Oleh Muhammad Subhan
SEDERET kalimat itu ditulis sebuah akun bernama Komunitas Literasi Buol di kolom komentar esai saya berjudul “Benarkah Penggerak Literasi Berada di Persimpangan Jalan?” di halaman Facebook.
Komentar itu bernada putus asa, tetapi menyisakan semangat: “Serba salah. Dilema. Sudah tujuh tahun kami bergerak, tak ada sesuatu yang membuat kami kuat, tapi kami bertahan.”
Saya telusuri beranda akun komunitas itu. Saya melihat sejumlah kegiatan literasi yang telah dilakukan, khususnya di sekolah dan perpustakaan. Banyak yang menarik.
Komunitas literasi itu aktif, meski saya tidak mengenal siapa saja para pegiatnya. Keaktifan itu pula yang hingga tujuh tahun, seperti dikatakan, membuat mereka tetap bertahan.
Tak mudah bertahan dalam kerja-kerja kerelawanan, memang. Apalagi terkait literasi. Banyak komunitas literasi yang tidak punya fondasi kukuh, muncul lalu timbul, hilang lalu tenggelam. Sebagian lagi hidup segan, mati tak mau.
Waktu tujuh tahun, kalau diibaratkan usaha bisnis, idealnya sudah melewati berbagai badai. Badai terkuat biasanya datang pada tiga hingga empat tahun pascaberdiri. Jika lebih dari lima tahun mampu melewatinya, semestinya sudah tampak arah dan peluang untuk bertumbuh lebih jauh.
Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu.
Bertahan tidak selalu identik dengan bertumbuh. Ada komunitas yang bertahan karena semangat segelintir orang, bukan karena sistem yang kuat. Ada pula yang bergerak karena rasa “tidak enak berhenti”, bukan karena visi yang terus diperbarui.
Di titik inilah refleksi menjadi penting.
Komunitas literasi tidak cukup hanya bergerak; ia harus tahu ke mana arah geraknya. Tanpa arah, kerja-kerja kerelawanan mudah terjebak pada rutinitas yang melelahkan tanpa dampak yang terukur.
Kerja literasi, misalnya, tidak bisa lagi berdiri sendiri. Ia membutuhkan jejaring yang luas dengan berkolaborasi sesama komunitas, pemerintah, dunia usaha, hingga individu-individu yang memiliki kepedulian. Dari relasi itulah terbuka kemungkinan dan peluang seperti bantuan buku, dukungan dana, pelatihan, bahkan kolaborasi program.
Tanpa itu, komunitas seperti berjalan sendirian di jalan yang panjang.
Di saat yang sama, arah program harus jelas dan dijalankan secara konsisten. Banyak komunitas terjebak pada kegiatan seremonial yang datang dan pergi tanpa jejak. Padahal, yang dibutuhkan adalah kesinambungan.
Bahkan, akan jauh lebih kuat jika komunitas memiliki satu atau dua program khas yang benar-benar menjadi identitas, sesuatu yang membuat publik mudah mengenali sekaligus percaya pada kerja yang dilakukan.
Di tengah arus informasi hari ini, kerja yang baik tetapi tidak terdokumentasi dengan baik akan cepat dilupakan. Karena itu, publikasi menjadi bagian yang tak terpisahkan. Media sosial bukan sekadar etalase, melainkan ruang narasi.
Cerita-cerita dari kegiatan, testimoni, hingga capaian perlu dihadirkan secara konsisten.
Begitu pula dengan upaya menjangkau media arus utama melalui siaran pers, agar gaung kerja komunitas tidak hanya beredar di lingkaran sendiri menjadi penting.
Lebih jauh, komunitas perlu membiasakan diri untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang, lalu menilai dengan jujur apa yang telah dilakukan. Apakah program benar-benar berdampak, atau hanya sekadar mengisi waktu dan kewajiban? Dari ruang evaluasi itu, bukan hanya perbaikan yang lahir, tetapi juga rasa kebersamaan, bahwa setiap orang yang terlibat adalah bagian dari perjuangan yang sama.
Gerak yang terlalu nyaman di lingkungan sendiri juga kerap membuat komunitas kehilangan daya dorong. Karena itu, membuka diri ke luar menjadi strategis. Menjalin kerja sama lintas daerah, bertukar ide dan pengalaman, bahkan mengadopsi praktik baik dari tempat lain.
Dari perjumpaan-perjumpaan itu, sering kali muncul energi baru yang tidak terduga.
Ruang fisik komunitas pun tidak bisa dipandang sepele. Basecamp bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wajah dari semangat komunitas itu sendiri. Ketika ruang dirancang nyaman, menarik, dan mengundang, orang akan datang bukan hanya untuk kegiatan, tetapi juga untuk merasakan suasana. Dari sana, keterlibatan tumbuh, dan komunitas menemukan napasnya yang lebih hidup.
Sudah saatnya komunitas literasi menempatkan dirinya seperti lembaga pendidikan yang memiliki arah jelas. Ada semacam kurikulum, ada proses, dan ada tujuan yang ingin dicapai.
Literasi tidak berhenti pada membaca dan menulis, tetapi menyentuh persoalan nyata masyarakat. Pendekatan inklusi sosial menjadi penting pula, agar literasi hadir sebagai jawaban, bukan sekadar aktivitas.
Di sisi lain, kemandirian tidak bisa terus ditunda. Ketergantungan pada donasi sering kali membuat gerak menjadi lambat. Karena itu, perlu upaya membangun sumber daya sendiri, melalui usaha mandiri, pengolahan sampah menjadi barang jadi misalnya, peternakan, kebun komunitas, atau bentuk-bentuk lain yang memungkinkan.
Di sanalah literasi menemukan bentuknya yang paling konkret, tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memberdayakan.
Komentar dari Komunitas Literasi Buol itu sebetulnya bukan sekadar keluhan. Ia adalah cermin dari banyak komunitas lain yang berada dalam situasi serupa: bergerak, tetapi merasa tidak kuat.
Barangkali, yang mereka butuhkan bukan tambahan semangat semata, tetapi penataan ulang arah. Bertahan tanpa bertumbuh memang melelahkan.
Dan literasi, jika ingin tetap hidup, tidak cukup hanya digerakkan oleh ketulusan. Ia harus ditopang oleh strategi, dikuatkan oleh kolaborasi, dan dijalankan dengan kesadaran bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, harus menuju perubahan yang nyata.
Jika tidak, tahun-tahun yang dilalui akan terasa seperti sebentar yang panjang. Ramai oleh kegiatan, tetapi hampa oleh harapan dan diimpit keraguan: “Mau ngapain lagi setelah ini?”
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
















