Oleh Muhammad Subhan.
SAMPAI kemarin, konflik di Timur Tengah belum juga mereda, bahkan cenderung meningkat. Kekuatan-kekuatan besar saling berhadapan, dan dunia kembali diingatkan bahwa setiap percikan perang di satu kawasan dapat menjalar menjadi gelombang krisis global.
Indonesia, meski jauh secara geografis, tidak pernah benar-benar berada di luar lingkar dampaknya.
Salah satu yang paling terasa adalah ancaman terhadap pasokan energi. Jalur distribusi minyak dunia yang strategis berada di kawasan yang kini memanas. Jika jalur itu terganggu, efek berantainya akan panjang: harga melonjak, distribusi tersendat, dan negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Dalam situasi seperti ini, wajar jika pemerintah mulai memikirkan langkah-langkah penghematan.
Dari sinilah wacana itu muncul: sekolah daring sebagai bagian dari strategi mengurangi konsumsi bahan bakar. Logikanya sederhana: mengurangi mobilitas berarti menekan penggunaan energi.
Namun nyatanya, persoalannya tidak sesederhana itu. Dunia pendidikan bukan sekadar soal pergerakan fisik dari rumah ke sekolah, melainkan ruang hidup yang membentuk pengetahuan, karakter, dan masa depan generasi.
Pengalaman pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu semestinya menjadi cermin yang cukup jernih. Ketika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diterapkan secara masif, banyak persoalan muncul ke permukaan.
Salah satu yang paling terasa adalah terjadinya “learning loss”, yaitu kehilangan pembelajaran yang dampaknya tidak kecil. Anak-anak tidak hanya tertinggal secara akademik, tetapi juga kehilangan ritme belajar yang sehat.
Interaksi yang terbatas antara guru dan siswa membuat proses belajar menjadi kering. Materi memang tersampaikan, tetapi tidak selalu dipahami. Diskusi yang seharusnya hidup berubah menjadi satu arah.
Bahkan, tidak sedikit siswa yang sekadar “hadir” secara administratif, tetapi tidak benar-benar belajar. Dalam jangka panjang, ini menciptakan jurang yang sulit dijembatani.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah kesenjangan akses.
Tidak semua siswa memiliki perangkat yang memadai atau jaringan internet yang stabil. Di kota-kota besar, mungkin persoalan ini terasa ringan. Namun, di banyak daerah, keterbatasan itu nyata.
Akibatnya, pembelajaran daring justru memperlebar ketimpangan pendidikan.
Belum lagi soal motivasi belajar. Ketika ruang kelas berpindah ke layar ponsel atau laptop, disiplin ikut bermasalah. Tanpa pengawasan langsung, banyak siswa kehilangan fokus. Godaan gawai bukan hanya untuk belajar, tetapi juga hiburan. Pada titik tertentu, batas antara keduanya menjadi kabur. Yang tersisa hanyalah kelelahan, baik bagi siswa maupun guru.
Dari sisi psikologis, pembelajaran jarak jauh juga meninggalkan jejak yang tidak sederhana. Rasa jenuh, stres, dan keterasingan menjadi bagian dari keseharian.
Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang interaksi sosial, berubah menjadi aktivitas individual yang terisolasi. Padahal, pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan sosial.
Dalam konteks ini, menjadikan sekolah daring sebagai solusi penghematan energi perlu dipikirkan ulang secara matang. Jangan sampai kita menghemat hari ini, tetapi membayar mahal di masa depan.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Setiap kebijakan yang menyentuhnya harus dihitung dengan cermat, bukan sekadar respons cepat terhadap situasi.
Jika efisiensi memang harus dilakukan, pendekatan yang lebih bijak adalah mencari jalan tengah. Pembelajaran hibrida (hybrid learning), misalnya, bisa menjadi alternatif. Kegiatan yang bersifat teoretis dapat dilakukan secara daring, sementara praktik tetap dilakukan secara tatap muka.
Dengan demikian, kualitas pembelajaran tetap terjaga tanpa sepenuhnya mengabaikan kebutuhan penghematan.
Selain itu, pengaturan jadwal juga dapat menjadi solusi. Sistem bergiliran atau shift memungkinkan pengurangan mobilitas tanpa menghilangkan interaksi langsung. Siswa tetap datang ke sekolah, tetapi dalam jumlah yang lebih terkendali.
Ini bukan hanya soal efisiensi energi, tetapi juga menjaga esensi pendidikan itu sendiri.
Di sisi lain, pemerintah perlu meninjau kembali prioritas penghematan. Pendidikan seharusnya menjadi sektor yang dilindungi, bukan dikorbankan. Efisiensi bisa dilakukan di banyak lini lain yang tidak berdampak langsung pada kualitas generasi masa depan.
Sebab, ketika pendidikan terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga puluhan tahun ke depan.
Perlu diingat, sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat nilai-nilai ditanamkan, dan karakter dibentuk. Di sana, anak-anak belajar tentang disiplin, kerja sama, empati, dan tanggung jawab. Hal-hal ini tidak mudah ditransfer melalui layar digital.
Gagasan untuk menghemat energi tentu patut diapresiasi. Namun, cara mencapainya tidak boleh mengabaikan dimensi lain yang lebih mendasar. Pendidikan tidak bisa diperlakukan seperti sektor lain yang bisa dengan mudah dipangkas tanpa konsekuensi jangka panjang.
Barangkali, kita perlu kembali pada hal-hal sederhana, seperti menghidupkan transportasi umum bagi pelajar, mendorong penggunaan sepeda, atau bahkan membiasakan berjalan kaki bagi yang memungkinkan.
Ini bukan hanya soal penghematan energi, tetapi juga membangun gaya hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Kebijakan apa pun yang diambil harus berpijak pada satu pertanyaan mendasar: apakah ini benar-benar untuk kebaikan generasi mendatang? Jika jawabannya masih meragukan, maka kita perlu berhenti sejenak, menimbang ulang, dan mencari jalan yang lebih arif.
Pendidikan bukan ruang coba-coba. Ia adalah fondasi masa depan. Dan fondasi itu tidak boleh goyah hanya karena kita terburu-buru mengambil keputusan.
Penghematan energi adalah usaha menjaga keberlangsungan hidup, namun pendidikan adalah upaya menjaga nyala peradaban. Jangan sampai demi mematikan lampu yang boros, kita justru memadamkan api semangat belajar anak bangsa.
Memilih efisiensi dengan mengorbankan kualitas pendidikan adalah sebuah paradoks yang mahal harganya; sebab sebuah bangsa yang hemat energi namun mengesampingkan kualitas sumber daya manusianya, sesungguhnya sedang menabung krisis yang jauh lebih besar di masa depan.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

































