Oleh Muhammad Subhan

SEJAK kecil saya pencemas, meski tidak depresi. Cemas kalau tidak ada uang jajan. Cemas kalau PR tidak selesai. Cemas kalau teman tersinggung. Cemas kalau guru tiba-tiba menunjuk untuk menjawab pertanyaan di depan kelas, dan segala bentuk kecemasan lain.

Rasa cemas seperti itu barangkali pernah dialami hampir setiap anak.

Namun, yang perlu disadari, kecemasan pada anak hari ini tidak lagi sekadar kegelisahan yang akan hilang seiring waktu. Ia bisa tumbuh menjadi masalah kesehatan mental yang serius.

Tempo.co edisi Selasa, 10 Maret 2026, melaporkan pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahwa sekitar 700 ribu anak terdeteksi memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi.

Data tersebut berasal dari pemeriksaan kesehatan anak melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menjangkau sekitar tujuh juta anak sepanjang 2025–2026.

Dari jumlah itu, sekitar 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder), sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depressive disorder).

Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada wajah-wajah anak yang mungkin kita temui setiap hari: siswa di kelas, anak tetangga, atau bahkan anak kita sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok usia 11 hingga 17 tahun menjadi yang paling rentan.

BACA JUGA :  Pak Menteri, Pak Gubernur, Kami Ini Sudah Capek Miskin

Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan bahwa persentase siswa yang pernah berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023. Bahkan, persentase siswa yang pernah mencoba mengakhiri hidup meningkat lebih tajam, dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen.

Angka-angka ini seperti alarm keras yang memanggil kita semua, khususnya orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat, untuk melihat kesehatan mental anak sebagai isu serius, bukan sekadar persoalan “anak yang terlalu sensitif” atau “anak yang kurang kuat mentalnya”.

Menkes Budi Gunadi Sadikin juga menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan: keluarga, pertemanan, serta sistem pendidikan. Dengan kata lain, yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga dunia di sekitar anak itu.

Di sinilah kita perlu memikirkan dua jalur pemulihan yang berjalan bersama: jalur kesehatan dan jalur literasi.

Dari sudut pandang kesehatan, anak yang mengalami kecemasan atau depresi pertama-tama membutuhkan lingkungan yang aman secara emosional. Banyak anak merasa sendirian ketika menghadapi tekanan sekolah, konflik pertemanan, atau ekspektasi orang tua. Ketika mereka mencoba bercerita, respons yang sering mereka terima justru berupa nasihat yang mematahkan perasaan: “Jangan lebay.” “Itu masalah kecil.” “Kamu harus kuat.”

BACA JUGA :  SINTESIS 2025: KPK Bentuk Armada Pemuda Anti Korupsi, Dari Literasi Menuju Aksi Terpadu

Padahal, yang paling dibutuhkan anak sering kali hanyalah kalimat sederhana: “Saya mengerti kamu sedang sedih. Mau cerita?”

Kalimat seperti itu membuka pintu empati. Anak merasa didengar, bukan dihakimi.

Selain dukungan emosional, rutinitas hidup sehat juga sangat penting bagi kesehatan mental anak: tidur yang cukup, aktivitas fisik, waktu bermain, serta pembatasan penggunaan gawai.

Ketika gejala sudah lebih berat, misalnya anak menarik diri, kehilangan minat belajar, atau mengalami gangguan tidur, maka bantuan profesional seperti psikolog anak atau konselor sekolah menjadi sangat diperlukan.

Pemerintah sendiri mulai mencoba memperkuat layanan kesehatan mental dengan menambah tenaga psikolog klinis di puskesmas dan menyediakan layanan krisis kesehatan jiwa melalui platform Healing119.id. Namun, upaya medis saja tidak cukup.

Di sinilah literasi memainkan peran yang sering terlupakan.

Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga adalah kemampuan memahami diri, memberi nama pada emosi, dan mengekspresikan perasaan melalui bahasa. Dalam psikologi pendidikan, ada pendekatan yang dikenal sebagai bibliotherapy, yaitu terapi melalui bacaan dan cerita.

Ketika anak membaca cerita tentang tokoh yang mengalami kehilangan, kegagalan, atau kesedihan, ia menemukan cermin bagi perasaannya sendiri. Ia belajar bahwa kesedihan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan bagian dari pengalaman manusia.

BACA JUGA :  Sebuah Profesi yang Bernama Penulis

Menulis juga memiliki kekuatan terapeutik. Buku harian, puisi, atau cerita pendek dapat menjadi ruang aman bagi anak untuk menumpahkan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung. Banyak penelitian menunjukkan bahwa menulis reflektif dapat membantu meredakan tekanan emosional.

Sekolah dapat memainkan peran besar dalam hal ini. Program literasi tidak seharusnya hanya berfokus pada peningkatan nilai membaca, tetapi juga membuka ruang percakapan tentang kehidupan.

Guru dapat mengajak siswa menulis jurnal harian, membaca cerita bersama, lalu mendiskusikan perasaan tokoh di dalamnya. Pertanyaan sederhana seperti, “Mengapa tokoh ini sedih?” atau “Apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisi dia?” sering kali membuka percakapan emosional yang tidak pernah muncul dalam pelajaran biasa.

Literasi yang humanis membantu anak belajar membaca bukan hanya buku, tetapi juga dirinya sendiri.

Kesehatan mental anak bukanlah persoalan medis semata. Ia adalah persoalan kemanusiaan. Anak-anak membutuhkan orang dewasa yang hadir, mendengar, dan memberi bahasa bagi perasaan mereka.

Barangkali penyembuhan sering dimulai dari hal yang sangat sederhana: sebuah percakapan yang tulus.

“Saya mengerti kamu sedang sedih. Mau cerita? Saya akan mendengarkan. Dan, kamu tidak sendirian.”

 

Editor: Zamroni |Oleh: Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

 Ikuti Berita Insertrakyat.com