Oleh Muhammad Subhan

SEBUAH akun Threads dengan nama pemilik @arynoersaid menjadi perbincangan di media sosial setelah ia membagikan pengalamannya sebagai wisatawan di Sumatera Barat.

Ia menceritakan layanan sopir dari kendaraan yang ia sewa untuk membawa rombongan turnya berkeliling Sumbar. Namun, ketika diminta berhenti di beberapa titik menarik sepanjang perjalanan, permintaan itu tidak dikabulkan.

Bahkan, ia sempat mengganti sopir pada hari berikutnya, tetapi kondisinya tetap sama.

Ia juga menceritakan perilaku sopir yang diajak makan di sebuah rumah makan, tetapi justru memesan makanan melebihi porsi dengan tagihan yang fantastis.

Saya kutip teks asli tanpa suntingan pada unggahan Threads @arynoersaid sebagai berikut:

“Pernah jadi turis di Sumbar, sewa mobil. Buat 5 orang plus sopir. Sopir anggap tugasnya cuma antar lintas daerah wisata, diajak berhenti di spot menarik sepanjang perjalanan slalu nolak, katanya gak bagus. 2 hari begitu terus kita minta ganti driver. Ternyata hbs ganti sama aja. Waktu mampir di Resto Lamun Ombak, kita ajak driver makan. Pisah meja. You know, tagihannya? Meja kita isi berlima bayar 390 ribu. Si uda driver sendirian 410 ribu. Ada lobsternya 🙂 Utk wisata, SDM Sumbar blom ready melayani.”

Sontak, unggahan itu dibanjiri komentar akun-akun lain yang ternyata memiliki pengalaman hampir serupa. Cerita-cerita yang tampak sepele itu justru menyimpan persoalan besar: wajah pelayanan pariwisata di Ranah Minang.

Di bagian inilah kita perlu jujur melihat diri sendiri. Sumatera Barat tidak kekurangan pesona. Alamnya memesona, budayanya hidup, kulinernya menggoda, dan sejarahnya kuat. Namun, semua kelebihan itu bisa tercoreng hanya oleh satu hal paling sederhana, yaitu cara memperlakukan tamu.

Dalam konsep Sapta Pesona, ada tujuh unsur yang menjadi fondasi kepariwisataan: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Dari ketujuh unsur itu, “ramah” dan “kenangan” adalah jantungnya. Wisatawan mungkin datang karena keindahan alam, tetapi mereka akan kembali karena pengalaman yang menyentuh perasaan.

Apa yang dialami wisatawan dalam kasus di atas justru sebaliknya. Mereka tidak diberi ruang untuk menikmati perjalanan secara fleksibel. Mereka tidak diposisikan sebagai tamu, melainkan sekadar penumpang. Bahkan, dalam hal makan bersama, muncul kesan “aji mumpung” yang merusak kepercayaan.

Kebiasaan aji mumpung ini, diakui atau tidak, masih menjadi penyakit laten dalam praktik pariwisata kita. Harga makanan yang tidak wajar, tarif parkir yang tidak jelas, hingga pungutan liar (pungli) yang terus berulang.

Semuanya mungkin tampak menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi merusak dalam jangka panjang.

Wisatawan yang kecewa tidak hanya pergi, tetapi juga membawa cerita buruk yang menyebar luas, seperti yang terjadi di media sosial hari ini.

Padahal, Sumatera Barat memiliki kekuatan yang sangat lengkap. Bentang alamnya dramatis, dari Danau Maninjau, Danau Singkarak, Lembah Harau, hingga Ngarai Sianok. Gunung Marapi, Singgalang, dan Talamau berdiri sebagai lanskap yang memanggil para petualang. Ini adalah modal besar untuk ekowisata, fotografi, dan wisata petualangan.

Di sisi lain, budaya Minangkabau adalah kekayaan yang tidak ternilai. Sistem matrilineal, rumah gadang, tradisi randai dan silek, hingga kehidupan nagari yang masih autentik, semuanya adalah daya tarik yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Ditambah lagi kuliner yang telah mendunia, seperti rendang, sate Padang, dan nasi Kapau; semuanya telah menjadi duta budaya tanpa perlu kampanye besar.

Warisan sejarah pun memperkuat posisi Sumatera Barat. Jam Gadang, Lubang Jepang, hingga rumah kelahiran Bung Hatta bukan sekadar situs, melainkan narasi kebangsaan yang hidup. Festival seperti Tour de Singkarak dan Tabuik juga menjadi magnet yang menyatukan olahraga, budaya, dan promosi wisata.

Namun, semua kekuatan itu akan kehilangan arti jika tidak dikelola dengan baik. Persoalan kita bukan pada “apa yang dimiliki”, tetapi pada “bagaimana mengelolanya”.

Masalah klasik masih terus berulang: akses yang belum merata, pengelolaan destinasi yang belum profesional, promosi yang belum kuat, serta keterbatasan sumber daya manusia. Banyak destinasi indah, tetapi fasilitasnya minim. Toilet tidak terawat, parkir semrawut, dan papan informasi tidak tersedia. Lebih dari itu, keramahan yang seharusnya menjadi identitas justru tidak selalu terasa.

Saya juga merasakan kegelisahan yang sama sejak lama saat mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Sumatera Barat.

Karena itu, Sadar Wisata tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ia harus menjadi gerakan bersama. Setiap orang yang terlibat dalam ekosistem pariwisata—mulai dari sopir, pedagang, pengelola destinasi, hingga masyarakat sekitar—adalah wajah Sumatera Barat itu sendiri.

Menjadi tuan rumah yang baik bukan sekadar soal sopan santun, tetapi soal kesadaran bahwa wisatawan adalah tamu yang membawa harapan dan kepercayaan. Mereka datang tidak hanya untuk melihat, tetapi untuk merasakan. Dan apa yang mereka rasakan akan menentukan apakah mereka akan kembali atau tidak.

Pemerintah daerah tentu memiliki peran penting dalam memperbaiki infrastruktur, menata destinasi, memperkuat promosi, serta meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi. Namun, keberhasilan pariwisata tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Ia membutuhkan perubahan pola pikir masyarakat.

Sumatera Barat perlu beralih dari pola pikir keuntungan sesaat menuju keberlanjutan. Dari aji mumpung menuju pelayanan. Dari sekadar objek wisata menuju pengalaman wisata.

Sumatera Barat bukan kekurangan pesona. Ia hanya sedang diuji, apakah ia mampu merawat, mengemas, dan menyajikannya dengan cara yang bermartabat. Jika tidak, maka keindahan itu akan menjadi ironi: dipuji dari jauh, tetapi ditinggalkan setelah dikunjungi.

Pariwisata Sumatera Barat harus terus berbenah. Bukan hanya demi meningkatkan angka kunjungan, tetapi demi menjaga marwah sebagai tuan rumah yang beradab. Sebab bagaimanapun juga, yang diingat wisatawan bukan hanya apa yang mereka lihat, tetapi bagaimana mereka diperlakukan.

Dan dari situlah masa depan pariwisata ranah ini ditentukan.

 

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis