SETIAP jiwa yang bernaung di bawah langit kehidupan pasti akan disentuh oleh ujian. Tidak ada manusia yang berjalan tanpa luka, tidak ada hati yang hidup tanpa pernah diguncang oleh kegagalan. Sebagaimana pohon tak pernah tumbuh tanpa diterpa angin, demikian pula manusia tidak pernah tumbuh tanpa cobaan. Inilah sunnatullah yang mengiringi perjalanan setiap hamba.

Namun, kemuliaan seorang insan/hamba tidak ditentukan oleh besarnya badai yang datang, melainkan oleh keteguhan hatinya dalam berdiri. Di antara pohon-pohon yang rapuh, selalu ada pohon yang kokoh karena akarnya menghujam dalam ke tanah. Di antara manusia yang goyah, selalu ada pribadi yang tegak karena imannya tertanam dalam. Maka, jadilah bagian dari mereka yang berdiri, bukan yang tumbang; yang tumbuh, bukan yang runtuh.

Kekuatan sejati bukanlah milik tubuh, harta, atau kedudukan. Ia adalah milik hati yang berserah. Milik jiwa yang sabar dalam ujian, ikhlas dalam kehilangan, dan tunduk dalam kelapangan. Pribadi yang kuat bukanlah mereka yang tak pernah jatuh, tetapi mereka yang menjadikan setiap kejatuhan sebagai tangga menuju kedewasaan spiritual dan kedekatan dengan Allah SWT.

BACA JUGA :  Bangkit Tanpa Keluh, Hidup Tanpa Dengki: Jalan Terbaik Menuju Kesucian Hati di Bulan Ramadhan

Sering kali manusia tidak disiksa oleh kehilangan, tetapi oleh keterikatan. Tidak dilukai oleh ketiadaan, tetapi oleh ketergantungan. Hati yang terlalu menggenggam dunia akan selalu gemetar oleh rasa takut kehilangan. Jiwa yang menjadikan dunia sebagai sandaran akan selalu gelisah dalam ketidakpastian.

Segala sesuatu menjauh dari kita sejauh kita membutuhkannya, dan segala sesuatu mendekat kepada kita sejauh kita tidak diperbudak olehnya. Bukan karena dunia berubah, tetapi karena hati kita yang berubah. Ketika hati merdeka dari ketergantungan, hidup menjadi lapang. Ketika jiwa bebas dari perbudakan ambisi, hidup menjadi tenang. Ketika sandaran hanya kepada Allah, dunia tidak lagi menakutkan.

BACA JUGA :  Nasehat KH Fadhlullah Marzuki: Hidup Bernilai Jika Membawa Manfaat

Bukan berarti kita meninggalkan dunia, tetapi kita menempatkannya di tempat yang semestinya. Dunia di tangan, bukan di hati. Dunia sebagai jalan, bukan tujuan. Dunia sebagai ladang amal, bukan berhala yang disembah dalam diam.

Menjadi pribadi kokoh bukan berarti tanpa air mata, tanpa lelah, tanpa sedih. Menjadi pribadi kokoh adalah tetap beriman saat hati diuji, tetap bersujud saat jiwa terluka, dan tetap berharap saat hidup terasa gelap. Itulah kekuatan sejati: kekuatan iman yang menenangkan, kesabaran yang menguatkan, dan tawakal yang membebaskan.

Maka bangunlah dirimu dengan akar iman yang menghujam, batang akhlak yang tegak, dan buah amal yang meneduhkan. Jadilah manusia yang kuat bukan karena dunia, tetapi karena Allah. Jadilah hamba yang kokoh bukan karena keadaan, tetapi karena keyakinan. Karena sejatinya, yang benar-benar teguh bukanlah yang tak pernah goyah, melainkan yang selalu kembali kepada-Nya.

BACA JUGA :  Dari Gerak Menuju Makna Ini Tentang Ibadah dan Akhlak

Kadang apa yang kita kejar dengan ambisi justru semakin menjauh, seolah takdir menutup jalannya. Sementara yang kita abaikan perlahan mendekat, hadir tanpa dipaksa, namun kita sendiri tak peduli. Padahal boleh jadi, justru yang kita acuhkan itulah yang Allah siapkan sebagai yang terbaik untuk hidup kita. Sebab tidak semua yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan, dan tidak semua yang terlihat indah adalah yang paling berkah

Oleh: K.H. Fadhlullah Marzuki, S.Pd, (Ustadz Fadel), Pimpinan Al Markaz Al Islamy Pesantren Darul Istiqamah Sinjai dan Ketua 1 MUI Sinjai.