HAMSEL, INSERTRAKYAT.COM — Kelapa Pulau Bacan sampai saat masih acapkali terkendala pemasaran. Namun ada kabar gembira dibalik itu, di mana Warga Desa Jojame, Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, baru – baru ini mendapat pelatihan pengolahan bernilai ekonomi tinggi.
Di sana pelatihan berlangsung mengolah kelapa menjadi parutan kering untuk membuka peluang usaha dan meningkatkan nilai ekonomi hasil perkebunan setempat. Kegiatan yang melibatkan sekitar 20 warga perempuan itu dilaksanakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM), sejak hari Senin (12/10).
Selama ini, kelapa hasil perkebunan warga umumnya diolah menjadi santan dan minyak kelapa. Melalui pelatihan tersebut, warga diperkenalkan pada produk turunan berupa kelapa parut kering yang dapat digunakan sebagai taburan roti dan kue.

Selain praktik pengolahan, tim juga memberikan pendampingan mengenai pengemasan minyak kelapa agar kualitas produk lebih terjaga.
Mama Surti, salah satu peserta pelatihan, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan bersama untuk menambah penghasilan masyarakat.
“Masyarakat Jojame senang sekali karena su banyak hal baru yang torang pelajari bersama adik-adik Ekspedisi Patriot,” ujarnya.
Namun, pengembangan usaha masih menghadapi tantangan akses pasar. Perjalanan dari Labuha menuju Desa Jojame harus ditempuh melalui jalur laut dan dapat memakan waktu sekitar empat jam. Kondisi tersebut menjadi kendala tersendiri dalam memasarkan produk olahan kelapa.
Untuk menindaklanjuti program, TEP 1 UGM Bacan berkoordinasi dengan Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Halmahera Selatan guna menjajaki peluang pemasaran produk di Labuha.

Anggota TEP 1 UGM Bacan, Andarifka, mengatakan program tersebut dirancang berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat. Ia berharap warga dapat mengembangkan produk secara berkelanjutan dan menjangkau pasar yang lebih luas. Tim juga meninggalkan sejumlah peralatan agar warga dapat melanjutkan pengolahan secara mandiri.
Upaya ini sejalan dengan kebijakan peningkatan nilai tambah komoditas lokal melalui pengolahan di dalam negeri. Meski demikian, keberlanjutan usaha warga Jojame akan bergantung pada kemampuan menjaga kualitas produk, kesinambungan produksi, dan akses pemasaran.

Anggota TEP 1 UGM Bacan, Andarifka, mengatakan program tersebut dirancang berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat. Ia berharap warga dapat mengembangkan produk secara berkelanjutan dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Upaya ini sejalan dengan kebijakan peningkatan nilai tambah komoditas lokal melalui pengolahan di dalam negeri. Meski demikian, keberlanjutan usaha warga Jojame akan bergantung pada kemampuan menjaga kualitas produk, kesinambungan produksi, dan akses pemasaran.
Penulis: Afri Juang
Editor : Supriadi supriadi

