Oleh Muhammad Subhan

SELESAI sudah Ramadan. Orang-orang berhari raya meski berbeda pelaksanaannya. Yang ikut Muhammadiyah berlebaran Jumat, 20 Maret. Yang ikut pemerintah berlebaran Sabtu, 21 Maret.

Tak ada masalah.

Semua orang merayakan kegembiraan. Semua orang merayakan kemenangan. Tentu, khusus bagi mereka yang berpuasa dan menyempurnakannya dengan berbagai ibadah.

Sedih Ramadan lekas berlalu. Padahal, baru kemarin rasanya bulan suci itu tiba. Namun, di tengah kesuciannya, dunia dikejutkan oleh kabar pilu. Ratusan anak sekolah di Iran menjadi korban serangan rudal AS-Israel yang menghantam gedung tempat mereka belajar.

Ratusan nyawa melayang. Mereka anak-anak tak berdosa, tak bersalah.

Hingga hari ini, negeri itu masih berada dalam pusaran konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Sementara di belahan bumi lain, di Gaza, anak-anak menjalani puasa dan merayakan Idulfitri dalam keterbatasan. Mereka berada di antara puing-puing rumah yang hancur. Kita tak pernah benar-benar tahu dari mana mereka mendapatkan makanan, air bersih, dan pakaian.

Setiap detik, nyawa mereka terancam oleh moncong senjata. Idulfitri, yang seharusnya menjadi hari kemenangan, bagi mereka justru menjadi hari bertahan hidup.

Sementara di Indonesia, meski tidak dilanda perang, persoalan kemiskinan belum sepenuhnya usai. Anak yatim dan anak telantar masih menjadi bagian dari realitas sosial kita. Program makan bergizi gratis di sekolah memang menjadi langkah maju dan membantu, tetapi belum menyentuh seluruh akar persoalan. Banyak anak yang masih hidup dalam kekurangan, kehilangan kasih sayang, dan minim perhatian.

Di sinilah, Ramadan dan Idulfitri seharusnya tidak berhenti sebagai ritual individual semata. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan empati.

Ia mendidik kita untuk merasakan lapar yang setiap hari dialami oleh mereka yang kurang beruntung. Ramadan mengasah kepekaan agar kita tidak abai terhadap penderitaan orang lain.

Idulfitri, sebagai puncak dari ibadah Ramadan, sejatinya adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen sosial itu. Kemenangan bukan hanya soal kembali kepada fitrah secara spiritual, tetapi juga sejauh mana kita mampu menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, yang juga dikutip oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad as-Syakir al-Khuwairy dalam kitab Durratun Nashihin, diceritakan tentang seorang anak yatim yang bersedih pada hari Idulfitri. Saat orang-orang bergembira, ia justru menangis sendirian dengan pakaian kumal. Ia tak tahu kalau di hadapannya adalah Rasulullah.

“Kenapa engkau menangis, wahai Anakku?”

“Ayahku telah tiada saat ia berperang bersama Rasulullah.”

“Ibumu ke mana?”

“Ibuku menikah lagi dan memakan semua hartaku. Bapak tiriku mengusirku dari rumah. Sejak itu, aku pun tidak lagi memiliki makanan, minuman, pakaian, dan rumah.”

“Benarkah demikian?”

“Ya. Di hari fitri ini, aku melihat banyak anak berbahagia dengan ayah-ayah mereka. Aku pun sedih dan menangis.”

Rasulullah s.aw. yang melihatnya merasa iba dan mendekatinya. Di hari yang seharusnya penuh kebahagiaan, anak itu justru diliputi kesedihan.

Mendengar kisah dari anak sekecil itu, Rasulullah menawarkan sesuatu yang luar biasa: menjadi ayah bagi anak tersebut. Aisyah menjadi ibunya, Ali menjadi pamannya, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudara perempuannya.

Anak itu terkejut ketika ia tahu laki-laki di hadapannya adalah Rasulullah.

Ia gembira dan langsung menyatakan kesediaannya. Sejak itu, ia pun berubah dari sosok yang semula menangis menjadi anak yang penuh kebahagiaan. Oleh Rasulullah ia diberi pakaian, makanan, dan kasih sayang.

Kisah ini bukan sekadar cerita moral. Ia adalah cermin dari bagaimana Islam menempatkan kepedulian sosial sebagai inti dari keberagamaan. Bahkan, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda bahwa orang yang mengurus anak yatim akan bersamanya di surga, seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah.

Lebih tegas lagi, dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’un ayat 1–3 disebutkan: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” Ayat ini menegaskan bahwa keberagamaan tidak cukup diukur dari ritual, tetapi juga dari sikap terhadap kaum lemah.

Dengan demikian, puasa dan Idulfitri seharusnya melahirkan kesalehan sosial. Tidak cukup hanya menjadi pribadi yang rajin beribadah, tetapi juga harus menjadi pribadi yang peduli.

Kepedulian itu bisa dimulai dari hal paling sederhana, seperti menyapa, berbagi, membantu, dan tidak menutup mata terhadap penderitaan di sekitar.

Di tengah dunia yang semakin kompleks, di mana konflik dan ketimpangan terus terjadi, nilai-nilai ini menjadi semakin relevan.

Idulfitri tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan yang dirayakan dengan pakaian baru dan hidangan melimpah. Ia harus menjadi titik balik untuk memperbaiki relasi kita dengan sesama manusia.

Kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil menahan lapar selama sebulan penuh, tetapi ketika kita mampu menghadirkan kehangatan bagi mereka yang hidup dalam kelaparan, baik secara fisik maupun batin.

Idulfitri adalah jalan “kembali”. Bukan hanya kembali kepada fitrah diri, tetapi juga kembali kepada tanggung jawab sebagai manusia: merawat, menjaga, dan memuliakan sesama.

Maka, biarlah gema takbir yang berkumandang menjadi pengingat bahwa kesucian batin kita hanya akan sempurna jika dibarengi dengan uluran tangan kepada mereka yang terpinggirkan. Jangan biarkan air mata anak yatim jatuh di saat kita tertawa, dan jangan biarkan lapar mereka menetap di saat kita berpesta.

Ukuran kemuliaan kita di hadapan Tuhan bukan pada seberapa megah perayaan yang kita gelar, tetapi pada seberapa banyak beban penderitaan sesama yang berhasil kita ringankan.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis