Oleh Muhammad Subhan
SAYA sering menjadi tempat curhat teman-teman pegiat literasi yang baru membangun komunitas. Problemnya bermacam-macam.
Dan, saya lebih banyak mendengar, sedikit menguatkan dengan motivasi, bahwa kebertahanan adalah “koentji” jika ingin sukses berada di jalan kerelawanan ini.
Ya, dasarnya relawan.
Kata relawan berarti seseorang yang secara sukarela melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan tanpa mengharapkan imbalan (gaji atau bayaran). Relawan terlibat dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, pendidikan, atau kebencanaan. Relawan adalah orang yang mau membantu dengan ikhlas.
Menjadi ikhlas itu tentu berat. Tidak mudah. Godaannya tak sedikit. Ujiannya tak ringan.
Maka, di saat beberapa teman pegiat komunitas literasi mulai goyah ketika berhadapan dengan berbagai ujian itu, saya berupaya menguatkan. Saya ajak kembali ke niat semula, untuk apa mendirikan komunitas literasi?
Motivasinya bermacam-macam. Bahkan tak sedikit yang memiliki visi dan misi jauh ke depan. Namun, ketika mulai berhadapan dengan ujian, lambat laun surut dan balik kanan.
Tak sedikit pula di antara mereka yang menyerah, angkat bendera putih, kemudian mengubur impian dan cita-cita.
Saya banyak melihat potret itu.
Ujian paling berat adalah ketika sebuah komunitas telah memiliki sumber-sumber pendanaan, relasi, atau prestise yang lebih baik dari sebelumnya, tetapi justru melahirkan kecemburuan sosial di antara pengurus atau anggota. Komunikasi tidak lagi semilitan seperti semula komunitas digagas—di saat belum punya apa-apa. Mulai ada yang ditutupi. Mulai ada kepentingan-kepentingan yang tidak terbuka.
Gesekan-gesekan personal antar-pengurus dan anggota pun tak sedikit yang menyebabkan keretakan organisasi. Dari luar tampak baik-baik saja, tetapi di dalamnya retak seperti tanah kering diterpa kemarau yang menunggu hujan. Sedikit saja tersiram konflik, pecahnya melebar ke mana-mana.
Di titik inilah, banyak komunitas literasi sebenarnya tidak kalah oleh kekurangan dana atau minimnya fasilitas, melainkan oleh rapuhnya ketahanan batin para penggeraknya.
Kita sering terlalu fokus membangun program, tetapi lupa membangun kedewasaan dalam berproses. Kita sibuk merancang kegiatan, tetapi lalai merawat hubungan.
Padahal, kerja-kerja literasi adalah kerja jangka panjang.
Ia bukan perlombaan lari cepat, melainkan maraton yang menguji napas, ritme, dan kesabaran. Tidak ada hasil instan.
Bahkan sering kali tidak ada tepuk tangan. Yang ada justru kelelahan, rasa jenuh, dan pertanyaan yang datang diam-diam, untuk apa semua ini dilakukan?
Di sinilah pentingnya memaknai ulang kelelahan.
Lelah bukan tanda untuk berhenti selamanya, melainkan isyarat untuk rehat sejenak. Ngantuk bukan alasan untuk menyerah, tetapi panggilan tubuh untuk memulihkan diri. Dan ngopi, dalam pengertian paling sederhana, adalah ruang untuk jeda, untuk bercakap, untuk menertawakan kembali hal-hal yang sempat terasa berat.
Jika tak suka ngopi, bisa ngeteh, ngemil, atau hal lain yang menyenangkan diri. Setidaknya itu guyon di saat ujian mulai datang.
Kerja kerelawanan sering kali terlalu serius. Kita memikulnya seolah-olah seluruh beban dunia ada di pundak kita. Padahal, dalam kesederhanaannya, kerja ini justru membutuhkan keluwesan. Sedikit tawa, sedikit santai, sedikit jeda, agar api semangat tidak cepat padam.
Banyak komunitas gulung tikar bukan karena tidak punya program, tetapi karena kehilangan suasana. Kehangatan perlahan hilang. Pertemuan berubah menjadi formalitas. Diskusi berubah menjadi saling curiga.
Dan yang paling menyedihkan, niat baik berubah menjadi ajang pembuktian siapa yang paling benar.
Di tengah situasi seperti itu, kembali ke awal menjadi penting. Mengingat lagi alasan paling konyol mengapa dulu semua ini dimulai?
Mungkin hanya karena ingin melihat anak-anak membaca buku. Mungkin hanya karena ingin menghadirkan ruang belajar yang ramah. Atau mungkin karena kegelisahan pribadi yang ingin disalurkan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Niat itulah yang sering kali lebih tahan lama daripada ambisi besar yang tidak diimbangi kesiapan batin.
Selain itu, transparansi dan komunikasi menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar. Ketika komunitas mulai tumbuh, justru di situlah keterbukaan harus diperkuat. Setiap capaian, setiap bantuan, setiap peluang harus menjadi milik bersama, bukan segelintir orang.
Jika tidak, benih-benih kecurigaan akan tumbuh subur dan perlahan merusak dari dalam.
Kerja kolektif menuntut kedewasaan kolektif.
Tidak semua orang harus sepakat dalam segala hal, tetapi semua harus sepakat untuk menjaga tujuan bersama. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, bahkan sehat, selama tidak berubah menjadi konflik personal yang menggerus kepercayaan.
Soal kebertahanan dan kerelawanan, saya banyak belajar pada Kuflet, komunitas seni yang berusia 27 tahun di Padang Panjang—lebih dari seperempat abad—yang didirikan Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., seorang penulis, penyair, dan sutradara teater. Sampai hari ini, Kuflet terus bergerak dengan program-program literasinya; mulai dari diskusi rutin setiap pekan, penerbitan buku sastra, pertunjukan teater, tur literasi ke berbagai kota, hingga mendampingi pelajar ke sekolah-sekolah melalui berbagai kerja sama.
Kebertahanan Kuflet menunjukkan bukti bahwa meski tanpa anggaran yang melimpah, mereka dapat terus bergerak karena kreativitas yang lahir dari hati. Mereka tidak hanya membangun capaian fisik, tetapi juga membangun ikatan emosional yang kuat sebagai bahan bakar untuk memperpanjang napas keberlanjutan.
Menjadi relawan literasi adalah memilih jalan yang tak mudah. Jalan sepi penuh onak dan duri. Jalan yang tidak selalu terang, tidak selalu dihargai, dan tidak selalu dipahami.
Tetapi justru di situlah letak nilai perjuangannya; bahwa apa yang dikerjakan bukan semata-mata untuk dilihat, melainkan untuk dirasakan dampaknya, meski perlahan.
Memang, tak ada karpet merah untuk pegiat literasi, apalagi riuh tepuk tangan. Namun, sepanjang ia teguh di jalan pengabdian itu, di saat semua orang memutuskan untuk pergi, di situlah nilai keteguhannya diuji. Karya dan capaian-capaian yang terus ia tempuh akan menjadi “karpet merah” baginya, yang kelak membukakan banyak jalan ke pintu mana saja.
Tetaplah merawat nyala itu dengan cara yang paling elegan dan manusiawi. Sekali lagi, jika lelah datang, bawalah rehat. Jika ngantuk, berhenti sejenak. Jika penat mengendap, ajak kawan ngopi, bercerita, dan tertawa. Seasyik itu saja.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Dapatkan berita terbaru InsertRakyat.com melalui Whatsapp chanel














