Oleh Muhammad Subhan
TUR literasi Sumatera Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang tahun ini dimulai Ahad, 12 April 2026. Lokusnya Provinsi Jambi.
Tanggal 12 angka unik. Bulan depan, 12 Mei, milad Kuflet. Usianya genap 29 tahun. Tanggal itu pula tanggal lahir pendirinya, Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn. Usianya kini telah 61 tahun.
Sebagai salah seorang pembina Kuflet, saya turut “turun gunung”. Merayakan hari jadi Kuflet sekaligus berbagi praktik baik literasi di samping merekatkan silaturahim, menguatkan jejaring literasi di sejumlah komunitas, sekolah, kampus, dan instansi di luar Sumatera Barat.
Tahun kemarin, Tur Literasi Sumatera Komunitas Seni Kuflet menyentuh 11 kota dan kabupaten di Provinsi Aceh. Kuflet menempuh jalan darat; selepas Sumatera Barat terus ke ujung Sumatera Utara, masuk melalui Barus, menembus belantara Aceh Singkil, Tapaktuan, Meulaboh, Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Bener Meriah, Takengon, Lhokseumawe, hingga Langsa.
Kembali ke Padang Panjang, Kuflet melintasi Medan dan keluar lewat Pekanbaru, dan tibalah lagi di Padang Panjang.
Menempuh perjalanan darat hampir sebulan lamanya di Aceh rasanya ngeri-ngeri sedap. Ngeri karena di perjalanan tidak selalu mulus, sebab bekal terbatas. Jalan malam di beberapa titik juga berisiko, sehingga sebelum masuk Aceh dini hari, tim Kuflet memilih rehat di Masjid Raya Sibolga.
Sedapnya, setiba di kota/kabupaten di Aceh, Kuflet disambut sahabat-sahabat pegiat literasi di simpul-simpul lintas komunitas dan instansi jejaring Kuflet. Tim Kuflet bermukim di rumah-rumah mereka dan tidak diperkenankan mencari penginapan. Alasan mereka, di rumah diskusi-diskusi dapat lebih panjang, termasuk disambut jamuan khas Aceh yang jarang ditemukan.
Tur Literasi Sumatera Kuflet di Aceh berlangsung sukses dengan semangat kolaborasi. Kuflet berbagi materi penulisan kreatif, jurnalistik, penyutradaraan teater, baca puisi, dan lainnya.
Tahun ini semangat itu masih sama.
Di Jambi, rentang waktu tak terlalu lama. Hanya sepekan. Kuflet menyinggahi kampus dan beberapa komunitas di Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah itu.
Sebelum memasuki Jambi, Kuflet bersilaturahim dengan pendiri dan pimpinan Rumah Baca Marenda, Kabupaten Dharmasraya, Dr. Amar Salahuddin, M.Pd. Selain pegiat literasi, Dr. Amar juga Wakil Rektor III Undhari. Gedung kampus Undhari unik. Semua dindingnya berwarna pink. Menyala dan menarik.
Di sebuah kafe di sudut Dharmasraya yang di kiri-kanan jalan tumbuh subur ladang-ladang sawit, Dr. Amar mengajak kami ngopi dan berdiskusi. Marenda, komunitas literasi yang dikelolanya, aktif. Tahun lalu menerima bantuan pemerintah untuk komunitas literasi. Ada sejumlah kegiatan digelar. Saya juga diundang sebagai narasumber kegiatan itu. Bermukim di sana semalam.
Warga binaan komunitas Marenda selain masyarakat sekitar adalah mahasiswa, khususnya yang berkuliah di Undhari. Mereka mahasiswa-mahasiswa aktif. Beberapa di antaranya berteman dengan saya di medsos.
Saya juga masih ingat, pada 2018, Dr. Amar membawa beberapa mahasiswanya yang lolos kurasi puisi Temu Penyair Asia Tenggara (TPAT) 1 Padang Panjang. Mereka bermukim di Padang Panjang mengikuti helat sastra itu.
Kebetulan, saya koordinator acara itu. Kuflet bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padang Panjang. Selain Temu Penyair Asia Tenggara, di momen yang sama juga dicanangkan Padang Panjang Kota Literasi, dan pemecahan rekor MURI penulisan puisi terbanyak tentang bahaya narkoba yang diikuti seluruh pelajar di Kota Padang Panjang. Acaranya meriah dan semarak sekali.
Kemarin itu kami bernostalgia. Temu Penyair Asia Tenggara 2 dihelat kembali tahun 2022, setelah zaman pandemi berlalu. Yang ke-3 belum tahu kapan. Atau mungkin tidak ada lagi, sampai itu saja.
Setelah merehatkan mesin “si Biru”, kendaraan operasional Kuflet, saya dan Kanda Sulaiman Juned pamit dan melanjutkan perjalanan. Tujuannya Kabupaten Tebo. Tebo lokus pertama Tur Literasi Kuflet.
Di Tebo, Kuflet bersilaturahim ke kediaman Ketua Wanita Penulis Indonesia (WPI) Jambi, Ramayani Riance. Ramayani juga seorang penyair. Beberapa bukunya telah terbit. Dan, tahun ini, buku terbarunya, “Tasbih Batanghari”, akan diluncurkan dan didiskusikan di Tempoa Art Gallery, Jambi. Saya dan Sulaiman Juned diminta menjadi pembicaranya, selain beberapa penyair Jambi.
Di rumahnya di Tebo, Ramayani sedang menyiapkan “Mahligai Puisi Ramayani”, sebuah bangunan yang tengah diselesaikan oleh sang suami, Rian Juskal, berupa kafe, taman baca, kedai buku, dan taman bunga. Konsepnya bagus. Tentu kalau sudah jadi, tambah bagus.
Saya suka sekali komunitas-komunitas yang punya visi jauh ke depan. Dari cerita mereka, menambah semangat. Mau saya bikin juga yang begitu, tapi modal belum cukup. Baru di angan-angan.
Rumah Ramayani ada satu bilik khusus kucing. Ada belasan kucing cantik jenis Anggora. Ramayani memang penyuka kucing. Setiap hari ia mengurus dan menyapa kucing-kucingnya itu. Layaknya orang tua dengan anak.
Di rumahnya pula, saya melihat ada sesudut lemari buku. Raknya penuh buku. Itu menandakan penyair yang juga seorang guru ini seorang pembaca.
Memang harus begitu. Penulis mesti membaca buku. Kalau tidak suka baca buku, ada yang aneh. Sebab menulis dan membaca itu ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.
Setelah cukup ngopi dan rehat, Kuflet melanjutkan perjalanan malam menembus belantara Tebo. Menuju Jambi. Jalan berliku, dan tak sedikit lubang. Malam gelap gulita.
Sekira pukul 01.00 WIB, roda si Biru tak dapat mengelak lubang di tengah jalan. Ban belakang si Biru pecah dengan suara merepet yang mengagetkan. Kaget, karena lokasi pecah bannya di tengah hutan. Gelap gulita. Satu-dua mobil melintas. Selebihnya suara insekta margasatwa dan aroma hutan yang khas.
Bengkel tak ada dan tak jelas lokasinya di mana. Syukurlah, alat dan kunci-kunci lengkap. Ban serep ada pula. Di malam yang sudah dekat dini hari itu, tubuh si Biru “dipreteli”. Kami bekerja tanpa melihat ke sekeliling. Fokus membongkar dan mengganti ban, agar si Biru kembali berjalan.
Kerja tuntas. Ban serep telah terpasang. Lega. Dan si Biru meninggalkan rimba.
“Hutan di situ angker,” kata Rian Juskal, suami Ramayani mengabarkan. Saya tak memikirkan apa-apa lagi. Semalaman belum tidur.
Tepat di saat azan Subuh berkumandang kami memasuki kota Jambi. Salat di sebuah masjid di kompleks perumahan mewah di jantung kota Jambi. Setelah hari agak terang, si Biru perlu diperiksa ke bengkel, dan akhirnya, dua roda belakang si Biru diganti.
“Harga ban di Jambi lebih murah daripada di Sumbar,” ujar Sulaiman Juned seolah tak percaya. Saya tersenyum. “Bungkus, Bang,” ujar saya.
Dan, pagi itu juga, dua roda belakang si Biru telah berstatus baru.
Selesai dari bengkel, kami menikmati nasi lemak dan teh tarik di sebuah warung sarapan pagi. Empunyanya keturunan India. Musik India pagi itu membuat kepala saya menggeleng-geleng dan di bawah meja kaki saya bergoyang mengikuti irama lagu itu.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Follow berita terbaru ( https://whatsapp.com)




















