Oleh Muhammad Subhan, 15 Maret.

SUMATRA BARAT banyak bertumbuhan taman bacaan, dan salah satu yang paling aktif adalah Rumah Baca Anak Nagari (RBAN). Lokasinya di Jorong Kandikir, Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Rumah baca ini tak jauh dari ‘rumah bagonjong’ Kantor Wali Kota Bukittinggi.

Saya mengikuti perkembangan rumah baca ini sejak awal berdiri pada tahun 2017. Digerakkan oleh sepasang suami istri, Hasan Achari Harahap dan Sry Eka Handayani. Program edukasinya banyak, terutama mengajak anak-anak binaannya membaca buku, belajar komputer, hingga menyalurkan buku-buku ke sekolah dan kantong literasi lainnya di Sumatra Barat.

Sampai hari ini, RBAN terus bertumbuh bahkan menerima banyak penghargaan, baik di tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Setiap bulan suci Ramadan, salah satu program rutinnya adalah Bincang Ramadan sambil ‘ngabubu-read’. RBAN mengundang pakar-pakar di berbagai bidang untuk mengobrol sesuai kepakarannya, live di Instagram RBAN. Tahun-tahun sebelumnya saya selalu diundang untuk ikut berbagi inspirasi, pun tahun ini. Dan, Kamis, 12 Maret 2026 lalu, saya penuhi undangan itu.

Topik yang dibahas kali ini adalah “Menulis Kreatif di Era Kecerdasan Buatan”. Ini topik aktual dan menarik. Kami mengobrol dengan dipandu moderator Ketua RBAN, Hasan Achari Harahap.

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia tulis-menulis kreatif beberapa tahun terakhir berlangsung sangat cepat. Jika dahulu perangkat digital hanya membantu memeriksa tata bahasa atau kesalahan ejaan, kini teknologi itu telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya. AI mampu membantu merancang ide cerita, menyarankan pengembangan karakter, bahkan menyusun draf awal sebuah tulisan hanya dari beberapa perintah sederhana.

BACA JUGA :  Media Center Kawal Informasi Pemulihan Bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut

Kemampuan ini membuat banyak orang terperangah. Dalam hitungan detik, mesin dapat menghasilkan cerpen, puisi, atau esai yang tampak rapi secara struktur. Bagi sebagian orang, teknologi ini terasa seperti jalan pintas yang memudahkan proses menulis. Tetapi bagi sebagian lainnya, kehadiran AI memunculkan kegelisahan: apakah mesin suatu hari nanti akan menggantikan penulis manusia?

Kegelisahan semacam itu wajar. Dalam sejarahnya, setiap kemajuan teknologi hampir selalu diiringi kekhawatiran akan tergesernya peran manusia.

Mesin cetak pernah dianggap mengancam para penyalin manuskrip. Komputer pernah dipandang akan menghilangkan pekerjaan para pengetik. Namun, dalam kenyataannya, teknologi tidak serta-merta menghapus peran manusia. Ia justru mengubah cara manusia bekerja.

Hal yang sama kemungkinan terjadi dalam dunia tulis-menulis.

Banyak penulis hari ini memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam proses kreatif. Teknologi itu digunakan untuk memancing ide, menyusun kerangka cerita, mencari alternatif diksi, atau mempercepat proses penyuntingan. Dalam posisi ini, AI bekerja seperti asisten yang membantu penulis berpikir lebih cepat, bukan menggantikan imajinasi mereka.

Namun di sisi lain, kehadiran AI juga memunculkan pertanyaan etika yang tidak sederhana. Jika sebuah tulisan dihasilkan sebagian atau sepenuhnya oleh mesin, sejauh mana ia dapat disebut sebagai karya kreatif manusia?

Di sejumlah komunitas literasi internasional, perdebatan tentang transparansi penggunaan AI dalam karya tulis mulai muncul. Bahkan, ada gagasan agar buku atau artikel yang dihasilkan sepenuhnya oleh manusia diberi label khusus sebagai penanda keaslian proses kreatif.

BACA JUGA :  IPH Aceh, Sumbar, dan Sumut Turun Signifikan, Inflasi Tertinggi Desember 2025 Teratasi

Perdebatan ini menunjukkan bahwa dunia menulis sedang memasuki fase baru.

Teknologi telah membuka kemungkinan yang luas, tetapi sekaligus menuntut kesadaran baru tentang integritas kreatif. Di tengah perubahan itu, satu hal tetap penting: manusia masih menjadi sumber utama pengalaman dan relevansi batin.

Sastra, pada dasarnya, lahir dari pengalaman hidup. Ia tumbuh dari kegelisahan, kenangan, luka, kegembiraan, dan pergulatan batin manusia. Mesin mungkin mampu meniru pola bahasa, tetapi ia tidak memiliki pengalaman hidup. Ia tidak pernah merasakan kehilangan, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah berjalan sendirian di jalan yang lengang sambil memikirkan nasib peradaban.

Di situlah batas yang paling jelas antara tulisan manusia dan tulisan mesin.

Tulisan manusia membawa jejak pengalaman yang unik. Ada keraguan, ada ketidaksempurnaan, ada sudut pandang yang lahir dari kehidupan nyata. Justru dari ketidaksempurnaan itulah sebuah tulisan terasa hidup.

Kehadiran AI juga memunculkan tantangan baru bagi generasi muda yang sedang belajar menulis. Kemudahan teknologi dapat membuat proses menulis terasa terlalu instan. Ketika sebuah draf dapat diperoleh hanya dengan beberapa perintah, ada risiko bahwa proses berpikir yang seharusnya panjang menjadi dipersingkat.

Padahal, menulis bukan sekadar menyusun kalimat.

Menulis adalah proses berpikir. Ia melibatkan pencarian ide, keraguan, revisi, bahkan kebuntuan yang kadang melelahkan.

Proses panjang itulah yang sebenarnya membentuk kedalaman sebuah tulisan.

Jika generasi muda terlalu bergantung pada teknologi, mereka bisa kehilangan pengalaman penting dalam proses kreatif: pengalaman bergulat dengan ide.

BACA JUGA :  Dokter Anak Peringatkan Bahaya AI bagi Anak, PP Tunas Berlaku 28 Maret 2026

Sebaliknya, jika teknologi digunakan secara bijak, ia justru dapat menjadi alat belajar yang bermanfaat. AI dapat membantu memperkaya kosakata, memberikan contoh struktur tulisan, atau membuka kemungkinan baru dalam eksplorasi gaya bahasa.

Karena itu, persoalan utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita memanfaatkannya.

AI seharusnya dipahami sebagai alat, bukan pengganti kreativitas. Penulis tetap perlu memulai tulisannya dari pengalaman, pengamatan, dan gagasan yang lahir dari dirinya sendiri.

Dalam konteks inilah komunitas literasi seperti RBAN memiliki peran penting. Ruang-ruang literasi semacam ini bukan sekadar tempat membaca buku, tetapi juga tempat membangun kesadaran bahwa menulis adalah cara memahami kehidupan. Anak-anak yang datang ke rumah baca tidak hanya diajak membaca, tetapi juga diajak berpikir, bertanya, dan mengekspresikan gagasan mereka.

Di era digital yang serba cepat, ruang-ruang semacam itu menjadi semakin penting. Ia mengingatkan bahwa menulis melampaui urusan kecepatan; ia adalah perjalanan menuju kedalaman. Bukan sekadar merangkai teks, melainkan mengabadikan getir dan saripati kehidupan.

Masa depan tulis-menulis kreatif kemungkinan bukanlah pertarungan antara manusia dan mesin. Yang akan terjadi justru kolaborasi. Teknologi membantu mempercepat proses teknis, sementara manusia tetap menjadi sumber imajinasi dan pengalaman batin.

Dan selama manusia masih memiliki cerita tentang hidupnya, apa pun itu: tentang harapan, kegagalan, cinta, dan kehilangan, sebuah tulisan akan selalu menemukan jalannya. Teknologi boleh berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk bercerita tidak akan pernah hilang.

 

Penulis: Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Editor : Zamroni

 Ikuti Berita Insertrakyat.com