Oleh Muhammad Subhan

KALAU sudah tiba Ramadan dan Idulfitri, ada dua institusi besar di Indonesia yang menetapkan kapan mulai puasa dan berhari raya. Sering kali terjadi perbedaan dalam penetapan waktunya.

Kedua institusi dimaksud adalah organisasi Islam Muhammadiyah dan Kementerian Agama yang mewakili pemerintah. Tak jarang, karena perbedaan tersebut, sebagian masyarakat awam menjadi bingung harus mengikuti yang mana.

Pertanyaan pun muncul, mengapa Muhammadiyah sering kali lebih dulu mengumumkan, dan mengapa tidak ikut saja keputusan pemerintah demi kebersamaan dan persatuan umat?

Perbedaan ini bukan soal Muhammadiyah “tidak mau ikut”, melainkan perbedaan metode dalam memahami awal bulan Hijriah.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi), khususnya konsep wujudul hilal. Artinya, selama secara hitungan posisi bulan sudah memenuhi syarat—bulan sudah “ada” di atas ufuk setelah matahari terbenam—maka keesokan harinya dianggap telah masuk bulan baru.

Sementara itu, Kementerian Agama RI bersama banyak ormas lain menggunakan kombinasi hisab dan rukyat (pengamatan langsung hilal). Meskipun secara hitungan bulan sudah ada, tetap ditunggu apakah hilal benar-benar terlihat atau memenuhi kriteria visibilitas tertentu (imkanur rukyat).

Muhammadiyah sering lebih dulu mengumumkan keputusannya karena hisab dapat dihitung jauh-jauh hari secara pasti. Bahkan, jadwal Ramadan dan Idulfitri bisa ditetapkan untuk satu tahun atau lebih sekaligus.

Sebaliknya, pemerintah menunggu hasil sidang isbat dengan mempertimbangkan laporan rukyat dari berbagai lokasi, lalu menetapkan setelah ada kepastian observasi.

Akibatnya, keputusan pemerintah kerap diumumkan mendekati waktunya. Masyarakat pun menunggu dengan debar. Namun, dalam hal ini, bukan soal berbeda arah, melainkan berbeda pendekatan.

Muhammadiyah konsisten dengan manhaj (metode) ijtihadnya sendiri, dan dalam Islam, perbedaan seperti ini telah lama ada serta masih berada dalam ranah yang dibenarkan.

Meski berbeda, tujuan keduanya sama, yaitu menentukan waktu ibadah dengan tepat, memberi kepastian bagi umat, dan menjaga ketertiban pelaksanaan ibadah. Karena itu, perbedaan tidak semestinya melahirkan perpecahan. Umat Islam tetap harus saling menghormati.

Seperti awal puasa Ramadan tahun ini yang berbeda, Idulfitri pun demikian. Pemerintah melalui Kementerian Agama RI menetapkan Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, sementara Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan Jumat, 20 Maret 2026.

Keduanya tidak menjadi masalah. Yang menjadi soal adalah jika seseorang tidak berpuasa selama Ramadan, tetapi ingin berhari raya. Itu tentu tidak elok.

Dan, bila dikaji lebih dalam, Idulfitri bukan semata soal tanggal. Ia menuntun kita pada pemahaman yang lebih hakiki tentang diri.

Hari Raya Idulfitri adalah hari kemenangan. Namun, kemenangan yang sifatnya batiniah. Ia tidak kasat mata, tetapi nyata dirasakan.

Kemenangan itu tidak selalu tampak. Ia bukan seperti piala yang bisa diangkat atau prestasi yang diumumkan di hadapan banyak orang.

Ia tidak diukur dari seberapa banyak ibadah yang terlihat, atau seberapa meriah perayaan yang digelar.

Orang lain mungkin tidak tahu seberapa keras seseorang menahan amarahnya, mengalahkan egonya, atau memendam luka tanpa membalas. Kemenangan ini tersembunyi, tak bersuara, personal, dan sering kali hanya diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan.

Tanda pertama dari kemenangan itu adalah hati yang lebih lapang dan tenang. Hati yang lapang tidak mudah tersinggung, tidak lagi menyimpan dendam yang berat, serta mampu menerima kekurangan orang lain.

Seolah-olah ruang di dalam diri yang dahulu sempit oleh prasangka dan sakit hati, kini menjadi luas. Ada ruang untuk memahami, bukan sekadar menghakimi.

Selain itu, kemenangan juga terasa dalam perasaan yang lebih ringan. Ringan karena beban batin mulai dilepaskan. Memaafkan orang lain, bahkan ketika mereka tidak meminta maaf, adalah salah satu bentuk pembebasan itu.

Berdamai dengan masa lalu, melepaskan iri, dengki, dan penyesalan yang berlebihan, membuat jiwa tidak lagi terbebani.

Dendam ibarat memanggul batu. Semakin lama dibawa, semakin memberatkan. Ketika dilepaskan, tubuh dan batin terasa lega. Di situlah “ringan” menemukan hakikatnya.

Lebih jauh, kemenangan Idulfitri tampak dalam keadaan menjadi lebih manusia. Inilah bagian terdalam dari seluruh proses Ramadan.

Menjadi lebih manusia berarti kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan yang sejati: memiliki empati terhadap penderitaan orang lain, menumbuhkan kasih sayang, bersikap rendah hati, dan memiliki kepekaan sosial.

Ramadan melatih manusia untuk menahan diri dari lapar, dari amarah, dari keinginan yang berlebihan. Namun, Idulfitri menguji hasil latihan itu; apakah kita menjadi lebih lembut, lebih peduli, dan lebih bijaksana dalam memandang sesama?

Kemenangan Idulfitri bukanlah perubahan yang tampak di luar diri, melainkan transformasi yang terjadi di dalam diri. Ia terasa ketika kita menjadi lebih sabar dari sebelumnya, lebih mudah memaafkan, dan lebih tulus dalam memperlakukan orang lain.

Jika setelah Idulfitri seseorang menjadi lebih damai, lebih peduli, dan lebih jernih dalam melihat hidup, di situlah kemenangan itu benar-benar hadir. Bukan pada riuh gemuruh takbir semata, melainkan pada keheningan yang menenangkan di dalam jiwa.

Perbedaan tanggal hanyalah angka di atas kalender yang tak semestinya meretakkan ukhuwah. Esensi Idulfitri adalah tentang kepulangan menuju fitrah, di mana kasih sayang jauh lebih tinggi daripada sekadar kebenaran metode perhitungan.

Mari rayakan kemenangan ini dengan saling merangkul, sebab dalam kelapangan hati, perbedaan tak lagi menjadi jarak, melainkan rahmat yang memperkaya hakikat ibadah kita.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis