Oleh Muhammad Subhan
KETIKA kita menengok sejarah Indonesia, satu hal yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana para tokoh bangsa dibentuk oleh kebiasaan literasi yang kuat.
Mereka bukan hanya pejuang di medan politik atau perjuangan fisik. Mereka adalah pembaca yang tekun, penulis yang produktif, pemikir yang tajam, sekaligus orator yang mampu menggerakkan massa.
Jika kita berbicara tentang kecakapan literasi anak hari ini, sebenarnya kita sedang berbicara tentang fondasi kepemimpinan masa depan.
Setidaknya ada empat kecakapan literasi penting yang perlu dikembangkan sejak dini pada anak-anak: membaca, menulis, berdebat, dan berpidato.
Keempat kecakapan ini saling menguatkan, membentuk cara berpikir yang matang sekaligus kemampuan memengaruhi orang lain.
Sejarah bangsa Indonesia memberikan banyak contoh tentang hal itu.
Semua kecakapan literasi berawal dari membaca. Melalui membaca, seseorang memasuki dunia gagasan yang luas. Banyak tokoh bangsa dikenal sebagai pembaca yang rakus.
Soekarno sejak muda membaca buku-buku sejarah, filsafat, dan politik dunia. Bacaan itu membentuk pandangan besarnya tentang kemerdekaan dan persatuan bangsa.
Demikian pula dengan Mohammad Hatta. Ketika belajar di Belanda, ia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan. Buku-buku ekonomi, politik, dan filsafat menjadi santapan intelektualnya. Dari sanalah lahir pemikiran-pemikiran tajam tentang demokrasi dan ekonomi kerakyatan.
Tokoh lain seperti Sutan Sjahrir juga dikenal sebagai intelektual yang sangat mencintai buku. Bahkan dalam masa pembuangan, ia tetap membaca dan menulis. Bacaan-bacaan itu bukan sekadar pengetahuan, tetapi bahan bakar bagi lahirnya gagasan besar tentang masa depan bangsa.
Seorang anak yang gemar membaca akan memiliki wawasan luas. Ia belajar melihat dunia dari banyak sudut pandang. Dari situ tumbuh kemampuan berpikir kritis.
Jika membaca memperkaya pikiran, maka menulis adalah cara menata pikiran. Banyak tokoh bangsa meninggalkan tulisan-tulisan penting yang hingga kini masih dibaca.
Tan Malaka menulis buku terkenal, Madilog, sebuah karya yang mencoba memperkenalkan cara berpikir ilmiah kepada masyarakat Indonesia.
Tokoh ulama dan sastrawan besar Abdul Malik Karim Amrullah—atau yang dikenal sebagai Hamka—juga menunjukkan betapa kuatnya tradisi menulis dalam membangun pengaruh intelektual. Melalui novel, tafsir, dan esai-esainya, Hamka membentuk cara berpikir banyak orang.
Menulis melatih seseorang berpikir runtut, jernih, dan bertanggung jawab terhadap gagasannya. Pada anak-anak, kebiasaan menulis dapat dimulai dari hal sederhana: menulis cerita, catatan harian, atau esai tentang pengalaman mereka. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menuangkan pikiran ke dalam kata-kata.
Kecakapan literasi berikutnya adalah kemampuan berdebat secara sehat. Debat bukan sekadar adu keras suara. Debat adalah latihan berpikir logis dan menyusun argumen yang kuat.
Para tokoh pergerakan Indonesia terbiasa berdiskusi dan berdebat tentang masa depan bangsa, khususnya di surat-surat kabar. Diskusi-diskusi di organisasi pemuda, di ruang-ruang pertemuan, hingga di pengasingan, menjadi tempat lahirnya ide-ide besar tentang kemerdekaan.
Melalui debat, seseorang belajar mempertahankan gagasannya dengan alasan yang masuk akal. Ia juga belajar menghargai pendapat orang lain. Kecakapan ini penting dalam kehidupan demokrasi. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang warganya mampu berargumentasi tanpa harus bermusuhan.
Tahap berikutnya adalah kemampuan berpidato. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki gagasan besar. Ia juga harus mampu menyampaikan gagasan itu dengan cara yang menggugah.
Di sinilah kita melihat kekuatan para orator bangsa. Pidato-pidato Soekarno mampu membakar semangat rakyat. Kata-katanya bukan sekadar retorika, tetapi lahir dari bacaan luas, pemikiran matang, dan keyakinan kuat.
Bahkan tokoh militer seperti Jenderal Sudirman dikenal mampu memberikan pidato yang berapi-api tetapi sangat menggerakkan moral para prajurit. Pidato yang kuat tidak lahir dari hafalan semata. Ia lahir dari pikiran yang terlatih dan bahasa yang hidup.
Kemampuan berbicara di depan publik sebenarnya dapat dilatih sejak dini melalui presentasi di kelas, membaca puisi, atau berbicara di depan teman-teman.
Jika kita ingin melahirkan generasi pemimpin yang cerdas, visioner, dan berpengaruh, maka pendidikan literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca teks saja. Anak-anak perlu ruang untuk menulis gagasan mereka. Mereka perlu kesempatan berdiskusi dan berdebat. Mereka juga perlu panggung untuk berbicara.
Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus menjadi ekosistem yang mendukung proses itu. Perpustakaan harus hidup. Guru dan orang tua perlu memberi teladan sebagai pembaca. Kegiatan literasi perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Literasi tidak boleh berhenti sebagai slogan program. Ia harus menjadi budaya. Literasi bukan sekadar soal kecakapan akademik. Literasi adalah jalan menuju kematangan berpikir dan kepemimpinan.
Anak-anak yang terbiasa membaca akan memiliki wawasan luas. Anak-anak yang terbiasa menulis akan memiliki pikiran yang tertata. Anak-anak yang terlatih berdebat akan memiliki nalar kritis. Anak-anak yang berani berpidato akan mampu memimpin.
Dari kebiasaan-kebiasaan itulah kelak lahir pemimpin yang kuat, seperti para tokoh bangsa yang dahulu membangun negeri ini dengan kekuatan gagasan dan kata-kata.
Bangsa yang besar tidak lahir dari generasi yang diam. Ia lahir dari generasi yang memahami zaman, menuliskan pikirannya, memperdebatkan gagasan, dan berani menyuarakan masa depan.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis & manajemen InsertRakyat.com.
Berikan dukungan anda kepada Insertrakyat.com dengan mengikuti berita terupdate melalui jejaring media sosial. (Tersedia Saluran Whatsapp) ⤵️





















