Oleh Muhammad Subhan

SAYA beruntung memiliki guru-guru yang di masa sekolah tidak saja menerangkan pelajaran di depan kelas, tetapi juga selalu merekomendasikan buku-buku pengayaan untuk dibaca.

Saya dan siswa lainnya disuruh pergi ke perpustakaan, mencari buku yang dimaksud, lalu membacanya dengan sungguh-sungguh.

Tidak hanya buku, tetapi juga majalah yang rutin datang setiap bulan ke sekolah. Salah satunya majalah sastra Horison.

Dari majalah itulah benih kecintaan pada sastra mulai bertunas di benak saya.

Membaca bukan lagi sekadar tugas, tetapi telah menjadi pengalaman yang membuka banyak jalan ke pengetahuan.

Kenangan itu kembali terlintas ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengumumkan perubahan kebijakan penugasan siswa yang tidak lagi menekankan pada pengerjaan Lembar Kerja Siswa (LKS), tetapi membaca buku dan menulis resensi dari bacaan tersebut (baca kumparanNEWS edisi 16 Maret 2026: “Mendikdasmen Ubah Kebijakan Tugas Siswa: Tak Lagi LKS, Kini Wajib Membaca Buku”). Kebijakan ini bukan sekadar perubahan teknis dalam pembelajaran, tetapi langkah penting untuk menghidupkan kembali budaya literasi di sekolah.

Selama dua dekade terakhir, LKS atau Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) memang menjadi alat bantu pembelajaran yang cukup dominan di sekolah. Dalam praktiknya, tidak sedikit sekolah yang menjadikan LKS sebagai “jalan pintas” pembelajaran: siswa mengerjakan soal, guru memeriksa, dan proses belajar dianggap selesai.

Padahal, pendidikan tidak seharusnya hanya melatih siswa menjawab soal, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir, memahami gagasan, dan menafsirkan pengalaman.

BACA JUGA :  "Padangpanjang 999", Membaca Tubuh Ingatan Penyair Sulaiman Juned

Membaca buku memberikan ruang yang jauh lebih luas bagi perkembangan intelektual anak. Buku menghadirkan cerita, ide, dan perspektif yang memungkinkan siswa berimajinasi sekaligus berpikir kritis.

Ketika siswa diminta menulis resensi dari buku yang dibacanya, mereka tidak hanya mengingat isi bacaan, tetapi juga belajar merumuskan pendapat, menyusun argumen, dan mengekspresikan pemahaman mereka.

Kebijakan ini juga relevan dengan tantangan zaman.

Hari ini, anak-anak hidup dalam dunia yang sangat dekat dengan gawai. Banyak dari mereka lebih akrab dengan layar ponsel daripada dengan halaman buku. Waktu luang yang dahulu mungkin diisi dengan membaca kini sering tersedot oleh media sosial, permainan daring, atau video pendek yang datang tanpa henti.

Situasi ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sekolah harus hadir sebagai ruang yang menyeimbangkan kehidupan digital dengan pengalaman membaca yang mendalam.

Buku memberikan sesuatu yang tidak dimiliki gawai: keheningan berpikir, kedalaman refleksi, dan kesempatan bagi pembaca untuk menelusuri gagasan secara utuh.

Namun, kebijakan membaca buku tidak akan berjalan efektif jika tidak disertai dengan dukungan nyata dari sekolah.

Perpustakaan harus menjadi jantung literasi di lingkungan pendidikan. Buku-buku pengayaan perlu tersedia dalam jumlah memadai dan dengan ragam yang menarik. Mulai dari sastra, ilmu pengetahuan populer, biografi tokoh, hingga buku-buku inspiratif yang dapat memperluas cakrawala siswa.

Yang tidak kalah penting, buku-buku itu tidak boleh sekadar diam dan menjadi pajangan di rak perpustakaan. Guru perlu menggerakkan buku-buku tersebut melalui penugasan yang kreatif dan relevan dengan pembelajaran di kelas.

BACA JUGA :  Sekolah Rakyat -- Pertautan Asta Cita dan ‘Pengusaha Mengajar’ APINDO

Misalnya, siswa membaca buku tertentu lalu diminta menulis resensi, membuat catatan refleksi, atau mempresentasikan gagasan utama dari buku tersebut.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Literasi tidak cukup hanya diajarkan; ia harus diteladankan.

Guru yang rajin membaca akan lebih mudah menumbuhkan minat baca pada siswanya. Ketika guru berbicara tentang buku yang baru ia baca, ketika ia mengutip ide dari bacaan dalam proses pembelajaran, siswa akan melihat bahwa membaca adalah aktivitas yang hidup dan memberi kesan.

Pendidikan sejatinya tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kebiasaan intelektual. Salah satu kebiasaan terpenting adalah membaca. Dari membaca lahir kemampuan memahami apa saja, termasuk mampu menyusun gagasan, dan membangun imajinasi masa depan.

Program “Mudik Asyik Baca Buku” yang diprakarsai Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan membagikan puluhan ribu buku kepada anak-anak di berbagai titik transportasi publik adalah langkah simbolik yang patut diapresiasi. Pesan yang ingin disampaikan sederhana tetapi kuat: buku harus kembali hadir dalam kehidupan anak-anak kita.

Namun, pekerjaan besar tidak berhenti pada pembagian buku. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan buku-buku itu benar-benar dibaca, didiskusikan, dan menjadi bagian dari keseharian belajar.

Sekolah, guru, perpustakaan, dan keluarga perlu berjalan bersama dalam gerakan literasi ini. Anak-anak perlu melihat bahwa membaca bukan sekadar tugas sekolah, tetapi jalan untuk memahami kehidupan.

Jika kebijakan membaca buku ini dijalankan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan, sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal. Sekolah akan melahirkan generasi yang berpikir, bertanya, dan terus belajar sepanjang hayat.

BACA JUGA :  Makna, Hidup dari Menulis di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja

Dan mungkin, dari halaman-halaman buku itulah, akan tumbuh benih-benih masa depan yang lebih terang bagi bangsa ini.

Mengembalikan anak ke dunia buku adalah upaya menyelamatkan kedalaman berpikir generasi mendatang dari gempuran informasi yang serba instan. Kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang hanya tahu “kulit” namun hampa substansi.

Dengan buku, kita sedang membangun pondasi karakter yang kokoh, di mana imajinasi dan nalar berjalan beriringan untuk menjawab persoalan dunia yang kian kompleks.

Oleh karena itu, mari jadikan setiap sudut sekolah dan rumah sebagai oase literasi. Jangan biarkan buku-buku itu membisu dalam debu, melainkan biarkan ia bersuara melalui diskusi-diskusi hangat di meja makan dan ruang kelas.

Dukungan orang tua di rumah untuk mendampingi anak membaca adalah napas tambahan bagi kebijakan ini agar tidak layu sebelum berkembang.

Perjalanan ini memang panjang, melelahkan, dan penuh tantangan, namun hasilnya adalah investasi kemanusiaan yang tak ternilai harganya.

Ketika seorang anak mulai mencintai buku, ia sebenarnya telah memegang kunci untuk membuka jendela dunia.

Mari kita pastikan kunci itu tidak pernah lepas dari tangan mereka, agar mereka mampu melangkah dengan percaya diri menuju masa depan yang dicita-citakan.

 

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, bergabung dengan InsertRakyat.com sejak tahun 2026.