Medan,— Relawan BONAR Sumatera Utara (Sumut) resmi bertransformasi menjadi organisasi masyarakat bernama Ormas BONAR Indonesia. Ahad (8/3/2026).

Ormas BONAR telah membentuk Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di sejumlah wilayah. Mulai Kota Medan, Simalungun, Tebing Tinggi, Binjai, dan Toba.

Lantas bagaimana awal mulanya BONAR Sumut ini terbentuk dan dikenal luas, bahkan kokoh di mata Masyarakat dan publik.

Siapa saja tokoh elite yang berkaitan dengan BONAR. Yang pasti Bukan Sosok diri Prabowo Subianto, terlebih bukan pula Bahlil Lahadalia termasuk Surya Paloh. Dan apa mungkin Budi Arie sang pencetus Projo alias Pro Jokowi yang memiliki peranan penting dibalik terbentuknya BONAR Sumut, kemudian apa yang sebenarnya yang mendorong tranformasi?.

Lalu, adakah parit pasca transisi dan demokrasi politik 2024/2025 yang memisahkan antara BONAR Sumut dengan kepentingan Masyarakat. Sehingga BONAR perlu transformasi pada 2026.

Ataukah justru Tranformasi ini menjadi jembatan penghubung antara kepentingan masyarakat dengan peranan penting Ormas BONAR Indonesia selaku mitra strategis.

BACA JUGA :  Budi Arie Mendadak Ingin Gabung Ke Partai Gerindra, Gerindra Siap Terima?

Lengkapnya, jika ditarik jauh dari belakang, awal mulanya BONAR Sumut terbentuk dari kelompok relawan yang mendukung Bobby Nasution dalam kontestasi politik di Sumatera Utara.

Bobby Nasution, merupakan anak menantu dari Presiden RI Ke 7, Ir. H. Joko Widodo. Bobby juga memiliki Ipar yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka atau kaka kandung dari Ketua Partai Solidaritas Indonesian, (PSI), Kaesang Pangarep.

Setelah perjuangan pada pesta demokrasi politik, relawan BONAR kemudian bersepakat bertransformasi menjadi organisasi masyarakat (ormas) BONAR.

Tranformasi BONAR ditandai dengan acara deklarasi yang dirangkaikan buka bersama serta pemberian santunan kepada anak yatim-piatu.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat, 6 Maret 2026, di Kantor BONAR, Jalan Adi Sucipto, Medan Polonia, Sumatera Utara (Sumut), dihadiri ratusan pengurus.

Hadir pula Pembina Ormas BONAR Indonesia, Muhammad Riki Pangeran Siregar, Direktur Hukum BONAR Indonesia Henry R. Pakpahan, S.H, atlet JK Saragih, serta Ketua A-PPI Sumut Hardep (Raju).

BACA JUGA :  Menteri HAM Dorong Kepala Daerah Implementasikan HAM dalam Asta Cita

Henry R. Pakpahan mengatakan “BONAR” akronim dari Benar, Adil, Jujur, dan Transparan. Menurutnya akronim diharapkan menjadi nilai dasar organisasi dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.

“BONAR menyuarakan kepentingan rakyat,” tuturnya senada dengan ungkapan Ketua Umum BONAR Indonesia Octo GM Simangunsong, S.H serta Pembina BONAR Indonesia Muhammad Riki Pangeran Siregar.

Deklarasi tersebut ditutup dengan penyerahan bingkisan kepada puluhan anak yatim serta sesi foto bersama seluruh pembina dan pengurus BONAR Indonesia.

BOS PROJO DISENGGOL DARI KABINET 

Jika kembali sejenak publik berbicara jujur, tentang mengenai simpatisan dan tim sukses elite Nasional, ada satu yang tak luput dari Sejarah perpolitikan Indonesia, ialah Projo. (Pro Jokowi). Alhasil buah dari perjuangan Projo, Ketua “Budi Arie” melenggang ke Kursi Empuk Kementerian Komunikasi dan Digital. Salah satunya tugasnya adalah membasmi konten Judi online (Judol).

Hanya saja, tak lama menjabat, publik menganggap Budi Arie, “gagap dan gagal” menjalankan tugas di kementerian Komdigi; pasalnya konten Judol makin merajalela dan tidak terkontrol di Komdigi.

BACA JUGA :  Momentum Presiden Prabowo

Alih – alih berantas konten Judol justru sebaliknya, sejumlah organ Komdigi kala itu ditangkap polisi terkait kasus “judol”. Mereka lalu digelandang ke sel tahanan, selebihnya ditemukan pula tumpukan kertas pecahan rupiah di kantor Komdigi, penggeledahan itu dilakukan Polisi dari Polda Metro Jaya pada 1 November 2024.

Peristiwa itu pun menghebohkan seantero negeri. Buntutnya pun, Budi Arie digeres ke Kementerian Koperasi;

Namun tidak lama pula ia menjabat Menteri Koperasi, sebab terjadi Resufle kabinet.

Publik dan masyarakat saat itu kembali tersentak, bahkan tak sedikit masyarakat tercengang. Mereka kaget, sebab Kepala Negara, mendadak merombak kabinetnya.

Lebih jelasnya, saat itu, “Prabowo Subianto” melakukan reshuffle kabinet, dan Budi tersenggol.

Momen itu berlangsung pasca [estafet] kepemimpinan Indonesia dijalankan oleh Prabowo Subianto, sekitar kurang lebih 100 Hari kerja.

Budi Arie digantikan Menteri Koperasi  Ferry Juliantono, dan Menkomdigi dinahkodai oleh Meutya Hafid hingga saat ini. (Red).

 Ikuti Berita Insertrakyat.com