Oleh Muhammad Subhan

BANYAK orang acap kali beranggapan bahwa menjadi penulis adalah bentuk lain dari pengangguran, bahkan ada yang menyebutnya sebagai kemalasan yang terselubung. Pandangan miring ini biasanya lahir karena mereka tidak melihat proses kerja seorang penulis secara langsung.

Padahal, di balik lembaran buku atau artikel yang tersaji, ada pergulatan batin yang menguras energi.

Setiap malam, ketika dunia terlelap, seorang penulis justru sedang giat bekerja melahirkan karya. Dengan pikiran dan jiwa, mereka menembus kelelahan berjam-jam demi mengalirkan renungan ke atas kertas atau layar laptop.

Ruang kerja mereka mungkin sederhana, hanya tersedia bantal dan kopi sebagai kawan, jauh dari kemewahan kasur empuk atau selimut tebal, karena bagi mereka, kenyamanan utama adalah saat ide berhasil ditangkap.

Bagi seorang penulis, ruang kerja tidak butuh kemegahan. Terkadang hanya sebuah laptop di atas meja sederhana atau bahkan di lantai berkarpet.

Tak ada kemewahan fisik, yang ada hanyalah ruang bersepi-sepi yang dipenuhi semangat untuk merangkai kata.

Di sana, batas antara ruang istirahat dan ruang kerja menjadi kabur demi sebuah proses kreatif.

Lelah bagi mereka adalah sebuah bentuk kemerdekaan, dan karya adalah napas kehidupan.

Menulis adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cinta sepenuh hati. Meskipun sering dianggap tidak bekerja oleh masyarakat umum, bagi para penulis, dunia kata-kata jauh lebih luas dan menjanjikan daripada berhektar-hektar kebun sawit atau kelapa.

Kehidupan seorang penulis memang berbeda dengan pekerja kantoran. Tidak ada jam kerja yang pasti, tidak ada presensi pagi-sore, dan tidak ada target yang terikat kontrak perusahaan secara kaku.

BACA JUGA :  Panglima TNI Anugerahkan Bintang Kehormatan kepada Menhan RI dan Kepala BIN : Apresiasi Pengabdian untuk Negeri

Penulis bekerja dalam keheningan, terkadang ditemani secangkir kopi yang menjadi dingin karena lupa diteguk.

Inspirasi bisa datang tengah malam, hadir di dalam bus, lahir di pelataran masjid, atau saat hujan turun deras di luar jendela.

Penulis bekerja ketika orang lain tidur, dan terkadang baru tertidur saat orang lain mulai berangkat kerja.

Mereka menjual kata-kata. Kata-kata itulah modal sekaligus mata pencaharian.

Sebagian penulis hidup dari honorarium, royalti buku, artikel di surat kabar, naskah drama, hingga tulisan di media digital. Mereka menghidupi diri dan keluarganya dengan huruf, kalimat, paragraf, dan cerita.

Ada yang menulis novel untuk membayar sewa rumah, menyusun skenario demi biaya sekolah anak, atau menulis esai agar dapur tetap mengepul.

Tak sedikit pula yang menjadi penulis bayangan (ghostwriter) demi memenuhi kebutuhan hidup.

Pekerjaan ini memang tidak kasat mata karena yang dijual bukan barang berwujud, melainkan gagasan yang lahir dari otak dan jiwa.

Namun, justru di sanalah sering datang cibiran.

Penulis kerap dianggap aneh, tidak punya masa depan yang jelas, dan berbagai label negatif lainnya.

Orang lupa, jika tidak ada penulis, apa yang akan dibaca di perpustakaan? Apa yang akan dipelajari di sekolah? Dari mana buku-buku pelajaran itu lahir kalau bukan dari pena seorang penulis?

Buku-buku sejarah, ilmu pengetahuan, sastra, dan karya lainnya lahir dari tangan dan kesetiaan para penulis.

Saya teringat Buya Hamka dalam bukunya “Kenang-Kenangan Hidup” yang memotret bagaimana seorang pengarang bekerja. Hamka menulis:

“Dalam mengarang kita akan bertemu dengan kegagalan. Dalam mengarang kita akan bertemu dengan angin baik dan angin buruk. Kadang-kadang dalam sedikit tahun kita mendapat inspirasi berturut-turut, sehingga kita digelari orang produktif, mengeluarkan hasil banyak. Tetapi dalam waktu yang lain kita sepi. Hanya ilhamlah kawan pengarang yang karib. Ilham itu pun tidak datang. Kita tidak boleh berputus asa, karena di dalam jiwa kita tidaklah padam keinginan hendak mengarang. Tuan pikirkan sendirilah!”

BACA JUGA :  Wartawan Kerja Proyek, Boleh?

Pengakuan Hamka ini menyingkap betapa menulis tidak selalu lancar. Ada masa panen, ada pula masa paceklik. Namun, seorang penulis tetap setia dengan pekerjaannya. Ia tidak punya pilihan selain menulis karena di sanalah dunianya.

Hamka bahkan menceritakan pengalamannya: ia mulai menulis pada 1925, namun baru beberapa tahun kemudian menerima honorarium yang cukup untuk belanja. Di masa awal, penghasilannya sangat kecil, tidak sebanding dengan tenaga yang dicurahkan. Tapi Hamka menyebutnya sebagai “perniagaan” juga, sebab menulis bukan hanya panggilan jiwa, melainkan jalan untuk bertahan hidup.

“Jadi, mengapa menjadi pengarang saya ini? Saya hanya mengatasi zamanku! Tidak lebih tidak kurang!” kata Hamka lagi. Ungkapan itu adalah pengakuan bahwa penulis bekerja melawan arus zaman, mencoba merekam perubahan, menangkap gejala, dan menyampaikan pandangan kepada pembaca.

Menulis adalah pekerjaan yang tidak ada sorakan penonton sebagaimana pemain bola, tidak ada tepuk tangan riuh sebagaimana musisi di panggung. Penulis hanya punya dirinya sendiri dan layar laptop yang dingin. Dari sana ia bergulat dengan kata-kata, membongkar ingatan, meramu pengalaman, dan mengubahnya menjadi narasi.

Kadang penulis seperti petani, menanam kata demi kata, menunggu musim panen ketika karya itu dibaca.

BACA JUGA :  Wamendagri Akhmad Wiyagus Dorong Stadion Sepak Bola Jadi Pusat UMKM dan Motor Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Kadang seperti nelayan, melempar jaring ke laut ide, berharap mendapatkan inspirasi segar.

Kadang pula seperti pengrajin, mengukir kata dengan sabar, menatah kalimat, dan mengamplas paragraf hingga indah.

Tidak jarang penulis harus melawan dirinya sendiri, seperti rasa malas, tidak percaya diri, hingga ketakutan tidak dibaca.

Tapi jika ia berhenti menulis, seakan ia berhenti bernapas.

Bayangkan dunia tanpa penulis. Tidak ada novel yang menghibur, tidak ada puisi yang menyentuh, tidak ada buku pelajaran, tidak ada sejarah yang dicatat.

Peradaban hanya akan hidup dari cerita mulut ke mulut yang pudar oleh waktu.

Penulis mungkin dianggap sepele, tetapi merekalah yang menyalakan obor peradaban. Dari Plato, Shakespeare, Pramoedya, hingga Taufiq Ismail atau yang lebih muda dari itu, semua menghidupi zaman dengan kata-kata.

Menjadi penulis berarti siap hidup dalam kesepian dan risiko tidak dimengerti. Namun, ini adalah pekerjaan mulia. Penulis mengajarkan kita berpikir dan mewariskan pengetahuan lintas generasi.

Hamka pernah berpesan, “Kalau hidup hanya sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja hanya sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Maka, menulis adalah pengabdian pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar mencari makan.

Penulis adalah mereka yang rela menyepi agar orang lain bisa menemukan terang. Meskipun kata-kata mereka sering dianggap remeh, sesungguhnya merekalah yang menjaga api pengetahuan tetap menyala.

Menjadi penulis adalah menyalakan lampu di jalan gelap. Terkadang mereka menjadi lilin yang rela tubuhnya terbakar asal orang lain mendapatkan cahaya.

 

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis & dan Manajemen Insertrakyat.com

 Ikuti Berita Insertrakyat.com