Oleh Muhammad Subhan

IRAN selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan embargo. Menahan kesabaran. Dan, sabar itu ada batasnya juga. Puncaknya, ketika Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, syahid dalam serangan Amerika Serikat dan Israel, sejak itu, sikap diam berubah menjadi amarah.

Dan, Iran menyatakan tidak lagi berada pada fase menahan diri. Negeri para mullah itu memasuki babak pembalasan terbuka.

Jika konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran benar-benar meningkat ke skala penuh, dunia tidak sedang menyaksikan perang biasa. Ia adalah simpul dari rivalitas lama: politik nuklir, keamanan kawasan, ideologi, dan perebutan pengaruh global.

Timur Tengah kembali menjadi pusat pusaran sejarah, bukan sekadar karena minyak, tetapi karena pertemuan poros-poros kekuatan besar dunia.

Namun, di tengah derasnya klaim dan kabar, dari dugaan hancurnya fasilitas nuklir Dimona hingga kabar kematian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, publik global dihadapkan pada persoalan klasik perang modern: kabut informasi (fog of war). Banyak laporan belum terverifikasi, sebagian dibantah, dan sebagian lain menguap begitu saja.

Dalam perang abad ke-21, misil meluncur bersamaan dengan propaganda.

Salah satu narasi yang mengemuka adalah dugaan keterlibatan intelijen Tiongkok dalam membantu akurasi serangan Iran. Argumennya sederhana. Iran dinilai tidak memiliki kemampuan pengawasan satelit real-time setingkat negara adidaya. Maka, jika serangan presisi terjadi hingga ke detail lokasi, pasti ada pertukaran intelijen (shared intelligence).

Namun, asumsi semacam ini perlu disikapi dengan hati-hati.

Iran memang tertinggal dibanding Amerika Serikat dalam teknologi satelit militer, tetapi bukan berarti tanpa kapasitas. Dalam konflik modern, data tidak hanya berasal dari satelit negara; drone, sinyal elektronik, jaringan proksi, hingga kebocoran siber dapat menjadi sumber intelijen. Keterlibatan langsung Tiongkok dalam operasi militer akan membawa risiko geopolitik yang sangat besar bagi Beijing.

BACA JUGA :  Informasi Resmi Dari Kemenlu Terkait Kondisi WNI Saat Aksi Demonstran Berlangsung di Negara Iran

Tiongkok memiliki kepentingan energi di Timur Tengah dan hubungan ekonomi dengan Teluk, Israel, maupun Iran. Bagi Beijing, stabilitas kawasan lebih menguntungkan ketimbang keterlibatan terbuka. Karena itu, meski dukungan diplomatik atau logistik tidak mustahil, keterlibatan militer langsung masih menjadi spekulasi.

Iran mengklaim melancarkan serangan balasan besar-besaran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sejumlah analis menyebut Teheran mengadopsi strategi perang gesekan (war of attrition): meluncurkan rudal secara bertahap untuk menguras sistem pertahanan udara lawan, sembari menyimpan arsenal paling canggih untuk fase akhir.

Perbandingan angka sering dikutip. Iran disebut memiliki ribuan rudal balistik, sementara sistem pencegat seperti THAAD dan Patriot memiliki kapasitas produksi terbatas per bulan. Dalam logika militer, perang pertahanan udara adalah soal stok dan waktu. Jika laju serangan melebihi laju produksi pencegat, keseimbangan bisa bergeser.

Namun, perang bukan sekadar matematika. Faktor intelijen, efektivitas sistem intersepsi, dukungan sekutu, hingga ketahanan ekonomi memainkan peran penting.

Amerika Serikat memiliki jejaring basis global dan kemampuan logistik yang jauh melampaui Iran. Di sisi lain, Iran bertarung di halaman belakangnya sendiri, dengan kedalaman teritorial dan jaringan proksi regional seperti Hizbullah.

Dalam skenario eskalasi besar, Amerika Serikat hampir pasti memperoleh dukungan politik dari sekutu NATO, meski keterlibatan militer langsung akan bervariasi. Inggris, misalnya, melalui Perdana Menteri Keir Starmer, menegaskan posisi defensif. Uni Eropa cenderung mendorong de-eskalasi karena dampak ekonomi dan migrasi akan langsung menghantam benua itu.

Iran kemungkinan mendapat dukungan diplomatik dari Rusia dan Tiongkok, tetapi keterlibatan militer langsung kedua negara tersebut akan menjadi “garis merah” yang mengubah konflik regional menjadi konfrontasi global. Jika itu terjadi, pola “Perang Dingin Baru” bisa bertransformasi menjadi konflik terbuka antarblok.

Negara-negara Teluk berada dalam dilema. Secara keamanan, mereka dekat dengan Washington. Namun, secara geografis, mereka berada dalam jangkauan rudal Iran. Setiap pangkalan Amerika di kawasan otomatis menjadi target potensial. Terlebih, Iran menguasai posisi strategis di sekitar Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan di jalur ini akan mendorong lonjakan harga energi. Negara berkembang, termasuk Indonesia, akan merasakan dampaknya dalam bentuk inflasi dan tekanan fiskal.

BACA JUGA :  Indonesia Berpikir Keras, Imbas Konflik Internasional

Lonjakan harga energi berarti biaya produksi naik, pasar saham terguncang, dan risiko resesi meningkat.

Pengalaman perang Ukraina menunjukkan bagaimana konflik regional dapat berdampak global. Dalam konteks Iran, efeknya berpotensi lebih luas karena posisi strategis Teluk Persia dalam sistem energi dunia. Selain itu, perang modern tidak hanya berlangsung di darat dan udara; serangan siber terhadap infrastruktur energi, perbankan, dan komunikasi bisa meluas lintas batas.

Dunia digital menjadi medan tempur tak kasat mata di mana garis depan sulit ditentukan.

Istilah “Perang Dunia III” kerap digunakan secara emosional. Secara akademik, perang dunia terjadi ketika banyak kekuatan besar terlibat langsung dalam berbagai front global. Konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran memiliki potensi sebagai pemicu, tetapi belum otomatis memenuhi kriteria tersebut. Penentunya ada dua: apakah kekuatan besar lain terlibat secara militer langsung, dan apakah konflik meluas melampaui Timur Tengah.

Selama aktor-aktor utama masih melakukan kalkulasi rasional, konflik mungkin tetap bersifat regional meski berdampak global. Namun, kesalahan kalkulasi (miscalculation) dapat memicu respons berantai yang sulit dihentikan.

Kematian seorang pemimpin tidak selalu berarti runtuhnya sebuah sistem. Iran dibangun di atas struktur ideologis pascarevolusi 1979 yang dirancang oleh Ruhollah Khomeini. Struktur itu memungkinkan keberlanjutan kekuasaan melalui mekanisme institusional. Dewan kepemimpinan sementara yang dibentuk menunjukkan bahwa negara tersebut berupaya menjaga stabilitas internal.

BACA JUGA :  Menahan Napas di Tepi Jurang Perang Global AS-Israel Versus Iran

Dengan demikian, asumsi bahwa eliminasi figur akan otomatis mengakhiri konflik terbukti terlalu sederhana. Sistem yang telah terinstitusionalisasi sering kali lebih tangguh daripada individu.

Pertanyaan “siapa menang” kerap menyederhanakan realitas. Amerika Serikat unggul dalam teknologi, logistik, dan jejaring aliansi. Iran unggul dalam kedalaman strategis kawasan dan kemampuan perang asimetris. Israel memiliki sistem pertahanan canggih, tetapi juga wilayah yang relatif sempit dan rentan terhadap serangan intensif.

Namun, dalam perang modern, kemenangan militer tidak selalu identik dengan kemenangan politik.

Amerika Serikat belajar dari Irak dan Afghanistan bahwa superioritas militer tidak menjamin stabilitas jangka panjang. Iran pun menghadapi risiko kelelahan ekonomi dan tekanan domestik jika konflik berkepanjangan.

Di tengah retorika keras “Iran tidak akan pernah bertekuk lutut” dan klaim balas dendam, dunia dihadapkan pada pilihan klasik: eskalasi atau diplomasi. Dewan Keamanan PBB dipanggil, proposal gencatan senjata dikabarkan diajukan dan ditolak. Semua ini menunjukkan satu hal: kanal diplomatik belum sepenuhnya tertutup.

Dunia hari ini saling terhubung. Percikan di Teluk Persia dapat terasa hingga Asia Tenggara. Pertaruhan terbesar bukan sekadar siapa menembakkan rudal paling banyak, melainkan apakah para pemimpin dunia masih mampu menahan ego strategis demi mencegah bencana yang lebih luas.

Kemenangan dalam konflik ini mungkin tidak akan ditemukan di medan tempur yang hangus, melainkan pada kemampuan untuk berhenti sebelum segalanya terlambat.

Sejarah mencatat bahwa dalam perang skala besar, pihak yang menang sering kali hanyalah mereka yang kehilangan paling sedikit, sementara kemanusiaan secara keseluruhan tetap menjadi pihak yang kalah. Jika akal sehat dikalahkan oleh amarah, maka kemenangan hanyalah sebuah ilusi di atas puing-puing peradaban yang binasa.

 

InsertRakyat-Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis