Oleh Muhammad Subhan

SEORANG syekh dari Arab Saudi yang mengimami masjid didekat rumah saya, berkunjung suatu malam. Kedatangannya diantar sahabat saya untuk sekadar bersilaturahmi. Saya menyambutnya dengan jamuan ala kadar.

Syekh itu tak pandai berbahasa Indonesia, padahal ia sudah berada di Indonesia, khususnya Padang Panjang, dalam waktu cukup lama. Saya sendiri kagum tiap kali mendengar lantunan bacaannya saat memimpin salat.

Di ruang tamu, kami berbincang. Saya tak mahir berbahasa Arab, dan lawan bicara saya pun tak mampu bahasa Indonesia. Namun, teknologi menjembatani.

Setiap kali hendak berbicara, sang syekh merekam ucapannya di ponsel, lalu mengeraskan volumenya. Seketika, keluarlah terjemahan bahasa Indonesia dari lisan Arabnya.

Terjemahan itu cukup saya pahami. Begitu pula sebaliknya, saya merekam dan memperdengarkan apa yang ingin saya sampaikan kepadanya.

Meski berakar dari dua budaya dan bahasa yang kontras, kami saling mengerti. Teknologi memendekkan jarak, menghubungkan komunikasi sehingga yang semula mustahil menjadi mungkin.

Pengalaman yang barangkali tampak sepele itu justru menghadirkan pertanyaan, apakah bahasa benar-benar menjadi penghalang mutlak dalam perjumpaan manusia, ataukah ia hanya satu dari sekian jembatan yang kini bisa dibangun dengan berbagai cara?

Di sisi lain, saya memiliki kawan seorang sastrawan. Kemampuan menulisnya mumpuni, namun ia tidak menguasai bahasa Inggris. Ia seorang pejuang bahasa Indonesia sejati yang karya-karyanya selalu memikat untuk dibaca.

Ia punya keinginan untuk mengunjungi sebuah negara demi mendalami khazanah sosial-budaya di sana, lalu menuliskan pengalaman itu untuk diterbitkan dan diedarkan secara luas sekembalinya ke tanah air.

Kesempatan itu ada. Tahun ini, pemerintah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa membuka seleksi Program Residensi Sastrawan Berkarya di Mancanegara. Program ini merupakan peluang emas bagi sastrawan untuk mengembangkan karya, memperluas jejaring internasional, sekaligus memperkenalkan wajah sastra Indonesia ke panggung dunia.

Mulia sekali misi itu. Namun, kawan saya akhirnya mengurungkan niat. Ia memilih mundur. Pasalnya, ia tidak cakap berbahasa Inggris, yang menjadi salah satu syarat utama pendaftaran program itu.

Di titik ini, muncul dilema. Di satu sisi, kemampuan bahasa asing dianggap mutlak untuk berinteraksi di negeri orang. Di sisi lain, kematangan berkarya tidak selalu berbanding lurus dengan kecakapan linguistik.

Apakah seorang sastrawan yang kuat dalam gagasan dan kaya dalam imajinasi harus tersisih hanya karena tidak fasih berbahasa Inggris?

Logika persyaratan itu terasa usang jika dibandingkan dengan pengalaman saya bersama syekh tadi. Jika teknologi saja mampu menjembatani dua orang asing secara instan, mengapa dalam program sebesar residensi sastra, yang tujuan utamanya adalah penggalian gagasan dan estetika, hambatan bahasa masih diposisikan sebagai harga mati yang membungkam potensi?

Di sinilah pentingnya menimbang ulang desain residensi sastrawan ke luar negeri.

Residensi sastra tetaplah penting. Program ini bukan sekadar perjalanan fisik, juga ruang pertukaran ide dan pematangan karya. Namun, di masa mendatang, mekanisme pengirimannya perlu dievaluasi.

Sudah saatnya sastrawan yang diutus bukan lagi individu tunggal, melainkan sepasang: sastrawan dan penerjemah.

Sastrawan tetap menjadi pusat sebagai pembawa gagasan dan pengalaman kreatif. Sementara itu, penerjemah hadir bukan sekadar sebagai pengalih bahasa, melainkan jembatan budaya. Dengan skema ini, hambatan bahasa tidak lagi menjadi “filter” yang diskriminatif. Kualitas karya dan kedalaman visi jugalah yang menjadi panglima.

Ini krusial untuk mendemokratisasi kesempatan.

Selama ini, kecakapan bahasa Inggris sering menjadi “gerbang utama” yang menentukan siapa yang boleh berangkat. Akibatnya, banyak sastrawan berbakat, terutama mereka yang berakar kuat pada tradisi lokal, tereliminasi sejak awal.

Padahal, sering kali suara-suara lokal dari pelosok negeri inilah yang justru paling eksotis dan menarik bagi pembaca global.

Dengan menghadirkan penerjemah sebagai pendamping, otomatis memutus lingkaran “orang yang itu ke itu saja” yang sering muncul dalam program residensi. Penerjemah berfungsi sebagai pemandu yang membantu sastrawan merasuk ke komunitas lokal, sekaligus menangkap nuansa rasa yang sering kali luput jika hanya mengandalkan mesin penerjemah.

Keuntungan lainnya adalah produktivitas yang terukur. Selama ini, banyak sastrawan baru mencari penerjemah setelah pulang residensi. Prosesnya panjang, sering terhenti di tengah jalan, atau bahkan tak pernah selesai. Yang lebih fatal, penerjemah yang dicari tersebut sering kali tidak memiliki ikatan emosional dengan proses kreatif yang dialami penulis di lokasi residensi.

Dengan model berpasangan, proses kreatif dan penerjemahan berlangsung simultan. Karya bisa langsung didiskusikan dan disunting. Ketika program berakhir, sastrawan membawa pulang draf yang sudah siap menembus pasar internasional. Di sisi lain, ekosistem penerjemahan di Indonesia pun ikut menguat karena sang penerjemah mendapatkan ruang belajar yang konkret.

Sastra adalah wajah bangsa. Namun, wajah itu akan tetap samar jika tidak ada yang menerjemahkannya dengan napas yang tepat.

Negara harus hadir untuk memastikan akses ini adil. Seleksi residensi seharusnya bertumpu pada kualitas rekam jejak dan aktivitas kesastraan, sementara kemampuan bahasa Inggris diletakkan sebagai pendukung, bukan penentu tunggal.

Menguatkan program itu, sastrawan dapat mengajukan penerjemah pilihannya sendiri, atau negara menyediakan mitra yang kredibel sebagai rekan perjalanan. Di akhir program, pasangan ini diwajibkan menghasilkan luaran konkret berupa bundel karya yang telah diterjemahkan.

Jangan biarkan kendala bahasa membungkam talenta terbaik bangsa.

Sastra Indonesia terlalu kaya jika hanya diwakili oleh segelintir mereka yang fasih berbahasa asing, sementara ada ruang untuk belajar, menambah ilmu dan pengalaman bagi banyak sastrawan lain yang berpeluang mengikuti residensi.

Negeri ini tidak kekurangan sastrawan hebat. Hanya perlu cara yang lebih bijak untuk mengantarkan mereka ke kancah internasional.

Sudah saatnya sastrawan dan penerjemah berjalan beriringan, menyeberangi batas bahasa, dan memastikan bahwa suara dari rahim ibu pertiwi benar-benar terdengar hingga ke ujung dunia.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

💬 Laporkan ke Redaksi