Oleh Muhammad Subhan
SEBELUM lancar mengetik di komputer, saya terbiasa menulis di buku tulis, baik puisi, cerpen, maupun esai. Dari buku tulis itu, kemudian saya ketikkan di mesin tik. Setelah muncul komputer, saya coba belajar mengetik di komputer.
Namun, tetap saja, sebelum mengetik di komputer, saya masih asyik menyalin di buku tulis terlebih dahulu, meski buku itu penuh coretan. Rasanya menulis di buku tulis itu asyik, walau prosesnya agak lama dan bikin tangan pegal. Setiap kata yang kurang tepat dicoret, lalu ditulis kata-kata yang lain.
Saya baru benar-benar meninggalkan kebiasaan menulis di buku tulis ketika pertama kali memiliki laptop dan ponsel. Pelan-pelan saya biasakan mengetik langsung di laptop, dan lambat laun menjadi terbiasa.
Tentu, di laptop lebih praktis dan rapi. Naskah bisa didokumentasikan dalam sebuah file. Kalau ada kata yang salah, bisa dihapus hanya menekan satu tombol tuts. Kalau ada yang perlu disalin, tinggal ditempel, dan seterusnya.
Teknologi, lambat laun, memang memudahkan.
Meski begitu, dalam proses belajar, siswa di sekolah tetap perlu dibiasakan menulis tangan tanpa menghilangkan sentuhan teknologi, karena keduanya memang hidup dalam zamannya. Ada pengalaman belajar yang tidak tergantikan oleh layar ponsel atau laptop, yakni saat tangan bersentuhan dengan kertas, dan pikiran bergerak seiring goresan pena.
Kebijakan pemerintah yang kembali mendorong kebiasaan menulis tangan di sekolah patut diapresiasi. Dalam pemberitaan Kompas.com edisi 15 Maret 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa aktivitas menulis tangan akan dikombinasikan dengan penggunaan teknologi seperti Interactive Flat Panel (IFP). Siswa dapat menyimak pembelajaran digital, tetapi tetap diminta membuat rangkuman dengan tulisan tangan.
Pendekatan ini bukan sekadar kompromi, melainkan upaya menyeimbangkan dua dunia: tradisi dan modernitas.
Menulis tangan bukan sekadar aktivitas lama yang romantis untuk dikenang. Ia adalah proses kompleks yang melibatkan koordinasi antara otot, indra, dan otak.
Ketika seorang siswa menulis, jari-jarinya bergerak mengikuti bentuk huruf, pergelangan tangannya menyesuaikan arah, dan matanya mengawasi setiap goresan.
Aktivitas ini melatih keterampilan motorik halus, yaitu kemampuan dasar yang penting bagi perkembangan anak.
Lebih dari itu, menulis tangan juga mengaktifkan kerja otak secara lebih menyeluruh. Berbagai penelitian dalam bidang neuroscience menunjukkan bahwa proses menulis melibatkan area otak yang berkaitan dengan bahasa, memori, dan gerak. Saat siswa menulis, mereka tidak sekadar menyalin kata, tetapi juga mengolah informasi: memilih diksi, memahami makna, dan menghubungkan ide.
Proses ini menjadikan belajar lebih mendalam dibanding sekadar mengetik, yang sering kali berlangsung cepat dan mekanis.
Keunggulan lain dari menulis tangan adalah kemampuannya dalam memperkuat daya ingat. Ketika siswa menuliskan materi dengan tangan, mereka cenderung lebih mudah mengingatnya.
Hal ini terjadi karena otak bekerja lebih aktif dalam memproses informasi yang ditulis.
Menulis tangan memaksa siswa memperlambat ritme, memberi ruang bagi pikiran untuk mencerna, bukan sekadar merekam. Dengan kata lain, menulis tangan membantu siswa benar-benar memahami, bukan hanya menyimpan.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto bahkan pernah menyinggung pentingnya pelajaran menulis di sekolah, termasuk cara menulis yang baik dan jelas. Ia mengingatkan agar siswa terbiasa menulis dengan ukuran yang terbaca, bukan terlalu kecil, sebagai bagian dari kebiasaan belajar yang sehat. Pernyataan presiden ini menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar soal teknik, tetapi juga menyangkut kebiasaan, kesehatan, dan disiplin.
Selain aspek kognitif, menulis tangan juga melatih karakter. Ia mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan fokus. Dalam dunia yang serba instan, kemampuan untuk duduk, berpikir, dan menuliskan gagasan secara perlahan menjadi keterampilan yang semakin langka.
Padahal, justru di sanalah kedalaman berpikir terbentuk.
Banyak ide kreatif lahir bukan dari kecepatan, melainkan dari ketekunan mengolah kata demi kata.
Namun demikian, bukan berarti teknologi harus ditolak. Papan ketik dan perangkat digital tetap memiliki peran penting dalam dunia pendidikan modern.
Mengetik memungkinkan efisiensi, kemudahan penyimpanan, dan distribusi informasi yang cepat. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan.
Siswa tidak boleh sepenuhnya tercerabut dari pengalaman menulis tangan, terutama pada tahap-tahap awal pembelajaran.
Guru dapat mengombinasikan keduanya secara bijak. Misalnya, siswa diminta mencatat materi penting dengan tangan untuk memperdalam pemahaman, lalu mengetik ulang sebagai bentuk pengolahan lanjutan.
Atau, siswa menyusun draf awal tulisan secara manual sebelum menyempurnakannya secara digital. Dengan cara ini, proses belajar menjadi lebih utuh; menggabungkan kedalaman dan kecepatan.
Di tengah arus digitalisasi yang semakin deras, kebiasaan menulis tangan memang perlahan mulai ditinggalkan. Siswa lebih akrab dengan papan ketik daripada pena. Catatan pelajaran bergeser ke layar digital, tugas diketik, bahkan ide-ide dituangkan lewat gawai. Di satu sisi, kemajuan ini menawarkan kecepatan dan kemudahan. Namun, di sisi lain, ada pengalaman belajar yang perlahan hilang: pengalaman yang menyentuh tubuh dan pikiran secara bersamaan.
Karena itu, menghidupkan kembali kebiasaan menulis tangan di ruang kelas bukanlah langkah mundur. Ia justru menjadi upaya menjaga kualitas proses belajar di tengah kemajuan teknologi.
Demikianlah. Pendidikan bukan sekadar persoalan mengganti papan tulis dengan layar sentuh, melainkan bagaimana menjadikan manusia tetap berdaulat atas alatnya. Pena mungkin hanyalah sebatang kayu atau plastik, namun goresannya adalah jejak autentik dari keberadaan pikiran manusia.
Dengan merawat tradisi menulis tangan, kita sedang memastikan bahwa generasi masa depan tidak hanya tumbuh menjadi operator mesin yang cekatan, tetapi juga pribadi yang memiliki kedalaman rasa dan ketajaman logika yang terpahat kuat dalam ingatan.
.
Berkontribusi dalam artikel opini & literasi InsertRakyat.com adalah Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Editor: Zamroni.

































