidupnya sendiri tidak berlebih. Malah terkadang lebih susah dari orang yang dibantunya. Namun, bertahun-tahun kemudian, tanpa diduga, ia mendapat pertolongan besar dari orang yang bahkan tidak ia kenal dekat. Seolah-olah Semesta mencatat diam-diam semua kebaikan itu, lalu mengembalikannya pada waktu yang tepat.

BACA JUGA :  Mendagri Dorong Pemda Lakukan Analisis dan Simulasi Untuk Percepatan Pengangkatan CASN

Banyak orang mampu berafirmasi dan kiatnya bermacam-macam. Dari mereka saya juga belajar bagaimana berafirmasi, seperti mengulangi kalimat baik kepada diri sendiri, terutama saat keadaan sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, tentu tak cukup dengan kata, perlu menyertai tindakan, sekecil apa pun.

Dari semua itu, yang paling penting adalah bersabar pada proses, karena afirmasi bukan sulap yang bekerja seketika. Juga tetap membuka hati pada kemungkinan bahwa kebaikan akan kembali dari arah yang tak disangka.

Afirmasi bisa datang ketika hidup terasa sulit. Afirmasi tidak menghapus luka, tapi membantu kita bertahan agar luka itu tidak menjadi alasan untuk berhenti berjalan.

Di usia yang sudah kepala empat, saya kembali teringat pelajaran dari orang tua dan guru di surau semasa di kampung itu. Memberi, lalu menerima. Sabar, lalu kuat. Percaya, lalu menemukan jalan.

Kalau jalan tidak juga bertemu, bawa jalan-jalan. Pokoknya nikmati dan jangan dijadikan “gunda guling “, sebab kita semua dari; dan akan kembali ke dalam tanah”.

⚡ WhatsApp Insertrakyat

Informasi, komunitas & layanan pembaca

GRUP WHATSAPP
▶ Gabung Grup Diskusi
SALURAN WHATSAPP
▶ Ikuti Saluran Resmi
KONTAK ADMIN
▶ Hubungi Admin
● ONLINE • 0813-5481-214