Oleh Muhammad Subhan

TOPIK esai kali ini bukan gosip. Saya sekadar memotret fenomena sosial yang menarik perhatian dan mengundang perspektif baru tentang cara orang mencari uang. Apalagi jika subjeknya adalah seorang artis tenar.

Pinkan Mambo artis itu.

Saya menonton videonya di lini masa media sosial. Ia bernyanyi di pinggir jalan, mengenakan rok pendek, kaus berlengan pendek, memegang mikrofon dengan pengeras suara berukuran sedang, dan sebuah kardus penampung saweran. Penampilannya itu disiarkan secara langsung di TikTok.

Para pengguna jalan tampak memberi perhatian. Ada yang merasa iba, lalu berhenti dan memberi beberapa lembar rupiah. Beberapa lainnya meminta berfoto.

Konon, aksi Pinkan dibantu tim kreatifnya itu bukan semata berpindah panggung. Ada dorongan emosional yang mengharuskan ia bekerja lebih keras mencari uang.

Usahanya itu, kabarnya, dilakukan demi kebutuhan sang buah hati. Uang didapat untuk membeli popok dan susu bayi. Anaknya, Luke, butuh banyak biaya berobat karena didiagnosis mengidap lemah otot jantung dan sempat dibawa ke rumah sakit di Singapura.

Kisah itu pilu. Sebuah tamsil tentang perhatian dan perjuangan seorang ibu. Meski di bawah terik matahari yang menyengat dan melegamkan kulit, juga peluh yang membanjir, Pinkan tidak peduli pada penilaian orang.

Ia mengumpulkan saweran maupun gift digital hingga konon sebulan mampu terkumpul uang puluhan juta rupiah.

Namun, cerita di jalanan tidak selalu semudah itu. Panggung yang berpindah ke aspal membawa banyak konsekuensi.

BACA JUGA :  FRP Law Firm: Kriminalisasi Amsal Christy Sitepu Jadi Preseden Buruk bagi Industri Kreatif Indonesia

Dan, Pinkan pernah ditegur, bahkan diusir petugas penertiban karena dianggap mengganggu arus lalu lintas.

Di titik-titik tertentu seperti kawasan Sepatan, Tangerang, kehadiran Pinkan bukan hanya tontonan. Kehadirannya dianggap menambah kemacetan. Jalan raya, yang semestinya menjadi ruang bergerak, berubah menjadi ruang pertunjukan yang tidak semua orang nyaman menikmatinya.

Fenomena ini segera menjalar menjadi perbincangan luas di media sosial, khususnya X. Sebagian orang merasa iba; bagaimana mungkin seorang penyanyi yang dulu tampil di panggung megah kini harus bernyanyi di bawah terik matahari demi beberapa lembar uang dan gift digital?

Ada rasa kehilangan pada bayangan masa lalu. Sosok artis, gemerlap lampu, dan tepuk tangan yang tertata.

Namun, sebagian lainnya melihat dengan cara berbeda. Mereka memandang hal itu bukan sebagai kemunduran, tetapi bentuk adaptasi.

Dunia telah berubah. Panggung tidak lagi tunggal. Jalanan bisa menjadi studio, dan TikTok menjelma panggung global yang tak berbatas.

Di sana, penonton bukan hanya mereka yang berhenti di lampu merah, tetapi juga ribuan pasang mata di layar ponsel.

Bahkan, kabar tentang penghasilan yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan dari saweran digital membuat rasa iba itu menjadi kabur. Apakah ini masih layak disebut perjuangan yang menyedihkan, atau justru strategi ekonomi yang cerdas?

Di titik ini, batas antara realitas dan konten menjadi samar. Apa yang tampak sebagai keterpurukan boleh jadi adalah bentuk lain dari keberanian membaca peluang zaman.

BACA JUGA :  FRP Law Firm: Kriminalisasi Amsal Christy Sitepu Jadi Preseden Buruk bagi Industri Kreatif Indonesia

Ada pula yang menyoroti bahwa apa yang dilakukan Pinkan bukan sekadar spontanitas. Peralatan yang digunakan, seperti pengeras suara berkualitas dan sistem siaran langsung yang konsisten, menunjukkan bahwa ini adalah kerja yang direncanakan matang. Pinkan bukan sekadar “ngamen” dalam pengertian lama, tetapi sedang mengelola perhatian publik. Jalanan menjadi latar, namun panggung sesungguhnya adalah algoritma.

Suara-suara kritik lain tetap ada. Sebagian orang menilai konten yang disajikan tidak sebanding dengan besarnya saweran yang diterima. Sebagian lagi mempertanyakan etika penggunaan ruang publik. Bahkan ada yang menduga bahwa seluruh aksi ini adalah strategi untuk memancing simpati, atau sebuah dramaturgi modern di era digital.

Di tengah semua itu, Pinkan tampak bergeming. Ia terus bernyanyi, berpindah dari satu titik ke titik lain, kadang masuk ke kampung-kampung demi menyapa warga dan membuka ruang interaksi yang lebih dekat. Ia membawa pengeras suara, kardus saweran, dan satu hal yang mungkin paling penting: ketangguhan untuk tidak terpuruk oleh penilaian orang lain.

Yang menarik, ia sendiri mengakui bahwa kebutuhan hidup tetap berjalan. Usaha lain yang ia miliki belum tentu cukup menopang semuanya. Maka jalanan menjadi pilihan. Bukan karena tidak ada pilihan, tetapi karena inilah pilihan yang paling mungkin memberi hasil cepat.

BACA JUGA :  FRP Law Firm: Kriminalisasi Amsal Christy Sitepu Jadi Preseden Buruk bagi Industri Kreatif Indonesia

Uang harian yang didapat bisa langsung menjawab kebutuhan yang mendesak.

Kita sedang hidup di zaman ketika batas-batas profesi menjadi cair. Seorang artis bisa menjadi pengamen. Seorang pengamen bisa menjadi selebritas digital. Jalanan dan media sosial bertemu, melahirkan bentuk baru dari kerja dan pertunjukan.

Dan di balik semua itu, ada satu hal yang tetap konstan: naluri seorang ibu. Dalam hiruk-pikuk komentar, dalam panas yang menyengat, juga dalam pandangan yang mungkin merendahkan, ada tekad dari seorang Pinkan bahwa ia mencari uang untuk anak, untuk hidup, dan untuk bertahan.

Mungkin, yang perlu kita renungkan bukan lagi soal apakah ini memalukan atau tidak. Akan tetapi, bagaimana zaman telah berubah sedemikian rupa, sehingga mereka yang pernah berada di puncak pun harus terus berjuang dengan cara-cara baru.

Pinkan Mambo di pinggir jalan bukan sekadar potret seorang artis yang turun panggung. Ia cermin dari realitas kita hari ini; bahwa hidup tidak selalu bergerak lurus, bahwa martabat tidak selalu diukur dari tempat kita berdiri, dan bahwa di balik setiap lagu yang dinyanyikan, ada cerita tentang daya tahan yang tidak semua orang sanggup menjalani.

Pun, saya juga, tidak akan mampu seperti Pinkan, di samping saya memang tidak berbakat bernyanyi.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

(Editor: Zamroni). Follow Berita melalui  Titktok

⚡ WhatsApp Insertrakyat

Informasi, komunitas & layanan pembaca

GRUP WHATSAPP
▶ Gabung Grup Diskusi
SALURAN WHATSAPP
▶ Ikuti Saluran Resmi
KONTAK ADMIN
▶ Hubungi Admin
● ONLINE • 0813-5481-214