MEMAHAMI Aceh dan Kalimantan dengan tujuan meningkatkan waspada,  dimana Bumi dan Manusia yang tidak pernah lupa peristiwa Gempa Bumi dan Tsunami pada masa silam. Ahad, (28/12/2025).

Adapun diketahui, kerusakan Bumi pada setiap retakan, dan memicu gelombang laut yang meninggi secara tiba-tiba, adalah memori geologis yang tersimpan rapi di dalam kerak dan mantel atas permukaan.

Lantas, Indonesia, yang berdiri di atas pertemuan lempeng tektonik aktif dunia, berdampingan dengan energi laten yang sewaktu-waktu dilepaskan melalui gempa bumi dan tsunami. Inilah fenomena alam yang tidak mengenal kompromi sosial maupun politik.

BMKG mencatat lebih dari Dua dekade [silam], tepat Jumat pagi, 26 Desember 2004, pukul 07.58 WIB, zona subduksi Sunda di barat laut Sumatra mengalami pelepasan energi seismik raksasa.

Di sanalah Gempa megathrust bermagnitudo 9,1–9,3 memicu deformasi vertikal dasar laut secara ekstrem, menghasilkan tsunami berenergi tinggi yang kemudian menjalar ke lintas Samudra Hindia.

Waktu itu Pesisir Aceh luluh lantak, infrastruktur runtuh, dan kehidupan manusia tersapu dalam hitungan menit.

Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 230.000 orang di 14 negara. Indonesia menjadi episentrum penderitaan, dengan Aceh mencatat korban jiwa antara 160.000 hingga 170.000 orang.

Atas peristiwa itu, Tsunami Aceh 2004 kemudian diklasifikasikan sebagai salah satu bencana hidrometeorologi-seismik paling mematikan dalam sejarah, sekaligus menjadi rujukan global dalam studi mitigasi tsunami dan early warning system.

Namun sejarah kegempaan Indonesia tidak berhenti di Sumatra atau Aceh dimaksud.

Tatkala di balik citra Kalimantan sebagai wilayah stabil secara tektonik, data ilmiah menunjukkan bahwa Pulau Borneo menyimpan rekam jejak aktivitas seismik yang tak dapat diabaikan.

Secara fisiografis, Kalimantan berada di Paparan Sunda, tetapi keberadaan sesar purba, aktivitas kerak dangkal, dan dinamika regional tetap menyisakan potensi gempa bumi signifikan.

Pada 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuka kembali arsip kegempaan Kalimantan.

Dalam catatan itu, terdapat sedikitnya delapan peristiwa gempa signifikan yang telah mengguncang wilayah Kalimantan, baik pada era pra-kemerdekaan maupun pasca Indonesia berdiri sebagai negara berdaulat.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si., M.Si., menyebutkan bahwa rentang kejadian tersebut berlangsung sejak 1921 hingga 2018.

Menurut dia, berdasarkan analisis intensitas dan dampak, gempa-gempa tersebut menunjukkan tingkat kerusakan terhadap lingkungan dan bangunan.

“Signifikansinya jelas, mulai dari kerusakan sedang hingga berat,” ujar Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima Syamsul, Jurnalis Insertrakyat.com, di Jakarta Selatan pada Jum’at malam, November lalu.

Daftar kejadian gempa bumi dan Tsunami dalam 8 kejadian di Kalimantan. (Sumber foto Dr. Daryono).

Berdasarkan Katalog Gempa BMKG, berikut delapan peristiwa gempa bumi  di Kalimantan.

1. Gempa dan Tsunami Sangkulirang, Kalimantan Timur (14 Mei 1921).

 

Peristiwa ini mencatat intensitas VII–VIII MMI, dengan kerusakan berat pada bangunan. Uniknya, gempa ini juga memicu tsunami lokal yang menghantam pesisir dan muara sungai, menandai potensi tsunami non-subduksi di kawasan tersebut.

 

2. Gempa Tarakan, Kalimantan Timur (19 April 1923).

Gempa bermagnitudo M 7,0 menghasilkan guncangan kuat dengan intensitas VII–VIII MMI. Dampaknya meliputi rumah roboh, tanah merekah, serta gangguan struktural akibat percepatan tanah yang tinggi.

 

3. Gempa Tarakan, Kalimantan Timur (14 Februari 1925)

Dengan intensitas VI–VII MMI, gempa ini kembali memperlihatkan kerentanan struktur bangunan dan kesiapsiagaan masyarakat yang masih minim pada masa itu.

 

4. Gempa Tarakan, Kalimantan Timur (28 Februari 1936)

Gempa M 6,5 ini menjadi pengingat berulang bahwa Tarakan berada di zona dengan akumulasi tegangan seismik yang berulang, meski tidak berada di jalur subduksi utama.

 

5. Gempa Pulau Laut, Kalimantan Selatan (5 Februari 2008)

Gempa M 5,8 dirasakan luas di Pulau Laut, Sebuku, Sembilan, Pagatan, dan Batulicin. Tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi cukup untuk menunjukkan aktivitas tektonik kerak dangkal di Kalimantan Selatan.

 

6. Gempa Tarakan, Kalimantan Timur (21 Desember 2015)

Bermagnitudo M 6,1 dan berpusat di laut, gempa ini diikuti 16 gempa susulan. Fenomena ini mencerminkan proses relaksasi tegangan pascagempa utama.

7. Gempa Kendawangan, Kalimantan Barat (24 Juni 2016)

Gempa M 5,1 merusak sejumlah rumah warga, memperlihatkan bahwa Kalimantan Barat pun memiliki struktur geologi aktif yang patut diwaspadai.

8. Gempa Katingan, Kalimantan Tengah (14 Juli 2018)

Dengan magnitudo M 4,2 dan intensitas III–IV MMI, gempa ini menyebabkan kerusakan ringan, namun cukup untuk menegaskan eksistensi sumber gempa lokal di wilayah tengah Kalimantan.

 

Dr. Daryono menegaskan, rendahnya frekuensi gempa saat ini di Kalimantan tidak boleh ditafsirkan sebagai nihil risiko. “Sejarah kegempaan adalah bukti ilmiah. Kesiapsiagaan, literasi kebencanaan, dan pemahaman seismologi tetap mutlak, karena secara geodinamik gempa bisa terjadi di mana saja,” tandasnya.

(Syam/Agy).

 Ikuti Berita Insertrakyat.com