Oleh Muhammad Subhan

KETIKA saya katakan kepada seorang kawan bahwa ada Hari Kesendirian Internasional setiap tanggal 26 Maret, ia tidak lekas percaya.

“Ah, masa ada?”

“Iya, ada.”

“Kok bisa?”

“Apa yang tidak bisa di dunia ini? Hampir setiap hari ada perayaannya,” jawab saya.

Kawan saya itu seorang introvert. Ia menyukai bersepi-sepi dengan dirinya sendiri, di mana saja. Ia tidak terlalu suka bergaul jika tidak ada keperluan penting. Ia juga tidak tertarik ikut organisasi.

“Kalau akhirnya ribut, untuk apa berorganisasi? Lebih enak jalan sendiri, kan? Tidak sampai sakit hati,” katanya suatu hari.

Lama saya renungkan kalimat itu. Ada benarnya juga. Untuk apa berkumpul jika yang lahir justru pertengkaran, menambah masalah, dan membuat hidup makin rumit?

“Bukankah kita butuh orang lain?” tanya saya di lain waktu

“Ya. Tapi saat kita butuh, di mana orang lain itu? Untuk apa terlalu memikirkan orang yang tidak memikirkan kita?” jawabnya ringan.

Saya kembali berpikir. Ada benarnya, meski saya tidak sepenuhnya setuju.

Ia lalu bercerita pernah menghadapi persoalan berat. Ia meminta bantuan kepada seseorang yang dulu pernah ia tolong. Namun, ia tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Kekecewaan pun muncul.

Saya memahami titik kecewanya. Namun, saya percaya hidup tidak selalu berjalan dalam garis timbal balik yang lurus. Orang yang kita bantu belum tentu menjadi orang yang akan membantu kita. Sering kali, pertolongan datang dari arah yang tidak disangka.

BACA JUGA :  Menelisik Perda Sumbar Nomor 2 Tahun 2023: Di Mana Posisi Sastra?

Singkatnya, satu pintu yang tertutup akan diiringi terbukanya pintu-pintu lain. Satu jalan yang buntu bisa saja membuka banyak jalan di tengahnya. Itu prinsip yang saya pegang.

Dalam percakapan seperti itulah, saya memandang 26 Maret sebagai Hari Kesendirian Internasional bukan sekadar perayaan unik yang lahir dari zaman yang gemar menamai segala sesuatu. Hari itu justru bisa menjadi cermin, bahkan jeda, untuk menengok kembali diri sendiri. Meski secara formal kalender internasional (PBB atau organisasi besar dunia) tidak mencatat 26 Maret sebagai Hari Kesendirian Internasional, namun dalam budaya populer internet dan gerakan kesehatan mental, tanggal 26 Maret diperingati sebagai “Self-Love Day” atau terkait dengan kampanye “Solo Day”.

Hari ini mengingatkan kita bahwa di balik kehidupan sosial yang riuh, manusia tetap membutuhkan ruang tenang. Bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk memulihkan diri dari dunia yang kadang terlalu bising.

Kesendirian sering disalahpahami sebagai kesepian. Padahal, keduanya berbeda secara mendasar. Kesepian adalah rasa kehilangan koneksi, keterasingan yang menyakitkan. Sementara kesendirian adalah pilihan sadar untuk berhenti sejenak, memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Dalam kesendirian yang sehat, seseorang justru menemukan dirinya. Ia bisa merenung tanpa gangguan, menimbang langkah hidup, dan mendengar suara hatinya sendiri—sesuatu yang sering tenggelam dalam keramaian.

Di tengah dunia digital hari ini, kesendirian menjadi barang langka. Gawai membuat kita terus terhubung, tetapi tidak selalu membuat kita benar-benar hadir. Notifikasi berdenting tanpa henti, percakapan tak pernah usai, dan perhatian kita terpecah ke banyak arah.

BACA JUGA :  Pak Menteri, Pak Gubernur, Kami Ini Sudah Capek Miskin

Ironisnya, di tengah keterhubungan itu, banyak orang justru merasa kosong.

Karena itu, meluangkan waktu untuk sendiri bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan. Ia menjadi cara untuk mengisi kembali energi mental, meredakan stres, dan menata ulang pikiran.

Banyak cara sederhana untuk merayakan kesendirian. Membaca buku tanpa gangguan, misalnya. Berjalan di alam, menulis catatan harian, atau sekadar duduk diam tanpa distraksi. Aktivitas-aktivitas itu tampak sepele, tetapi memiliki daya pulih yang besar.

Kesendirian yang disengaja juga membuka ruang kreativitas. Dalam keheningan, ide-ide sering muncul tanpa dipaksa. Pikiran menjadi lebih jernih, dan seseorang bisa melihat persoalan dengan perspektif yang lebih luas.

Namun, kesendirian tidak berarti menolak orang lain. Ia justru menjadi jembatan untuk kembali ke kehidupan sosial dengan lebih utuh. Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik akan lebih sehat dalam berhubungan dengan orang lain.

Dalam perspektif spiritual, kesendirian memiliki nilai yang mendalam.

Dalam tradisi Islam, dikenal beberapa konsep tentang “bersepi”. Ada uzlah, yaitu menjauh dari keramaian untuk menjaga hati. Ada khalwat, menyendiri untuk beribadah secara lebih khusyuk. Ada i’tikaf, berdiam di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan ada juga tafakkur, proses merenung yang bisa dilakukan kapan saja.

Semua itu menunjukkan bahwa ruang hening bukan sesuatu yang asing dalam perjalanan manusia menuju kedewasaan batin.

BACA JUGA :  "Padangpanjang 999", Membaca Tubuh Ingatan Penyair Sulaiman Juned

Salah satu bentuk kesendirian yang paling kuat adalah qiyamul lail, yaitu ibadah malam ketika dunia sedang tertidur. Di saat itulah seseorang berdiri, berbicara kepada Tuhannya tanpa perantara, tanpa hiruk-pikuk.

Kesendirian dalam bentuk ini bukan kekosongan, melainkan kehadiran yang paling penuh.

Barangkali di situlah kita belajar bahwa tidak semua kesenyapan itu sepi. Ada keheningan yang justru menghidupkan.

Hari Kesendirian Internasional, jika kita resapi lebih dalam, bukanlah ajakan untuk menjauh dari dunia, melainkan undangan untuk pulang. Ya, pulang ke dalam diri sendiri.

Sering kali, setelah jauh mencari ke mana-mana, kita baru sadar bahwa yang kita cari selama ini ada dalam diri kita sendiri.

Saya teringat sebait syair seorang sufi bernama Hamzah Fansuri. Ia menulis: Hamzah Fansuri di dalam Makkah/ Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah/ Dari Barus ke Kudus terlalu payah/ Akhirnya dapat di dalam rumah”.

Syair ini menegaskan perjalanan spiritual yang berujung ke dalam diri. Pencarian Tuhan tak harus jauh secara geografis. Yang hakiki justru ditemukan di batin. Ia menyindir pencarian lahiriah yang melelahkan, sekaligus mengafirmasi pengalaman makrifat sebagai jalan pulang.

Dan terkadang, untuk menemukan jalan pulang itu, kita hanya perlu satu hal: berani berdiam, merenung, lalu sering-sering bertanya, “dari mana kita datang, di mana sekarang, dan ke mana esok akan pulang?”

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis