“Teruslah Berkarya. 

  • Motivasi berkarya di media sosial tanpa fokus pada monetisasi, melainkan membangun reputasi, konsistensi, dan nilai kreatif jangka panjang.

Oleh  Muhammad Subhan

SEBARIS kalimat itu saya baca di status seorang kawan yang melintas di beranda Facebook saya: “Sudah malas ngonten, capek nungguin monetisasi.”

Sepertinya dia putus asa. Sudah sering ngonten, apa pun dijadikan konten, tapi si “Memet”—sebutan akrab kaum pengejar monetisasi di FB Pro untuk Meta—belum juga memberikan sinyal memunculkan “dodol”.

Bagi kreator FB Pro, “dodol” yang dimaksud adalah dolar.

Simbol dolar di dasbor profesional mereka masih menunjukkan angka nol. Tak ada pergerakan. Menunggu sepanjang waktu, tetap nol, sementara sudah banyak konten dibikin: video, gambar/foto, maupun teks.

Tak ada harapan mendapatkan uang dari media sosial. Begitu barangkali yang dipikirkan kawan saya itu, juga sebagian besar orang lain yang belum menemukan jalan cuan sebagai pekerja kreatif.

Sebenarnya, kalau benar-benar kreatif, uang tidak selalu menjadi tujuan pertama. Dulu, untuk mempublikasikan karya, susahnya minta ampun. Kalau mengirim tulisan atau foto ke surat kabar, belum tentu lekas dimuat. Pun jika mengirim video ke stasiun televisi, belum tentu bisa tayang.

Sekarang, di tangan semua orang ada benda pipih bernama gawai dengan segala fiturnya. Fitur-fitur itu membuka peluang monetisasi, terutama melalui YouTube dan Meta (FB Pro).

Tidak mudah memang untuk segera di-monetisasi. Sejumlah persyaratan seabrek harus dipenuhi oleh kreator. Mulai dari mengejar jam tayang hingga melengkapi administrasi semisal NPWP dan rekening.

Setelah itu, secara rutin membagikan konten setiap hari sesuai jam-jam ketika orang ramai membuka media sosial.

Lebih dari itu, seorang kreator harus menemukan keunikan dari kontennya. Sesuatu yang unik pasti menarik. Ditunggu orang juga.

Tapi kalau konten acak dan tidak jelas, bisa jadi justru mengganggu algoritma sehingga sistem media sosial bersangkutan tidak dapat membaca kekhasan apa yang dimiliki si kreator.

Lebih bagus jika seorang yang suka memasak membagikan konten seputar makanan. Seorang guru membagikan konten seputar pendidikan. Seorang pehobi mancing membagikan aktivitas memancingnya, dan lain sebagainya.

Fokus pada konten yang khas itu membuat sebuah akun media sosial menjadi lebih menarik.

Sebagai penulis dan pegiat literasi, saya sendiri fokus pada tulisan dan membagikan setiap hari esai-esai panjang. Topiknya boleh beragam, tetapi intinya tetap menulis.

Menulis bukan sembarang menulis. Ada ilmu dan pengalaman. Ada riset. Ada proses pembacaan yang panjang. Bukan tulis lalu langsung bagikan. Tidak. Kerjanya tidak langsung jadi.

Karena itu saya sering berpikir, mungkin persoalan terbesar banyak orang ketika mulai “ngonten” adalah mereka terlalu cepat menaruh harapan pada uang, sebelum benar-benar membangun nilai dari kontennya.

Padahal, media sosial pada mulanya bukanlah mesin ATM. Ia pertama-tama adalah ruang ekspresi. Tempat orang menunjukkan gagasan, minat, kemampuan, sudut pandang, bahkan karakter dirinya kepada publik.

Dari sanalah “branding” terbentuk.

Seorang guru yang konsisten membahas pendidikan akan dikenal sebagai sosok yang paham dunia pendidikan. Seorang fotografer yang rutin memajang karya akan dikenal sebagai fotografer. Seorang penulis yang tekun membagikan pemikiran akan dikenali sebagai penulis. Seorang tukang kayu yang rajin menunjukkan proses kerjanya akan dipandang sebagai pengrajin yang kompeten.

Media sosial pada hakikatnya adalah etalase. Tempat orang “memamerkan” kualitas dirinya.

Maka, bila etalase itu diisi dengan baik, dengan konsisten, dengan karya yang menunjukkan kompetensi, orang akan datang. Bukan hanya follower, tetapi juga calon klien, calon mitra, calon pembeli, calon pengguna jasa.

Itulah yang sering tidak dipahami sebagian orang. Monetisasi platform bukan satu-satunya jalan menghasilkan uang dari media sosial.

Banyak profesional justru memperoleh penghasilan jauh lebih besar bukan dari “dodol” platform, melainkan dari jasa, produk, atau peluang kerja yang datang karena orang melihat kapasitas mereka melalui media sosial.

Seorang desainer dapat klien karena portofolionya di Instagram. Seorang penulis mendapat undangan mengisi pelatihan karena tulisannya rutin dibaca orang. Seorang guru mendapat tawaran menjadi narasumber karena konten edukatifnya viral dan dipercaya publik. Pun seorang pedagang laris karena kontennya meyakinkan konsumen tentang kualitas produknya.

Jadi, yang dibangun sebenarnya bukan sekadar konten. Yang dibangun adalah reputasi.

Kalau sejak awal yang dikejar hanya uang dari algoritma, maka orang akan cepat lelah. Sebab algoritma berubah-ubah, syarat monetisasi berubah, aturan platform berubah, bahkan akun bisa sewaktu-waktu sepi jangkauan.

Tetapi jika yang dibangun adalah kompetensi dan identitas, maka nilai seseorang tidak akan sepenuhnya bergantung pada platform. Kualitasnya tidak berubah.

Platform boleh berubah. Reputasi tetap lekat dan tinggal.

Karena itu, menurut saya, jangan terlalu cepat mengeluh belum monetisasi. Bisa jadi yang sedang dibangun bukanlah saldo dolar, melainkan fondasi kredibilitas.

Dan kredibilitas itu nilainya sering jauh lebih mahal daripada ‘recehan ads revenue’.

Media sosial hari ini adalah panggung terbuka. Semua orang diberi kesempatan yang sama untuk tampil. Tetapi hanya mereka yang punya isi, konsistensi, dan karakter yang akan bertahan.

Jadi kalau hari ini “belum cuan” dari konten, belum tentu kerja kita sia-sia.

Barangkali yang sedang tumbuh bukan penghasilan langsung, tetapi kepercayaan publik.

Dan dalam dunia profesional, kepercayaan itulah mata uang paling mahal.

Maka teruslah berkarya.

Jangan menjadikan monetisasi sebagai alasan utama untuk berkarya, sebab jika uang yang dikejar pertama kali, maka semangat akan cepat mati ketika uang yang dicari belum tampak.

Jadikan saja media sosial sebagai ruang bertumbuh, ruang belajar, ruang berekspresi, ruang membangun nama.

Ketika kualitas sudah terbaca, ciri khas sudah terbentuk, dan reputasi sudah terbangun, orang akan datang mencari. Bukan lagi kita yang mengejar pasar. Pasarlah yang akan mengejar kita.

“Apakah halaman ini sudah monet?”

“Sudah, dong.”

“Ada dolarnya?”

“Sudah pasti ada.”

“Berapa?”

“Ehem. Ada deh.”

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Follow (whatsapp channel InsertRakyat.com). 

💬 Laporkan ke Redaksi