Oleh Muhammad Subhan
GILA! Dia mengatakan saya gila. Di zaman digital, ketika tak lebih dari 15 detik orang menggulir video pendek di layar gawai, saya malah menulis 800—1000 kata. Setiap hari pula. Siapa yang mau baca?
“Kamu gila!” katanya mengulang. Menohok ke hulu jantung saya.
“Kenapa begitu?” sela saya. Saya berusaha santai. Juga tertawa.
“Enggak repot menulis sepanjang itu?”
“Tidak.”
“Ada duitnya, enggak?”
“Tergantung,” jawab saya sekenanya.
Karena dia sahabat saya, teman bergelut kata-kata sejak kecil, ‘selapik-seketiduran’, saya tak terlalu mempedulikan celetukannya. Saya senang-senang saja dikatakan begitu. Tandanya dia peduli kepada saya.
Tidak sekali itu saja dia mengatakan gila kepada saya. Setiap kali bertemu, khususnya saat dia pulang dari rantau, ia selalu mengulang ucapannya itu. Saya menjadi terbiasa. Gila baginya, karena apa yang saya kerjakan—dan sudah menjadi pekerjaan setiap hari—tak masuk di akalnya. Mustahil, pikirnya.
Dalam benaknya, bekerja itu harus masuk kantor. Pergi pagi, pulang sore. Berpakaian rapi. Saya malah tak jelas. Tak punya kantor tetap. Pakaian biasa saja. Tak pilih-pilih. Kantor saya pun kantor berjalan. Kalau tak di rumah, di kafe. Atau di mana saja saya duduk yang kondisinya nyaman, asyik, pesan kopi secangkir, lalu menulis hingga sore atau malam hari. Terus begitu.
Ya, menulis adalah pekerjaan bagi saya. Kalau tak menulis, badan terasa tak enak. Pegal-pegal. Seperti orang kecanduan kopi atau rokok. Kalau tak ngopi atau merokok sehari, rasanya ada yang kurang. Hidup terasa tak lengkap. Begitulah saya.
Syukurnya, saya tak merokok, hanya ngopi. Itu pun sesekali. Kalau uang cukup, minum teh telur.
Menulis bagi saya bukan sekadar hobi atau kegiatan sambilan. Ini pekerjaan. Artinya, ada disiplin yang harus dijaga. Ada waktu yang harus diatur. Ada target yang harus dipenuhi. Sama seperti orang kerja kantoran.
Dan tentu, dalam menulis, tak bisa menunggu mood datang. Justru, mood harus dipaksa hadir.
Kebiasaan ini terbentuk sejak saya menjadi wartawan aktif di sejumlah koran. Saat itu, menulis bukan pilihan, melainkan kewajiban. Dalam sehari, minimal saya harus menghasilkan tiga sampai lima berita. Itu pun bukan sekadar duduk lalu mengetik. Berita harus diburu ke lapangan, mencari peristiwa, mengejar narasumber, melakukan wawancara, mencatat fakta, lalu menuliskannya dengan cepat, tepat, dan akurat.
Dari situlah saya belajar bahwa menulis adalah soal ritme dan ketahanan. Soal bagaimana bertahan di bawah tekanan waktu. Soal bagaimana menyederhanakan yang rumit tanpa kehilangan substansi. Dan yang paling penting, soal konsistensi.
Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang. Hanya bentuknya yang berubah. Dari berita-berita cepat, saya beralih ke tulisan-tulisan yang lebih panjang, khususnya esai, refleksi, dan catatan-catatan ringan tentang berbagai persoalan. Terutama yang dekat dengan keseharian saya: literasi dan pendidikan.
Menulis panjang tentu bukan perkara mudah. Ia menuntut penguasaan masalah. Tak cukup hanya tahu permukaan, tapi juga memahami akar persoalan. Bahkan, setidaknya, punya keberanian untuk menawarkan sudut pandang berbeda, meski sekadar pendapat.
Di situlah tantangannya. Menulis panjang berarti juga harus rajin membaca. Mengikuti perkembangan terkini. Menyaring informasi yang bertebaran, baik di media arus utama maupun media sosial, lalu meramunya menjadi tulisan yang utuh dan enak dibaca.
Di era digital seperti sekarang, tantangan itu berlipat. Orang lebih suka yang cepat. Yang ringkas. Yang bisa dikonsumsi dalam hitungan detik. Video pendek, potongan-potongan informasi, kutipan-kutipan ringan, semuanya menggoda dan mudah diakses.
Lalu, di mana posisi tulisan panjang?
Pertanyaan itu sering muncul. Bahkan, kadang, menggoyahkan keyakinan. Namun, pelan-pelan saya menemukan jawabannya. Ternyata, masih ada pembaca yang setia. Masih ada orang-orang yang mencari kedalaman dari sebuah bacaan. Yang tak puas dengan informasi sepotong-sepotong. Yang ingin memahami, bukan sekadar mengetahui.
Beberapa di antara mereka mengirim pesan pribadi. Mengatakan bahwa tulisan-tulisan saya memberi sudut pandang baru. Mencerahkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, menguatkan. Ya, setidaknya bagi mereka, meski saya tahu tak sedikit pula yang berbeda pandangan. Bagi saya itu biasa, lumrah di dunia persilatan kata-kata; menulis.
Di situlah salah satu titik kebahagiaan seorang penulis. Bukan semata soal uang—meski ini juga penting—melainkan tentang nilai. Bahwa apa yang kita tulis sampai kepada orang lain. Dibaca. Dipikirkan. Dirasakan. Tak sedikit pula yang membagikan kembali atau disimpan untuk diulang-baca di lain waktu.
Dan mungkin, di situlah letak “kegilaan” yang sebenarnya. Ketika dunia berlari cepat, menulis panjang adalah cara untuk memperlambat. Untuk berhenti sejenak. Untuk mengajak orang berpikir lebih dalam. Untuk merawat nalar di tengah banjir informasi.
Menulis panjang memang tak selalu populer. Tak selalu viral. Tapi ia punya daya tahan. Ia tak lekang dalam satu kali scroll. Ia tinggal, menetap, dan bisa dibaca kembali.
Peluang dari menulis pun terbuka dari berbagai arah. Dari tulisan, lahir jejaring. Dari jejaring, muncul kesempatan, dan tak sedikit undangan datang, seperti mengisi pelatihan, menjadi pembicara, juri lomba, menjadi editor, menjadi ‘ghostwriter’, menerbitkan buku, hingga membangun komunitas literasi.
Semua itu berawal dari satu hal yang mungkin bagi sebagian orang sepele: duduk, berpikir, lalu menulis.
Jadi, kalau sahabat saya itu mengatakan saya “gila” karena menulis panjang setiap hari, saya menerimanya dengan senang hati, sambil ‘ketawa-ketawa.
Di tengah dunia yang serba singkat ini, kita memang butuh sedikit “kegilaan” agar tetap waras. Agar tetap ada. Seperti kata Rosihan Anwar, wartawan senior itu: “Sekali wartawan tidak menulis, ia akan dilupakan orang”.
Pun begitu, penulis secara umum, jika ia tak menulis, ia akan dilupakan.
Demikianlah. Menulis bukan sekadar menyusun kata, melainkan cara memahat jejak agar pikiran tetap hidup melintasi zaman. Selama jemari masih menari di atas papan tik, selama itu pula seorang penulis menolak untuk sekadar menjadi penonton di tengah pusaran informasi yang riuh.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
































