ACEH TIMUR, INSERTRAKYAT.COM – Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur, Hendrika Saputra A.Md melontarkan kritik keras terhadap sejumlah perusahaan leasing yang dinilai tidak memiliki kepedulian terhadap nasabah yang terdampak banjir di Aceh.
Menurut Hendrika, di tengah kondisi masyarakat yang sedang terpuruk akibat bencana banjir, banyak warga kehilangan harta benda, sawah rusak, kebun tidak bisa dipanen, bahkan sebagian pedagang kehilangan mata pencaharian. Namun ironisnya, masih ada perusahaan pembiayaan atau leasing yang tidak memberikan relaksasi kepada debitur yang terdampak musibah tersebut.
“Ini sangat tidak manusiawi. Masyarakat Aceh sedang tertimpa musibah banjir, banyak yang kehilangan pekerjaan, sawah dan kebun rusak, bahkan harta benda hanyut. Tapi masih ada perusahaan leasing yang tidak memberi kelonggaran kepada nasabah. Di mana hati nurani mereka?” tegas Hendrika.
Ia menegaskan bahwa relaksasi kredit seharusnya menjadi bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang sedang mengalami bencana. Apalagi kondisi ekonomi warga saat ini sangat terjepit.
“Kalau perusahaan leasing hanya ingin mencari keuntungan di Aceh, tetapi tidak peduli dengan penderitaan rakyat saat musibah, lebih baik mereka tidak usah beroperasi di Aceh. Kami minta mereka angkat kaki dari Aceh,” ujarnya dengan nada keras.
Hendrika juga meminta Pemerintah Aceh untuk bersikap tegas terhadap perusahaan pembiayaan yang tidak memiliki empati terhadap masyarakat terdampak bencana.
“Kami mendesak Pemerintah Aceh untuk mengevaluasi bahkan mencabut izin perusahaan leasing yang tidak memberikan relaksasi kepada debitur yang sedang tertimpa musibah banjir. Jangan sampai rakyat Aceh hanya dijadikan objek keuntungan semata,” katanya.
Ia menambahkan, saat ini masyarakat sangat membutuhkan dukungan dan kebijakan yang berpihak kepada korban bencana, termasuk keringanan pembayaran kredit bagi para debitur yang usahanya lumpuh akibat banjir.
“Rakyat Aceh sedang susah. Jika perusahaan leasing tidak mau memberikan relaksasi kepada nasabah yang terkena musibah banjir, maka lebih baik mereka tutup saja operasionalnya di Aceh dan angkat kaki dari tanah ini,” pungkas Hendrika.



















